PACAR KEDUA

Seseorang menangis dalam pelukan seorang yang lain. Entah apa hubungan mereka, yang jelas itu terjadi begitu cepat setelah seseorang yang menangis itu tersenyum pada seseorang yang dijumpainya.

Orang, seorang, dan orang-orang.

Dunia memang penuh dengan bermacam orang dan kejadian. Satu detik seseorang tertawa, satu detik kemudian seseorang itu menebar lara.

“ Sudah ! Nggak usah nangis lagi, nggak ada gunanya !”

Seseorang masih terisak, “ Tapi aku mencintainya, Be !”

“ Iya, aku tahu. Tapi, kalau begini terus …”

Seseorang yang lain tak tega melihat butir-butir air mata terus turun dan melunturkan maskara di sepasang mata indah milik orang yang dipeluknya. Dia ingin terus mendekap, menenangkan kegalauan serta kesedihan yang sedang merajai hati. Dia ingin mengusap tetesan yang mengurai di seraut wajah ayu itu.

Namun, ternyata dia hanya diam saja. Hanya membiarkan penangis cengeng itu membasahi peluknya tanpa bisa berbuat dan berkata yang meringankan.
***

Pernahkah seseorang berpikir terlahir untuk menjadi nomor dua ? Jawabannya mungkin pernah, mungkin juga tidak. Berkatalah pernah bagi mereka yang putus asa, diterpa badai permasalahan, atau mungkin sedang dikungkung kegagalan. Lantas, berkatalah tidak bagi yang ambisius dan punya segudang mimpi.

Menjadi nomor dua biasanya tidak lazim untuk dibudayakan. Kalau bisa nomor satu, kenapa harus nomor dua ?! Banyak yang mencemooh si runner up, apalagi jika kita hidup di tengah lingkungan yang lebih berpihak pada si number one.

Satu itu bagus. Tapi, kalau terpaksa, nomor dua kan nggak apa-apa !

***

“ A, gila ya kamu, masa cowok orang kamu pacarin.” semprot seseorang yang diketahui bernama Bestari.

Beberapa pasang telinga terlihat memanjang seperti kelinci. Manusia-manusia pemangsa gosip di sekeliling cewek tomboi itu tak sabar mendengar pengakuan sang terdakwa.

Aime, terdakwa kasus cinta kali ini, tersenyum simpul. Seperti biasa, tidak membenarkan dan juga tidak membantah. Mungkin seharusnya Aime memberi konfirmasi layaknya selebritis kita di acara infotainmen.

“ Jadi benar ya, A ?” tanya yang lain.

“ Apanya ?”

“ Ya… yang itu.”

“ Yang mana ?”

“ Pacaran sama pacar orang.”

Mungkin Aime salah satu gadis bodoh yang menghuni bumi. Dia tahu itu, tapi Aime bisa apa ?! Yang penting Aime cinta dengan Mahesa, yang penting Mahesa juga cinta dengan Aime. Masalah dia jadi pacar kedua, ketiga, atau keberapa pun bukan masalah.

Bukankah cinta itu buta ?!

“ Kamu tuh bisa disebut perebut pacar orang, A.”

“ Siapa yang merebut siapa ? Aku kan udah dari dulu suka ama Mahesa, jauh sebelum dia jadian sama Malena. Lagian, Mahesa-nya sendiri koq yang nembak aku.”

“ Nggak berperasaan banget sih, kamu kan harusnya menolak dia. Jadi aktivis kesetiaan donk… Kamu tahu kan perasaan cewek kalau diduain gimana?!”

Aime terdiam, tercenung dengan obrolannya bersama sang teman. Dia tahu dia jahat, dia perebut pacar orang. Tapi, cinta kan nggak bisa dipaksakan. Kalau Mahesa sudah nggak cinta Malena, kenapa Aime yang saat ini dicintai Mahesa harus disalahkan.

“ Kenapa kamu nggak nunggu mereka putus dulu sih, A ?”

“ Nggak bisa, Be.”

“ Egois !”

“ Bukannya egois, tapi saat ini dia belum bisa putus.”

“ Terus kalau nggak egois, apa coba namanya? Munafik ? Pacar kamu itu jadi cowok koq nggak bisa jujur pada hati nurani sendiri, nggak bisa memutuskan siapa yang dicintai.”

“ Udahlah, Be. Aku juga yang salah.”

“ Memang kamu salah ! Jadi korban poligami aja koq mau.”

Poligami ? Ah, kenapa jadi beranggapan seperti itu. Aime bukan istri kedua, dia “cuma” pacar kedua. Lagipula, jaman sekarang jumlah cowok yang benar-benar setia sama pasangannya kan langka.

