Pemberontakan terhadap dominasi status melalui novel Saman

Dunia seni sekiranya merupakan suatu media yang luar biasa berpengaruhnya bagi banyak pihak. Tak hanya pelaku seni saja yang bisa menikmati seni dengan penuh gegap-gempita, tetapi juga orang awam yang lantas membutuhkan seni sebagai pelengkap hidup mereka. Bahkan sebagian besar dari kita pun akan mengamini jika seni adalah tak sekedar persoalan estetika, namun juga ekspresi. Seni sebagai estetika seolah sudah menjadi hukum wajib bagi segala hal yang mengatasnamakan seni, meskipun persoalan estetika itu terkadang terbentur pula pada relativitas sudut pandang manusia. Sedangkan seni sebagai ekspresi mungkin lebih tepat jika ditilik dari bagaimana seni itu difungsikan oleh pelakunya. Dengan seni, para seniman dan seniwati bisa berbicara, menyampaikan pesan, atau bahkan mengkritik sesuatu hal lewat karya-karya indah mereka.

Seni adalah seni. Namun demikian, seni mempunyai keragaman jenis yang membuatnya semakin dicintai oleh berbagai kalangan. Kita tentu mengenal seni musik, seni tari, seni lukis, seni berpolitik, hingga sastra yang bisa juga dimaknai sebagai seni menulis dan merangkai kata. Bahkan hampir semua hal di dunia ini memakai label seni agar terkesan lihai dan agung.

Berbicara mengenai sastra di Indonesia, banyak yang menganggap satra di negara ini berjalan di tempat, jika tidak mau dikatakan mundur. Memang semakin banyak penulis-penulis yang bermunculan, tetapi karya-karya mereka tidak sespektakuler dan semelegenda para penulis di waktu lalu. Para penulis yang ada sekarang dinilai belum mampu memberikan kekuatan pada sastra di negara kita, setidaknya menyamai seperti apa yang pernah dilakukan Pramoedya Ananta Toer.

Sebagian besar penulis yang terkenal adalah laki-laki, namun di akhir 1990-an terjadilah booming perempuan penulis yang luar biasa. Di akhir abad 21, Indonesia dikejutkan oleh bermunculannya perempuan-perempuan penulis yang berani berekpresi secara lugas dan lantang melalui karya-karya mereka. Buku-buku mereka menjadi bestseller di pasaran karena keberanian para perempuan penulis ini dalam menyingkap beberapa hal yang selama ini dianggap tabu di masyarakat, lewat kemahiran mereka merangkai kata. Sebut saja Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Fira Basuki, hingga Dee yang kemudian menjadi superstar dunia satra karena kepintaran menyampaikan kritik atas realita yang selama ini cenderung didominasi lelaki.

Tulisan ini nantinya akan membahas seni sebagai media ekspresi perempuan penulis yang mencoba menerjemahkan realita sekitar yang seringkali tidak bersahabat dengan perempuan. Perempuan seringkali dianggap lemah dan dihadapkan pada norma-norma sosial yang mengikat mereka jauh lebih ketat daripada hal yang sama yang dibebankan pada laki-laki. Kenyataan yang seperti itu yang kemudian sedikit banyak dibantah oleh Ayu Utami, yang kemudian melalui novelnya yang berjudul Saman akan dijadikan rujukan bagi penulisan dalam makalah ini. Meskipun novel yang ia buat adalah cerita roman, tetapi Saman tidak sepenuhnya fiksi karena di dalam ceritanya mengandung banyak sekali hal yang merupakan terjemahan dari keadaan sosial masyarakat, yang tidak terlalu tersibak karena alasan ketabuan dan nilai sosial-budaya yang ketat tetapi juga tak jarang menjadi hipokrit.

Sebagian orang mengira tulisan dalam Saman hanyalah bacaan fiksi biasa, tak jauh beda dengan novel-novel lainnya. Sebagian orang lainnya justru menuding novel ini (dan beberapa novel karya perempuan penulis lain) sebagai sastra seks karena mengangkat tema yang sering dianggap tabu di masyarakat itu sebagai salah satu daya jualnya. Namun, lebih dari itu, jika dicermati dengan baik maka tak salah jika kita berpendapat bahwa Saman adalah salah satu karya Ayu Utami yang mencoba mengkritik konteks sosial-budaya kita yang seringkali memposisikan perempuan sebagai obyek, bukan subyek yang mempunyai kehendak sendiri.

Dari beberapa hal di atas, pertanyaan mendasar yang ingin dijawab dalam tulisan ini adalah :

Bagaimana peran sastra karya perempuan penulis sebagai media perlawanan terhadap dominasi status?

