RSS Feed

A Little Fairytale From Bromo

Posted on

Memanjakan mata dengan keindahan matahari terbenam, itu sudah biasa. Tapi mensyukuri anugerah Sang Pencipta dalam bentuk sunrise, bagi seorang morning sleeper seperti saya ini, bisa dibilang jarang-jarang terjadi.

Penat dengan rutinitas yang jika terus diikuti bisa-bisa bikin badan ambruk, akhirnya saya memutuskan ‘menghilang sejenak’ ke Bromo, Jawa Timur. Sudah lama saya mengincar Bromo sebagai salah satu destinasi wisata wajib kunjung di Indonesia. Selain karena legenda-nya yang sudah akrab di telinga sewaktu saya duduk di sekolah dasar, tentu saja karena pesona sunrise-nya yang konon kesohor hingga mancanegara.

Bromo : Romansa Roro Anteng dan Joko Seger

Alkisah di jaman dulu, di sebuah desa di dekat Bromo, hidup seorang perempuan cantik bernama Roro Anteng. Nama ini diambil karena konon dia tidak menangis saat dilahirkan (dalam bahasa Jawa, anteng berarti diam). Banyak pria tertarik padanya, tak terkecuali seorang raksasa yang bersikeras melamar Roro Anteng. Si raksasa mengancam, jika Roro Anteng menolak, maka dia akan membuat bencana.

Dengan terpaksa, Roro Anteng mengajukan syarat agar si raksasa membuatkan danau dalam waktu semalam.  Syarat itu diterima si raksasa. Dengan  memakai batok kelapa, ia bersemangat mengeruk tanah untuk dijadikan danau. Melihat upaya si raksasa, tak pelak kekhawatiran menghampiri Roro Anteng. Perempuan itu kemudian memukul-mukul alu untuk mengesankan hari sudah pagi dan ayam pun berkokok.

Si raksasa yang kesal, akhirnya membanting batok yang digunakannya itu dan bernjak pergi. Batok pun berubah jadi gunung yang sekarang disebut sebagai Gunung Batok, sedangkan bekas galiannya menjadi Segara Wedi atau hamparan pasir luas di sekitarnya.

Lepas dari ancaman si raksasa, Roro Anteng pun menikah dengan pemuda tampan bernama Joko Seger. Sayangnya, meski telah sekian tahun bersama, mereka tak kunjung dikarunia keturunan. Mereka lantas bernazar, akan mengorbankan salah satu anaknya jika nanti memiliki keturunan. Singkat cerita, permintaan itu dikabulkan para dewa, dan mereka harus memenuhi janjinya. Nazar pun dilaksanakan, keluarga Joko Seger menuju kawah Bromo dengan membawa serta berbagai macam sesajen hasil bumi. Salah satu anak mereka pun lantas terjun ke kawah.

Joko Seger dan keluarganya hidup berbahagia di sekitar Bromo. Keturunan mereka sekarang kita kenal dengan nama Suku Tengger, penggabungan dari nama Roro Anteng dan Joko Seger. Setiap tahun, di tanggal 14 atau 15 bulan Kasada dalam penanggalan Jawa, mereka masih melaksanakan upacara adat dan menggelar ritual membuang sesajen ke kawah Bromo.

A Trip to Bromo : Perjalanan dan Penginapan

Dari Solo, kami sengaja memilih naik mobil hingga ke Bromo. Tentu saja keputusan ini dipilih dengan alasan lebih hemat daripada saya dan rombongan yang berjumlah 8 orang harus naik transportasi umum lainnya, seperti kereta ekonomi yang dilanjutkan dengan bison.

Setelah sekitar 10 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di penginapan saat waktu hampir menunjukkan pukul 12 malam. Dengan jumlah orang yang tidak sedikit, lagi-lagi dengan alasan penghematan, kami memutuskan menginap di vila milik warga Ngadisari. Vila yang bisa dihuni 7-10 orang tersebut tak jauh beda dengan rumah warga umumnya, dilengkapi dengan 3 kamar tidur dan 2 ekstra bed, 2 kamar mandi yang memiliki fasilitas air hangat, serta dapur dan free air di galon, kami mendapatkannya dengan harga 650 ribu rupiah per malam. Cukup murah bagi rombongan, mengingat harga kamar kelas ekonomi (fasilitas shared bathroom air dingin, kamar untuk 2 orang) di hotel backpacker pun sekitar 190 ribu per malam. Letaknya pun cukup strategis, di belakang Hotel Yoschi yang sudah melegenda di kalangan para backpacker atau sekitar 3 kilometer dari pintu masuk Taman Nasional Bromo Semeru.