Semua ini gara-gara Mahesa. Seorang lelaki seharusnya punya sikap, nggak boleh cari enaknya aja. Dia nggak cuma menyakiti serta membohongi Malena dan Aime, tapi juga hati kecilnya sendiri. Kenapa dia menjadi begitu egois, memanfaatkan perasaan orang lain demi kebahagiaan yang mungkin semu. Apapun alasan Mahesa tentang hubungan itu sama sekali tidak bisa dimaafkan kaum perempuan.

***

Angin berhembus pelan seolah berbisik tentang cerita pagi ini. Aime menyisir rambut panjangnya yang legam sembari menunggu telepon dari pujaannya. Ini memang hari Minggu, tapi bukan hari libur untuk sekedar jalan dengan sang kekasih.

Lagi-lagi Bestari muncul di depan Aime, gayanya yang funky menenggelamkan Aime yang cupu di tengah keramaian taman kota.

“ Makin lengket aja nih sama yayang.”

“ Biasa aja, Be. Kan bisanya juga cuma kayak gini.”

Bestari tersenyum. Dia mengerti betapa dalam Aime mencintai Mahesa, betapa Aime rela berkorban apapun demi sang kekasih. Kedalaman cinta yang membuat lupa pada cinta mereka yang dianggap tabu oleh sebagian orang.

Di sini, pacar setia itu penting. Pacar kedua itu adalah perusak hubungan orang yang tidak bisa diampuni. Meskipun, dengan alasan bahwa dia hadir ketika hubungan pertama sudah diambang kehancuran, saat yang pertama sudah basi dan tidak lagi menebarkan aroma wangi cinta.

Aime sudah kebal dengan cercaan orang, dampratan Malena dan teman-temannya, bisik-bisik yang menganggapnya cewek murahan, atau orang tua yang suka uring-uringan karena dia tetap saja jalan dengan Mahesa.

Mencintai seseorang itu bukan dosa, apapun itu bentuknya. Dan, seseorang terkadang harus berjuang demi cintanya agar tidak menyesal dalam hidup.

Tapi, mungkin orang tak bisa menerima perjuangan Aime dalam merengkuh cintanya. Aime salah ! Apapun alasannya, Aime tetap di pihak yang salah !

“ A, selama ini kamu baik-baik saja kan ?”

“ Maksudmu baik-baik dengan status seperti ini ?”

Bestari mengangguk.

Aime menghela napas.

“ Nggak juga, Be.”

“ Aku bangga bisa memperjuangkan cintaku, tapi aku juga sakit saat orang-orang menghakimi aku. Mereka nggak tahu apapun tentang hubungan ini, yang mereka tahu cuma aku ini pacar kedua.”

“ Berada di saat dan tempat yang tidak tepat, mungkin karena inilah kalian jadi begini.”

“ Iya, Be. Aku ngerti kebanyakan mereka nggak bisa terima. Aku nggak bisa menyalahkan mereka atas penilaian yang mereka buat untukku.”

Aime memang harus memaklumi karena seperti itulah kenyataannya. Meski sesungguhnya, dia sendiri tidak yakin sampai kapan dia akan bertahan.

“ Lebih baik kamu mundur, A. Posisimu sulit banget.” gumam Bestari.

Mimik Aime sedikit berubah, ada keraguan yang mulai hinggap di sana. Pertanyaan tentang hubungan itu dan segala gonjang-ganjingnya kembali merasuki kepalanya. Dia harus memikirkan lagi. Tentang Mahesa dan tentu saja hatinya.

Sementara itu, hati Bestari berdegup kencang. Dia berharap mukjizat dari Yang Di Atas tentang perasaannya, meski dia paham betul bahwa jika impiannya terwujud maka akan jadi sama kontroversialnya dengan cerita Aime bersama Mahesa.

Bestari menyayangi Aime. Rasa pertemanan itu menyusup dalam desiran darahnya hingga dia menyadari bahwa perasaannya sudah mulai berubah menjadi yang tak seharusnya. Jika itu terjadi, jika Aime bisa berpaling dari Mahesa dan menerima dirinya, maka  hal tabu yang mulai biasa di masyarakat itu akan muncul di permukaan.

“ Be, kamu kenapa ?”

Aime mulai menyadari perubahan bahasa tubuh teman baiknya. Di pikirnya, Bestari resah akan satu hal yang teramat penting.

Itu betul. Bestari resah terhadap hatinya. Bestari resah terhadap keinginannya untuk memiliki Aime. Seandainya ada keberanian dalam diri Bestari untuk mengungkapkan segalanya, mungkin dia akan merasa lega. Meskipun dengan konsekuensi bahwa Aime akan menjauhinya dan orang-orang di sekelilingnya akan tahu tentang keabnormalannya.

“ Be, kamu nggak apa-apa ?” tanya Aime sekali lagi.

Bestari menggeleng pelan, masih mencoba menutupi kegelisahan terjadi dirinya. Aime tidak boleh tahu apapun, tegasnya. Aime itu normal, Bestari tidak ingin merusak cintanya dengan memaksa Aime menerima cintanya ataupun menjadi sama dengan dirinya.

