Alay… bahasa Indonesia gaul anak muda sekarang

“Kamu ndek mari ngapa? Besok aja tak liake.”

Kalimat pendek tersebut sering saya dengar dari percakapan orang-orang di kereta yang saya tumpangi setiap minggu.

“Hu’uh. Aquwh saiaaank kamuwh. Sangad !”

Kalau yang barusan adalah kalimat tertulis yang lumayan sering saya jumpai di salah satu situs pertemanan.

Well, sepertinya nggak ada masalah. So?

Siapa bilang semua baik-baik saja. Kalimat-kalimat tersebut barangkali sudah menjadi kebiasaan kita, yang tanpa sadar pun kita pasti memakainya setiap hari.

Dari jaman dulu, sering kita menjumpai orang memakai kalimat campur-campur. Mix and match tiga bahasa atau lebih, misalnya menggabungkan kalimat dalam bahasa Jawa, Indonesia, dan sedikit Inggris. Tergantung pada konteksnya.

Tapi bukan itu yang perlu dijadikan sorotan. Karena cukup popular belakangan ini adalah fenomena penggunaan kalimat ‘sok imut’ J seperti : aquwh (aku), binun (bingung), saiiia (saya), saiiaank (sayang), dll. Maaf untuk mereka yang gemar memakai kalimat atau kata-kata ‘sok imut’ ini, karena dalam beberapa kasus sepertinya sudah over. Kalimat ‘sok imut’ ini biasanya dijumpai dalam bentuk bahasa tertulis, dan kerap dipakai dalam profil situs pertemanan, sms, maupun chatting di kalangan anak muda, yang rata-rata berada di usia SMP dan SMA.

Pertama menjumpai kalimat tersebut, komentar saya adalah : BINGUNG ! Yup, saya agak kesulitan membaca dan memahami maksudnya. Sepertinya butuh usaha ekstra untuk merangkaikan huruf-huruf aneh tersebut demi satu kata atau malah sebaris kalimat !

Saya pernah berpikir, apakah saya yang terlalu ketinggalan peradaban. Bahkan dengan adik-adik saya yang selisih beberapa tahun saja sepertinya sudah berbeda dunia.

Di tengah geleng-geleng kepala tersebut, saya mencoba bertanya pada beberapa kawan sebaya saya. Inti jawabannya saya : kami pusing ! Hahaha…jelas kami termasuk golongan yang sulit memahami begitu mudahnya kalimat-kalimat itu berganti ejaan. Hmm… apakah ini EYD gaya baru?! Kami pun dilanda keprihatinan atas krisis bahasa yang sepertinya sedang melanda negara kita.

Saya ingat waktu masih sekolah dulu, pelajaran bahasa Indonesia termasuk kategori pelajaran yang cukup membosankan. Dengan sok taunya mungkin kita menganggap apalah fungsi dari pelajaran ini, setiap hari sudah dipakai, terus mau apa lagi?! Yah, meski disepelekan (atau gara-gara penyepelean ini) harus diakui bahasa Indonesia adalah pelajaran dengan kesulitan tinggi, yang mungkin malah lebih susah dibandingkan soal-soal Matematika dan Fisika !

Coba angkat tangan, berapa banyak di antara kita yang memilih lari keliling lapangan daripada membuat karangan persuasi? Atau apakah kita bisa membedakan induk kalimat dan anak kalimat, semudah mengenali bilangan genap dan ganjil? Lebih pilih mana, membedah kodok di laboratorium atau mengenali bentuk-bentuk klausa? Apakah jumlah murid yang mempunyai nilai sepuluh untuk tes bahasa Indonesia sebanyak mereka yang mendapatkan nilai sepuluh untuk Matematika?

Memang seperti itulah kenyataannya, yang sepertinya sampai sekarang masih tetap berlangsung. Rasanya sulit menemukan sosok seperti J.S. Badudu dewasa ini. Memang tidak mungkin menggunakan bahasa baku nan formal setiap harinya, tapi setidaknya ‘penyimpangan’ terhadap kaidah bahasa kebanggaan bangsa ini janganlah terlalu parah.

Apakah kita akan membiarkan bahasa yang indah ini mati perlahan??? Tentu tidak, bukan?!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s