Mengagumi Pesona Bromo

Petualangan di Bromo dimulai jam 3 pagi saat kami dijemput oleh jeep sewaan. Berkeliling Bromo tak bisa dilakukan dengan mobil sembarangan, maklum medannya lumayan curam dan berliku. Persewaan jeep ini diwadahi oleh kelompok yang dikelola oleh masyarakat setempat, jadi soal harga memang sudah disepakati bersama. Untuk mengunjungi 2 obyek wisata, yaitu melihat sunrise di Pananjakan dan ke kawah Gunung Bromo, persewaan jeep mematok harga 350 ribu. Sedangkan, jika ditambah ke bukit teletubbies (savana) dan padang pasir watu singo (pasir berbisik), satu jeep berkapasitas hingga 6 penumpang ini bisa disewa seharga 500-550 ribu rupiah. Ini belum termasuk tiket masuk kawasan Taman Nasional Bromo Semeru yang sekarang dipatok seharga Rp 12 ribu / wisatawan domestic dan Rp 68 ribu / wisatawan asing.

Sunrise Pananjakan

Matahari terbit adalah primadona wisata Bromo yang konon keindahannya sudah mendunia. Meski telah berangkat sejak pukul 3 dini hari, ternyata ribuan orang telah memadati Puncak Pananjakan untuk misi yang sama : menyambut datangnya sang mentari di hari yang baru. Sayangnya, kami datang di saat kurang tepat, saat kabut terlalu tebal dan cuaca pagi agak mendung. Alhasil, hanya semburat kemerahan yang kami dapatkan, dan matahari yang malu-malu meninggi dari balik awan.

Sayang sungguh sayang, padahal kami berekpektasi lebih dari itu. Matahari yang muncul dengan anggunnya, lalu menerangi dunia secara perlahan, membuat kami terpesona dengan keindahan alam Bromo , Gunung Batok, dan Gunung Semeru, rupanya masih menjadi angan yang belum kesampaian.

Memulai perjalanan pada dini hari, di gunung, tentu hawanya dingin luar biasa. Jangan lupa siapkan jaket tebal, jika perlu ditambah syal, sarung tangan, dan penutup kepala. Jika terlupa, sekitar pukul 2 pagi di sekitar vila biasanya ada pedagang yang menjajakan barang-barang tersebut. Harganya masih masuk akal, sekitar 5 ribu untuk sepasang sarung tangan atau 20 ribu untuk satu paket berisi sarung tangan, syal, dan topi. Masih terasa dingin? Tenang saja, di parkiran jeep menuju Pananjakan, akan ada orang-orang yang menyewakan jaket seharga 10 ribu per biji.

Mengingat banyaknya orang yang tertarik melihat matahari terbit di Bromo, jika kita terlambat sedikit saja, parkiran jeep bisa sangat jauh dari spot Pananjakan. Tak heran, beberapa tukang ojek sudah siap sedia menawarkan jasanya begitu kita turun dari jeep. Biayanya bervariasi antara Rp 10-20 ribu sekali jalan, beberapa di antaranya bahkan menawarkan jasa penjemputan juga. Di pinggir jalan mendekati spot Pananjakan, bertebaran lah warung-warung kecil yang menjual cinderamata, syal, kaos, makanan ringan, kopi, mie instan, hingga jagung bakar.

Kawah Bromo

Sekitar pukul 7 pagi, perjalanan pun dilanjutkan menuju Kawah Bromo. Dari Pananjakan, jeep membawa kami “turun gunung” dengan melewati jalanan berliku yang cukup curam dan padang pasir luas. Seiring datangnya pagi, pemandangan di kiri-kanan jalan kini terlihat jelas dan sangat memanjakan mata. Sinar matahari berpadu kabut menelusup di sela-sela pepohonan, sementara di kejauhan, Gunung Bromo-Batok-Semeru pun seolah sudah siap menyambut para wisatawan.

Sesampai di kawasan Gunung Bromo, kita bisa menjumpai sejumlah warga yang menuntun atau menaiki kuda. Di parkiran jeep, mereka tak segan menawarkan jasa mengantarkan kita ke lereng Bromo dengan kuda. Maklum, untuk mereka yang tidak terbiasa jalan kaki, jarak dari parkiran jeep menuju kawah Bromo bisa dibilang cukup melelahkan. Biasanya, para tukang kuda ini menawarkan tarif sekitar 120 ribu rupiah per kuda, tergantung besar-kecilnya si kuda. Namun, harga ini bisa ditawar hingga kita cukup membayar 80 ribu rupiah saja untuk perjalanan bolak-balik dari parkiran hingga ke kawah.

Sebenarnya, kuda tidak mengantar kita sampai benar-benar di bibir kawah. Kita hanya akan diantar hingga lereng, di dekat 250 anak tangga yang harus kita daki untuk mencapai puncak dan melihat kawah. Tukang kuda akan member secarik kertas bertuliskan namanya dan ia akan menunggu kita di tempat yang telah disepakati.