***

Seorang gadis berpakaian minim terlihat begitu bangga bergelayut pada tangan kekasihnya. Dia tidak tahu tentang badai yang terjadi, yang dia tahu hanya riak-riak kecil. Itupun dia abaikan.

Sang gadis hanya tahu lelakinya sayang padanya. Dia cuma tahu hubungan mereka baik-baik saja. Meskipun, semua mata mengetahui ada yang tidak beres pada mereka.

Lelaki itu terlihat tidak nyaman, berkali-kali dia mencoba melepaskan gandengan gadisnya. Sudah sejak lama dia merasa tersiksa, mencoba membohongi dirinya, pacarnya, dan orang demi orang yang dijumpainya.

Dia tidak lagi mencintai gadis itu. Bahkan, sejak pertama kali mereka berkomitmen. Hubungan mereka, baginya, hanyalah suatu dusta dan basa-basi. Dia tahu kesalahannya yang membiarkan si gadis salah paham, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.

Hati lelaki itu hanya tertambat pada seseorang yang bukan siapa-siapa, seorang anak manusia yang tulus mencintainya dan menerimanya apa adanya. Kekasihnya itu satu-satunya orang yang mengerti alasan mengapa dirinya seperti itu.

“ Aku rela kamu pacaran dengan dia. Aku nggak keberatan harus berbagi dengannya. Asal kamu mencintai aku, itu sudah cukup.” ucap sang kekasih suatu waktu. Ucapan itu semakin membuatnya yakin akan satu hal : apapun penilaian orang, kekasihnya adalah yang terbaik.

“ Aku akan menunggu kamu. Aku nggak peduli orang-orang ngomongin aku. Aku nggak akan marah kalau mereka bilang aku murahan, pacar kedua, atau apalah itu. Karena, semua itu nggak benar sama sekali. Cuma kita yang tahu cerita ini. Cuma kita.” lanjut kekasih sang lelaki itu suatu ketika.

“ Mahesa, bahagiakan Malena di sisa hidupnya…”

***

Langit tiba-tiba berubah warna, kesan mendung menyapu seluruh kota manakala surya seharusnya masih menjalankan tugasnya. Orang-orang mulai beranjak dari taman di sudut kota itu, khawatir akan datangnya hujan yang bisa membuat mereka basah kuyup.

Aime tersenyum pada seseorang di kejauhan. Sosok itu semakin mendekat dan menebarkan kehangatan di tubuh Aime. Dia tidak lagi peduli terhadap hujan yang bisa saja tiba-tiba mengguyur.

“ Hai, A.”

“ Hai, Sa. Aku tahu kamu akan terlambat, Malena rewel lagi ya ?”

Mahesa mengangguk.

“ Jadi …”

Mata mereka bertemu, seolah bercakap-cakap tentang segala sesuatunya. Pembahasan hubungan itu dimulai lagi dan berlangsung cukup lama.

“ Kita nggak bisa terus seperti ini. Kita bukan pembohong yang baik, A.”

“ Aku tahu. Mungkin jodoh kita hanya sampai di sini, Sa. Kita nggak bisa terus melawan kenyataan.”

“ Dan meski begitu, aku tetap mencintaimu.”

Aime berusaha memendam kesedihannya. Bukan ini akhir yang dia inginkan, meski mungkin ini yang terbaik.

***

Cerita Aime dan Mahesa berakhir sudah. Tidak ada lagi kelanjutan cerita kedua insan yang saling mencintai itu meskipun Malena telah pergi meninggalkan mereka tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Bestari melamun, mengkhayalkan dirinya bersama Aime yang kini sudah kembali menjadi gadis biasa. Dia sudah berulang kali ditolak Aime, semua orang sudah tahu keadaan dirinya. Tapi, itu resiko yang telah dia ambil.

Hujan yang turun rintik-rintik menerpa tubuh seorang jelita yang berjalan perlahan. Air hujan itu mengenai muka sang dara dan berpadu dengan beberapa bulir air mata sang dewi yang masih bersedih itu. Meski hidup harus tetap berjalan, tetap saja ada masa lalu yang tidak bisa dilupakan dengan mudah.

Satu cerita tentang pacar kedua.

***

NOTES :

cerpen ini pernah dimuat di kaWanku no.22/XXXIV 22 november 2004,

sebagai juara harapan III lomba cerpen kaWanku 2004.

2 responses to “PACAR KEDUA

  1. OOuucchhh…Awesome Rin!!, kalo ada lowongan di majalah jadi reporter mw gak?? ntar kalo ada aku rekomendasikan ya… mw gak? udah jadi penulis aja daripada jadi PNS rin, lebih menyenangkan kerja di media…haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s