plastik tak selamanya menyenangkan

Mungkin salah satu barang yang paling banyak dikonsumsi (baca : dipakai) masyarakat Indonesia adalah tas/pembungkus yang berasal dari plastik. Lihat saja sewaktu membeli barang di toko, kita pasti diberi bonus tas plastik untuk membungkusnya. Atau ketika kita membeli makanan untuk dibawa pulang, plastik/sterofoam masih menjadi andalan untuk membungkus makanan tersebut. Begitu pula di pasaran, banyak sekali produk yang dijual dengan kemasan plastik, mulai dari makanan ringan, air mineral, permen, mie instan, hingga detergen, minyak, dan kebutuhan sehari-hari lainnya.

Plastic for free, seakan begitulah kita bisa mengistilahkannya. Positifnya, kita tidak perlu kerepotan saat membawa barang belanjaan atau membungkus makanan. Tas plastik sudah mengakomodir semuanya. Begitu pula dengan makanan yang dikemas menggunakan plastik, membuat kita tidak perlu was-was saat membawanya kemana-mana. Lebih praktis, karena bisa langsung dibuang, sekaligus lebih bandel karena tidak mudah pecah seperti kaca, yang sekaligus juga mengurangi resiko cedera jika kemasan tersebut terjatuh.

Fungsi yang seharusnya memudahkan manusia tersebut ternyata tidak seratus persen aman. Hendaknya sebagai konsumen yang bijak, kita perlu tahu darimana plastik-plastik tersebut berasal. Untuk penggunaan tas kresek hitam, misalnya, memang sulit untuk mengetahui asal-usulnya. Bisa jadi tas kresek hitam adalah hasil daur ulang plastik bebas yang ada di lingkungan kita, yang mungkin saja masih ada sisa-sisa bahan kimia berbahaya yang masih melekat di dalamnya. Karena itulah, penggunaan tas kresek hitam (atau warna lainnya) harus hati-hati dan jangan langsung bersentuhan dengan makanan yang akan kita makan.

Dalam sebuah rilisannya pada bulan Juli 2009 yang lalu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia memberikan informasi tentang beberapa bahan plastik yang dapat dipakai oleh manusia dan mana yang seharusnya dihindari karena berbahaya bagi kesehatan kita. Berikut jenis dan kodenya :

  1. Polietilen tereftalat (PET) kode 01 dalam segitiga (artinya bisa didaur ulang)
    • Jernih, kuat, tahan pelarut, kedap gas dan air, melunak pada suhu 80 derajat celcius
  2. High density polyethylene (HDPE) kode02 dalam segitiga
    • Keras hingga semi fleksibel, tahan terhadap bahan kimia dan kelembaban, permeabel terhadap gas, permukaan berlilin, buram, mudah diwarnai, diproses dan dibentuk, melunak pada suhu 75 derajat celcius
    • Cukup baik untuk dijadikan pembungkus
  3. Polivinil klorida (PVC) kode 03 dalam segitiga
    • Kuat, keras, busa jernih, bentuk dapat diubah dengan pelarut, melunak pada suhu 80 derajat celcius
    • Sangat berbahaya karena dapat menimbulkan kanker
  4. Low density polyethylene (LDPE) kode 04 dalam segitiga
    • Mudah diproses, kuat, fleksibel, kedap air, permukaan berlilin, tidak jernih tapi tembus cahaya, melunak pada suhu 70 derajat celcius
    • Cukup baik untuk dijadikan pembungkus
  5. Polipropilen (PP) kode 05 dalam segitiga
    • Keras tapi fleksibel, kuat, permukaan berlilin, tidak jernih tapi tembus cahaya, tahan terhadap bahan kimia, panas dan minyak, melunak pada suhu 140 derajat celcius
    • Cukup baik untuk dijadikan pembungkus
  6. Polistiren (PS) atau polistiren busa (EPS-stryfoam) kode 06 dalam segitiga
    • Jernih seperti kaca ataupun bentuk busa berwarna putih, kaku, ringan, getas, buram, terpengaruh lemak dan pelarut, mudah dibentuk, melunak pada suhu 95 derajat celcius
    • Lebih baik digunakan sebagai kemasan makanan
  7. Lainnya. Misalnya, polikarbonat kode 07 dalam segitiga
    • Keras, jernih, tahan panas
  8. Melamin-formaldehid (MF)
    • Keras, kuat, mudah diwarnai, bebas rasa dan bau, tahan terhadap pelarut dan noda, kurang tahan terhadap asam dan alkali.

Dengan adanya rilisan tersebut, diharapkan akan bisa menjadi acuan bagi masyarakat seperti kita (yang awam) untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan produk plastik. Lebih baik periksa dengan cermat kode yang ada dibawah kemasan plastik yang kita beli/dapatkan. Jangan sampai untuk alasan kepraktisan, justru membahayakan kesehatan kita dan lingkungan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s