Lumayan ngos-ngosan juga mendaki anak-anak tangga yang dicat kuning tersebut, makanya sangat disarankan membawa air mineral dan pintar-pintar lah mengatur napas. Di sepanjang anak tangga menuju kawah, ada dua titik tempat pemberhentian untuk kita menepi dan mengatur napas. Tapi percayalah, meski napas sedikit tersengal, pemandangan yang tersaji di sekitarnya yang berupa hamparan pasir, kabut, dan gunung, bisa menjadi obat lelah paling mujarab. Belum lagi ketika sampai di tepi kawah, segala rasa capek seakan luruh. Bau belerang mungkin akan sedikit menyengat, tapi tak apa, cepat-cepatlah berfoto ria karena bibir kawah cukup sempit membuat kita tak boleh serakah berlama-lama di sana, sementara ribuan pengunjung yang lain juga ingin melakukan hal yang sama. Ingat, berhati-hati lah karena bibir kawah cukup curam. Meski ada pagar pembatas, tapi sangat tidak disarankan untuk menyandarkan tubuh di sana.

Ketika turun dari kawah, melewati anak tangga yang sama, beberapa orang tampak menjajakan bunga edelweiss yang telah dirangkai sedemikian rupa. Selain itu, ada juga yang menyediakan minuman dan makanan ringan, yang membuka “warungnya” dengan menata beberapa bangku. Cukup menyenangkan jika kita ingin beristirahat sejenak, sembari minum dan mengobrol dengan kawan.

Pura Luhur Poten

Menyewa kuda bisa menjadi alternatif menghemat tenaga, tapi jika kita memiliki banyak waktu dan menggemari fotografi, alangkah baiknya perjalanan ke kawah Bromo dilalui dengan jalan kaki. Banyak obyek menarik yang bisa diabadikan, seperti para tukang kuda, penjaja edelweiss, alam Bromo, hingga aksi para wisatawan itu sendiri.

Dalam perjalanan kembali menuju parkiran jeep, mampirlah sebentar ke Pura Luhur Poten. Pura yang terletak di tengah lautan pasir ini didirikan pada tahun 2000  dan menjadi tempat pemujaan Dewa Brohmo (Dewa Brahma). Nama Bromo memang diambil dari nama Brohmo, dan  pura tersebut, oleh masyarakat Hindu Tengger, dianggap sebagai manifestasi tempat pemujaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Sang Pencipta.

Di hari-hari biasa kita memang tidak bisa memasuki areal pura. Tapi tak apa, cukup menengok sebentar untuk sedikit mengetahui budaya masyarakat setempat yang masih memegang teguh nilai-nilai leluhurnya.

 

Savana

Perjalanan kemudian kami lanjutkan ke savanna di kawasan Bromo. Padang rumput ini lebih dikenal dengan nama Bukit Teletubbies karena bukit-bukit di sekitarnya nampak seperti kampung halaman kuartet  Dipsy, Laa-Laa, Po, dan Tinky Winky.  Kita harus melewati padang pasir terlebih dahulu sebelum menjejakkan kaki di savanna. Bersiaplah menemukan sensasi layaknya off road di sepanjang jalan, apalagi jika kita dibawa oleh driver yang sudah berpengalaman dan paham betul adrenalin anak muda.

Savanna ini menjadi tempat yang tak kalah keren untuk mereka yang hobi difoto. Sebenarnya, tak melulu hamparan rumput menghijau, namun ilalang kekuningan dan langit biru yang luas berhasil membuat komposisi tepat yang memanjakan visual.

 

Watu Singo

Tujuan terakhir dari petualangan di Bromo adalah Watu Singo. Nama Watu Singo diambil karena di tengah gurun pasir tersebut ada batu yang bentuknya menyerupai seekor singa sedang duduk bersantai. Kawasan Watu Singo juga sering disebut sebagai daerah Pasir Berbisik, karena konon jika didengarkan seksama, pasir-pasir yang berhembus di sana seolah sedang membisikkan sesuatu. Tips terbaik adalah jangan terlalu siang mengunjungi tempat ini, sebab kabut yang meninggi akan membatasi penglihatan kita dan angin pun akan bertiup lebih kencang menerbangkan butiran-butiran pasir seiiring dengan beranjaknya sang waktu ke pertengahan hari.

 

Berhitung Biaya di Bromo

Sekarang saatnya berhitung pengeluaran saya selama menjalani trip di Bromo. Dengan memegang teguh prinsip kere hore, saya kira pengeluaran per orang  ini cukup masuk akal dan tak membuat kantong kempes.

Sewa vila : Rp 650.000 / 9 orang —-> @Rp 72.200

Sewa jeep untuk 4 tujuan : Rp 550.000 / 4 orang —–> @Rp 137.500

Tiket masuk Taman Nasional Bromo Semeru —-> @Rp 12.000

Naik kuda —–> @Rp 80.000

Total pengeluaran (belum termasuk makan dan biaya perjalanan dari Solo ke Bromo dan sebaliknya)  +/- Rp 301.200

Memori 13 Mei

Posted on

GambarSore itu tanggal 13 Mei 1998, saya bersiap mengikuti les di salah satu tempat pendidikan bahasa di pusat kota Solo. Diantar oleh ibu dengan menggunakan sepeda motor, tak seperti biasanya jalanan sedikit lengang. Tapi anehnya, beberapa ruas jalan tampak berantakan. Semakin ke pusat kota, semakin banyak warga yang berkumpul di pinggir jalan, banyak gedung yang kacanya pecah, ada bebatuan yang berserakan di jalan, dan beberapa asap mengepul dari ban-ban yang sengaja dibakar. Otak saya masih tidak tahu apa yang terjadi, dan saat itu tidak pernah mengira apa yang saya saksikan hari itu akan menjadi salah satu sejarah penting bagi bangsa ini.

Saat saya tiba di tempat les yang berlokasi di Jalan Slamet Riyadi, banyak orang berseru “Sudah sampai Pasar Nongko,” “setelah ini menuju Gladak,” dan lain-lain. Masih belum mengerti juga apa maksudnya, hingga saya sadar bangunan tempat saya belajar sudah nyaris tak punya kaca lagi. Pecah dan berserakan. Orang-orang di sana bilang, barusan dilempari batu oleh orang-orang tak dikenal.

Urung les, ibu langsung mengajak saya pulang. Kemudian saya tahu, di kota tempat saya dibesarkan itu sedang terjadi kerusuhan. Detik demi detik yang berlalu semakin mencekam. Kabar simpang siur terdengar, yang paling sering adalah bangunan-bangunan dan pusat pertokoan yang dibakar. Kawasan Coyudan, Mall Singosaren, pusat perbelanjaan Super Ekonomi, Matahari Beteng, dll satu per satu mulai dijarah massa dan hangus terbakar. Yang mengerikan, terdengar kabar beberapa orang diperkosa dan ada pula yang terpanggang hidup-hidup di dalam bangunan yang dibakar itu. Jam malam pun diberlakukan. images

Keesokan harinya tak jauh beda. Pagi-pagi saat berangkat sekolah, jalanan lebih berantakan dari biasanya. Rasanya senyap, miris, dan mencekam. Tak seperti pagi-pagi sebelumnya. Tak cukup ban yang terbakar, dengan masih menyisakan asap yang mengepul dan sedikit api. Tapi, saya melihat mobil, rumah, dan beberapa toko bernasib sama. Solo pagi itu begitu sepi dan dingin. Muram.

Siangnya, ada demonstrasi para mahasiswa di kampus UNS. Saya sempat melihat ratusan dan mungkin ribuan mahasiswa duduk di jalan raya di depan kampus, membawa spanduk dan poster-poster berisi protes dan hujatan, sambil mendengarkan orasi rekannya. Berpuluh-puluh aparat keamanan mengelilingi mereka, berjaga dengan senjata dan gas air mata. Di otak anak SD saya waktu itu, saya belum menyadari apa yang saya lihat hari itu adalah salah satu potret yang akan mengubah wajah demokrasi negeri ini.

Kampus sibuk dengan protes kaum intelektual, menuntut reformasi dan mundurnya Soeharto. Sementara, di jalanan rakyat makin tak terkendali. Kerusuhan menyebar hingga pinggiran dan daerah-daerah di sekitar Solo. Sebagai salah satu contohnya, saya melihat sendiri bagaimana orang yang entah dari mana itu tiba-tiba datang dengan teriak-teriak meracau, membawa semacam alat pemukul dan tongkat, kemudian menggedor-gedor pintu tetangga saya yang kebetulan beretnis Tionghoa. Kami yang tetangganya saja tidak pernah bermasalah dengan si pemilik toko, tapi massa yang tidak dibukakan pintu langsung saja memanjat tembok rumah, mendobrak pintu toko, kemudian keluar dari sana dengan menari-nari membawa barang-barang jarahan. Hal yang sama juga terjadi di salah satu supermarket di dekat rumah. Massa yang berjalan dari arah supermarket itu pasti membawa tentengan barang jarahan, dari baju, sembako, hingga alat-alat elektronik.

Satu hal yang pasti masih membekas hingga kini : rasa nyeri ! Ngeri melihat massa yang brutal waktu itu. Saya seperti tak lagi melihat orang-orang Solo yang terkenal ramah. Tiba-tiba mereka berubah menjadi bengis dan tak beradab. Memang tidak semua orang Solo dan sekitarnya menjadi demikian, tapi tetap saja aksi massa itu sukses membentuk sebuah trauma tersendiri bagi warga. Yang membuat miris, katanya para pelaku itu sebenarnya tak paham benar alasan mereka berbuat demikian alias hanya terpancing emosi dan provokasi. Parahnya lagi, sebagian besar dari mereka konon justru bukan warga asli Solo sendiri. Alamak!

imagesaaaSedih rasanya kota damai tempat tinggal kita menunjukkan wajah lainnya. Kata orang, Solo bersumbu pendek. Kelihatannya saja santai dan tenang, orang-orangnya halus dan berprinsip alon-alon waton kelakon. Tapi, begitu meledak, Solo akan jadi barometer bagi beberapa sektor di negeri ini, khususnya di bidang politik. Begitu Solo membara, tinggal tunggu waktu saja hal yang sama akan terjadi di kota-kota lainnya, termasuk di ibukota Jakarta. Itulah yang terjadi saat itu yang kemudian berdampak nasional dan terkenal dengan rangkaian peristiwa Mei 1998.

Kini, 15 tahun berlalu dan kehidupan masyarakat Solo kembali normal. Ekonomi sudah tumbuh, kota semakin maju, dan pembangunan di mana-mana. Secara fisik, bisa dikatakan Solo sudah pulih. Tapi, bagaimana dengan psikologinya? Apakah masyarakat Solo semakin solid atau justru masih rentan dan berpotensi meledak lagi?

Melongok Wayang Orang di Sudut Metropolitan

Posted on

wayang orang bharata

Menghabiskan akhir pekan di Jakarta memang menghadirkan seribu pilihan. Tapi bagi mereka yang belum berkeluarga, sebagian besar pilihan tersebut  memang tak jauh dari kesan hura-hura. Pernah terpikir menghabiskan Sabtu, tapi tetap dengan nuansa tradisi? Entah dengan alasan sekedar beromantisasi tentang daerah asal atau hanya  untuk mengapresiasi salah satu simbol budaya bangsa ini.

Di tengah hiruk-pikuk dan segala keruwetan ibukota, cobalah menuju bilangan Senen, Jakarta Pusat. Tepat beberapa meter di sebelah kanan Terminal Senen, berdiri sebuah bangunan tua bernama Gedung Wayang Orang Bharata. Yupz, jika ingin berakhir pekan dengan cara yang lain dari biasanya, menghabiskan malam minggu dengan menonton wayang orang bisa menjadi alternatif tersendiri.

Pertunjukan wayang orang yang mengambil lakon dari kisah Ramayana dan Mahabarata memang sudah ada sejak abad ke-18.  Namun, di tempat ini seni tradisional tersebut mulai hadir sekitar tahun 1970-an. Menurut pimpinan kelompok Wayang Orang Bharata, Mbah Marsam, pertunjukan wayang wong tak lepas dari pasang surut. Tak heran, kelompok ini sempat vakum di awal tahun 2000 karena gedung pertunjukannya harus direnovasi sebagai salah satu upaya menjaring lebih banyak penonton. Sejak tahun 2006, WO Bharata kembali hadir menyapa masyarakat dengan manggung setiap hari Sabtu jam 20.00 WIB.

Sama halnya dengan berbagai seni budaya bangsa ini, pertunjukan wayang orang sangat sarat filosofi. Dalam pertunjukkan yang menggabungkan seni tari, drama, vocal, hingga tata rias dan panggung, setiap cerita yang ditampilkannya tak hanya bertutur mengenai kisah asmara, melainkan juga lakon kehidupan yang cukup kompleks. Dalam pertunjukan wayang wong, ada berbagai pelajaran yang bisa dipetik, seperti unggah-ungguh, budi pekerti, strategi perang, kenaifan cara pandang manusia, dan lain-lain.

Tertarik menonton pertunjukan wayang orang sebagai pilihan melepas penat? Gampang saja, tinggal angkat telpon untuk reservasi tiket atau langsung datang ke tempat pertunjukan sebelum pagelaran berlangsung. Di gedung full AC yang bersih dan jauh dari kesan seram ini,  tiket dijual dengan harga bervariasi antara Rp 40.000 hingga Rp 60.000. Uniknya, meski tiket bisa dipesan jauh-jauh hari, calon penonton tak perlu repot transfer uang tanda jadi seperti halnya reservasi tiket umumnya. Maklum, sistem saling percaya masih dipegang kuat di sini. Hebatnya lagi, tiket pertunjukan hampir bisa dipastikan selalu sold out setiap minggunya.

Pementasan wayang wong akan disajikan dalam durasi kurang lebih 2 jam, bahkan bisa molor jika para penonton sangat antusias. Tapi jangan khawatir kelaparan, mie ketoprak yang dijual di depan gedung sangat direkomendasikan menjadi menu andalan yang bisa sewaktu-waktu dipesan sebagai pengisi perut.

Untuk mereka yang berasal dari Jawa, pertunjukan ini bisa menjadi hiburan tersendiri yang bisa membawa kembali serangkaian memori dari kampung halaman. Cerita yang ditampilkan setiap minggunya selalu berbeda-beda, namun keseluruhannya dikemas dalam bahasa Jawa kromo inggil dan berbalut gendhing-gendhing Jawa dari yang halus hingga yang rancak. Mungkin, roaming bahasa ini akan menyulitkan mereka yang tidak mengerti bahasa Jawa, tapi yang jelas tidak menyurutkan para penonton dalam menikmati setiap kisah yang ditampilkannya. Dalam beberapa pertunjukannya, WO Bharata bahkan menggandeng sanggar-sanggar lain dan menampilkan bintang tamu, baik dari kalangan budayawan maupun selebriti.

Eksistensi seni tradisional di tengah modernitas warga kota metropolitan tak cukup sekedar diacungi jempol. Sejuta apresiasi layak diberikan sebab tak banyak yang bisa bertahan hingga sekian dekade seperti halnya wayang orang Bharata. Memang, seni ini tak bisa dijadikan tumpuan sumber penghasilan para pemainnya. Namun, jika budaya adalah warisan leluhur yang tak ternilai harganya, maka sepatutnya kita pun ingat jangan sampai seni tradisional seperti ini justru tergerus jaman dan hilang di negaranya sendiri, bukan?

——————————————————————

Notes :

Gedung Bharata Purwa
Jl. Kalilio 15, Senen, Jakarta Pusat
Telp. 021-4244442
Harga tiket : VIP Rp 60.000,- | Kls-1 Rp 50.000,- | Balkon Rp 40.000,-
(Reservasi dapat menghubungi Yunus /  08561211842)
Untuk jadwal dan info lainnya, silakan follow twitter @wobharata

Lalu, siapa saya?

Posted on

GambarTiba-tiba pertanyaan ini kembali terlintas di kepala. Tepat di penghujung senja, ketika jam pulang kantor-nya orang-orang kantoran tiba. Jam segini, pulang kantor lebih cepat dari jadwal yang seharusnya memang sedikit menggelikan, dan saya pun makin ingin terbahak ketika pertanyaan ini muncul di kepala.

Apa yang akan orang ingat tentang saya? Ah, menebak-nebak seperti itu terkadang amatlah lucu. Maklum, beberapa bulan terakhir saya memang sedang memiliki resistensi tinggi terhadap bagaimana pandangan orang lain, first impression, strereotip, atau apalah itu yang berbau-bau menilai orang lain. Tapi, kemudian persoalannya adalah pertanyaan tersebut dikatakan oleh diri sendiri pada diri sendiri. Siapa saya?

Jawabannya entah. Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang untuk menjawabnya dibutuhkan waktu seumur hidup.

Sejauh ini, yang saya tahu adalah saya bukan siapa-siapa. Saya bukan anak orang kaya, bukan dari keluarga ningrat, bukan orang yang terlalu religius, bukan seseorang yang selalu ceria dan ramah pada siapa saja. Mungkin saya hanya perempuan dari kota kecil yang sedang mengejar mimpinya di ibukota. Saya bukan orang jahat, tapi juga bukan manusia berhati bak malaikat. Saya adalah saya yang (kadang) absurd.

No one can break your dream

Posted on
Go and catch your dream, hey you dreamcathers !

Go and catch your dream, hey you dreamcathers !

Impian terbentuk tak hanya karena keinginan semata, tapi juga representasi harapan, pengukuran terhadap kemampuan diri, hingga mungkin ekspresi dari kekecewaan terhadap realita yang ada. Harapan yang akan terwujud dalam karya, begitulah kira-kira.

Saya yakin, impian setiap orang tidak datang tiba-tiba.  Pastilah ada proses yang melatarbelakangi kenapa seseorang tersebut memutuskan suatu hal sebagai impiannya. Tentu saja, proses yang akhirnya membuat orang tersebut menemukan banyak alasan yang menguatkan.

Impian tak hanya memerlukan usaha dan doa kita saja dalam mewujudkannya. Sebagai pejuang, terkadang kita butuh dukung dari orang-orang sekitar, mereka yang berada di lingkaran kita dan terutama orang-orang terdekat. Apalagi, tak selamanya kita bisa berdiri tegak dan kokoh berlari dalam mengejar impian. Ada kalanya kita lelah dan nyaris terkapar. Lantas, bagaimana jika mereka yang kita anggap bisa memberikan support terbesar justru memandang sebelah mata impian kita? Sakit. Itulah yang pernah saya rasakan. Pertentangan terbesar kadang justru datang dari orang-orang terdekat kita, bukan?

“Saya ingin jadi jurnalis dan bisa berkarya agar blab la bla ….” ujar saya di suatu ketika pada seorang yang waktu itu saya anggap dekat. Bukannya mendapat dukungan, tapi respon yang kemudian muncul adalah pertanyaan-pertanyaan yang akhirnya saya simpulkan sebagai kalimat “Kalau pengen jadi jurnalis, kenapa nggak dari dulu aja kuliah jurnalistik. Dengan ilmu kamu yang sekarang, nggak akan bisa. Kamu nggak mampu.” Syok pasti, sebab saya pikir orang itu telah mengenal saya. Tapi justru karena itu, semangat untuk mewujudkan impian semakin berkobar. Seperti ada semangat balas dendam untuk menunjukkan pada orang tersebut saya mampu meraih apa yang saya cita-citakan. Perlu waktu sekitar dua tahun kemudian saya baru bisa mewujudkan impian itu dengan bekerja sebagai jurnalis. Meski anggapan kawan lama saya itu sudah tak penting lagi sekarang, rasanya puas sekali ketika kita bisa mencapai keinginan kita di tengah cibiran orang lain. Maybe, it’s like a sweet revenge.

Perkataan maupun perbuatan orang lain yang berusaha menjatuhkan kita sebelumnya membuat kita menghargai apa yang kita capai sekarang, sekaligus menjadi pelecut semangat berkarya lebih baik lagi. Memang benar, what doesn’t kill you makes you stronger. Ketika kita lelah dan hampir menyerah, ketika kita seenaknya sendiri dengan apa yang kita punya sekarang, berbagai pengalaman di masa lalu itu seolah mengingatkan kita bahwa apa yang ada sekarang bukanlah hal yang mudah. Bahasa lebaynya, ada darah dan air mata, bukanlah suatu keajaiban yang datang tiba-tiba secara gratisan.

Cibiran atau apapun itu yang seolah merendahkan apa yang kita kerjakan memang akan selalu ada. Ibaratnya, semakin tinggi pohon maka akan semakin kencang pula angin yang menerpanya. Jika kita terus memikirkan ‘racun-racun’ dan penilaian orang lain, yang ada kita tidak akan berkembang. Banyak hal yang telah terjadi, banyak politik dan tangan-tangan tak terlihat yang sangat mungkin tak ingin kita berhasil. Tapi, selama kita berpegang pada kejujuran, tidak pernah berhenti berusaha, dan niat baik dalam berkarya, saya yakin suatu saat nanti mereka yang nyinyir itu akan terbungkam dengan sendirinya.

Berlian pun harus ditempa sedemikian rupa sebelum akhirnya bisa menjadi indah dan berharga mahal, bukan? Tetap semangat !!

Balada Transportasi Publik di Ibukota

Posted on

imagesHari ini saya bermimpi, tentang sistem transportasi yang ramah penumpang. Ramah. Cukup satu kata tapi punya beribu makna. Transportasi publik yang memanusiakan para penumpangnya rasanya memang masih sekedar angan di negeri ini, terutama di Jakarta. Di ibukota, tempat yang seharusnya lebih maju dan modern dibandingkan daerah-daerah lainnya di negara ini, transportasi publik tak ubahnya seperti neraka.

Jakarta dengan kesemrawutan lalu-lintasnya tak bisa dilepaskan dari para pengguna jalan yang sering ugal-ugalan demi mengejar waktu. Dari data Dinas Pelayanan Pajak DKI Jakarta tahun 2011 bahkan disebut 6.154.523 unit kendaraan yang menggunakan BBM premium berada di kota ini. Jutaan kendaraan inilah yang sering dituding sebagai pemicu kemacetan Jakarta.

Jakarta identik memang dengan macet. Jangankan di jalur biasa, di tol pun tak lepas dari fenomena ini. Salah satu solusi yang sering ditawarkan oleh para pakar adalah dengan mereduksi jumlah kendaraan dan menggantikannya dengan transportasi umum. Tapi, lihatlah kondisi transportasi publik di Jakarta, sudah layakkah menjadi andalan para warganya?

Metro mini dan Kopaja, dua bus kota yang sering jadi andalan warga ibukota kondisi armadanya seringkali tak memadai : reyot sana-sini, jok terkelupas, karatan, dan asap hitam mengepul kemana-mana. Angkot yang beroperasi di jalanan ibukota pun tak jauh beda. Belum lagi dengan maraknya aksi pemerkosaan dan kejahatan di transportasi umum akhir-akhir ini membuat para penumpang meningkatkan kewaspadaan dengan menghindari transportasi umum di malam hari.

Taksi pun harus benar-benar dipilih. Taksi sembarangan biasanya akan menetapkan tarif sembarangan pula, daripada memakai argo, taksi antah-berantah yang biasanya memiliki warna mobil hampir mirip dengan merek taksi tertentu ini umumnya akan langsung mematok tarif tertentu saat penumpang sudah di dalam mobil yang mulai berjalan. Sedangkan taksi yang sudah memiliki nama pun kadang tak kalah nakalnya, kalau lagi apes, bukannya akan cepat sampai tujuan, tapi kita justru diputar-putar di jalanan agar membayar lebih mahal.

Bagaimana dengan busway trans jakarta? 524 unit TJ yang melayani 11 koridor masih jauh dari kata solutif. Masih sering ditemui, para penumpang antre berjam-jam sebelum diangkut menuju tempat tujuan. Sudah antre, tak jarang mereka juga masih harus berdesak-desakkan di dalam bus. Pemberitahuan tempat berhenti bus pun nyaris tak terdengar dan kadang malah dalam kondisi mati.

Kondisi kereta api atau commuter line pun tak jauh beda, apalagi di kelas ekonomi. Belum lagi masalah keamanan seperti copet dan masih adanya beberapa orang tak bertanggung jawab yang memanfaatkan keadaan penuh sesak untuk melakukan aksi pelecehan seksual.

Panas, gerah, sesak. Tiga kata yang lazim ditemui untuk menggambarkan keadaan transportasi umum di Jakarta. Jangan bandingkan dengan sistem transportasi umum di negara lain, seperti Singapura misalnya. Ibarat langit dengan bumi. Tak sekedar masalah kenyamanan dan keamanan, tapi juga sistem dan keteraturan jadwalnya.

Sekali lagi, saya benar-benar bermimpi di negeri ini ada transportasi umum yang memanusiakan para penumpangnya. Bukannya justru menjebak para penumpang yang sudah cukup hectic dengan rutinitasnya ke dalam angkutan yang tak ubahnya seperti oven yang semakin membuat kepala berasap. Bukankah inti transportasi adalah memudahkan perpindahan orang dari satu tempat ke tempat yang lainnya, yang berarti pula kelancaran dan kenyamanan adalah hal yang mutlak ditekankan?

Hai, Resolusi !

Posted on

indexResolusi. Inilah kata yang paling populer digunakan tiap menjelang pergantian tahun. Resolusi seperti harapan, cita-cita, mimpi yang harus dikejar. Resolusi berarti target. Resolusi adalah perubahan yang ingin dicapai, hasil dari introspeksi perjalanan setahun sebelumnya. Resolusi dapat pula berarti pekerjaan rumah yang tertunda atau belum selesai.

Itu arti resolusi dalam pikiran saya. Iseng, saya bandingkan dengan arti resolusi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Beginilah ternyata :

resolusi re.so.lu.si
[n] putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yg ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tt suatu hal: rapat akhirnya mengeluarkan suatu — yg akan diajukan kpd pemerintah

Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/resolusi/mirip#ixzz2GnxvYrnn

Ooops ada yang berbeda di sini, antara pengertian saya pribadi dan orang-orang mengenai resolusi jika dibandingkan dengan arti yang ditulis dalam kamus bahasa kita. Yaps, penekanan pada kata musyawarah atau rapat dan adanya pemerintah di situ. Mungkinkah resolusi mengalami pergeseran pengertian menjadi seperti yang tertanam dalam otak saya selama ini? Ah, jujur saya tidak mau terlalu peduli. Mungkin saya hanya menyimpulkan dari apa yang saya ketahui secara sempit. Bahkan beberapa orang pun mengartikan resolusi sembari bercanda. Apa resolusi kamu? Resolusi saya di tahun ini 1300 x 2500 pixel, katanya.

Saya kadang tak mengerti kenapa tahun baru identik dengan resolusi. Apa karena angka baru sehingga orang-orang seperti terkena setrum apa-apa harus baru? Toh, sebenarnya bagi saya hari-hari berikutnya juga sama saja, masih satu jalur dengan ritme yang dijalani selama ini. Bukan yang benar-benar new beginning after something really closed, sehingga apa yang terjadi kemudian adalah kelanjutan dari rutinitas kita.

Saya pribadi lebih menyukai target berdasarkan proyek yang sedang saya kerjakan. Kalau mau lebih global, saya lebih suka menandainya dalam titik-titik tertentu, pas saya ulang tahun misalnya. Tapi bukan berarti saya anti beresolusi saat tahun baru. Buat seru-seruan sih iya. Selanjutnya sih saya lebih suka bilang : Hey new year, I dare you to surprise me ! Ya, saya suka kejutan, apalagi yang menyenangkan. Ini yang membuat hidup lebih hidup hahahaa.. Lagipula, saya yakin Tuhan sudah memiliki rencana-Nya yang terindah bagi saya.

Oke, kalau tadi saya bilang tidak antipati, berarti saya harusnya punya bayangan apa yang saya inginkan tahun ini. Tentu saja. Saya mau bahagia dan lebih banyak berkarya. Bahagia dengan rejeki yang lancar dan kesehatan. Bahagia dengan orang-orang tercinta di sekeliling saya. Bahagia dengan mencintai dan dicintai, serta berbagi kisah. Bahagia bertemu orang-orang baru dan belajar banyak pengalaman baru, petualangan baru. Dan berkarya untuk Indonesia, memaksimalkan bekal yang saya punya selama ini dan mewujudkan semua ide yang ada di otak saya. Tak boleh ketinggalan, I wanna travel more !! Berkeliling mengunjungi banyak tempat di Indonesia maupun di Asia Tenggara, entah dengan alasan on duty ataupun biaya sendiri. Menyenangkan bukan?

Sekali lagi, meski punya keinginan, saya lebih suka membiarkan takdir member kejutan indahnya untuk hidup saya. Bagaimana dengan anda?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.