Nantinya, “pemberontakan” terhadap kultur patriarki ini akan dicoba dibahas dalam konteks seni sebagai media perlawanan (yang dipakai perempuan penulis) terhadap dominasi status yang terjadi di masyarakat yang masih terjebak patriarki.  Bentuk perlawanan terhadap dominasi status ini nantinya juga akan dijelaskan dengan memakai perspektif James C. Scott tentang informality.

SAMAN : EKSPRESI SEORANG PEREMPUAN PENULIS

Sastra yang ditulis oleh perempuan sejatinya sudah ada dari dulu. Tetapi, hal ini sepertinya kurang mendapatkan tempat di masyarakat dan popularitas perempuan-perempuan penulis beserta karyanya hampir tak pernah dibahas. Sejak kehadiran Ayu Utami dalam khazanah sastra tanah air dengan Saman dan Larung-nya pada akhir 1990-an, masyarakat sepertinya mendapat cukup “tamparan” pada realita sehari-hari mereka hingga akhirnya justru memburu karya ini.  Respon yang bagus oleh publik ini, lantas membawa sederet perempuan penulis lainnya untuk berlomba-lomba mengguncang dunia sastra tanah air. Lalu seperti yang kita tahu sekarang, muncullah nama-nama seperti Djenar Maesa Ayu, Dewi Lestari atau Dee, Fira Basuki, hingga Herlinatiens.

Gairah ini sepertinya terus berlanjut hingga sekarang dan sudah menjadi fakta yang tidak bisa lagi terbantahkan. Dalam suatu diskusi bahkan disebutkan, di satu sisi hal ini dapat dimaknai sebagai upaya perjuangan sastra perempuan yang selama ini terpinggirkan. Sebagai sastra pemberontakan, perempuan ingin unjuk gigi dan merupakan bagian yang sah, yang tak bisa diremehkan dalam khazanah sastra dan kebudayaan.[1]

Saman adalah suatu cerita yang membawa Ayu Utami sebagai pemenang Pemenang Roman tahun 1998. Setelah diterbitkan, novel ini menggebrak masyarakat karena bertutur tentang perjalanan empat perempuan yang bersahabat yang dikemas dalam sikap mereka terhadap cinta dan kehidupan, terutama terkait dengan pandangan mereka sebagai perempuan terhadap sesuatu hal. Tak ada yang ditutupi dalam cerita ini, sosok-sosok perempuan dengan jelas digambarkan sebagai perempuan yang mandiri dan mempunyai pikiran serta sikap yang otonom. Yang membuat geger di masyarakat adalah ketika cerita perempuan-perempuan tersebut disajikan dalam tema yang sedikit banyak menggugat budaya dominan yang selama ini eksis. Kita terbiasa hidup dalam lingkungan yang mengagungkan patriarki, namun dalam tulisannya, Ayu Utami justru mencoba menghapusnya lewat tokoh-tokohnya yang berani. Seperti misalnya, dengan pendekonstruksian makna seks yang selama ini dianggap tabu dibicarakan.

Perlawanan terhadap mainstream kemapanan, terutama dalam lingkup sosial, sepertinya terus dikobarkan melalui pikiran-pikiran para tokoh utamanya yang mengkritik anggapan sosial masyarakat yang terlalu meninggikan laki-laki sehingga perempuan sepertinya tidak boleh memutuskan sesuatu atas dirinya sendiri dan cenderung dikorbankan kepentingannya. Dalam banyak hal di tulisannya, sangat terlihat bagimana perempuan mengalami hak yang tidak seimbang dengan laki-laki. Perempuan, kritik sosial dalam novel ini, sering dikatakan sebagai porselin dari Cina yang salah sedikit saja bisa retak, dan jika sudah begitu maka ia tak lagi istimewa, sedangkan laki-laki acap ditempatkan pada posisi yang jauh lebih baik dari itu. Padahal dalam kenyataannya, laki-laki pun seperti gading : tak ada yang tak retak.[2] Kemudian, masih dari novel yang sama, kita juga tahu bahwa perempuan harus mengalah di banyak bidang dasar dalam hidupnya. Misalnya saja, ketika tokoh Cok yang diketahui hamil harus meninggalkan sekolahnya dan pindah ke tempat lain. Hal ini secara tak langsung mengisyaratkan adanya pendiskriminasian terhadap perempuan dalam mengenyam pendidikan. Kebutuhan dasar manusia ini sepertinya tidak boleh diakses oleh orang yang (ketahuan) hamil, tetapi tetap boleh dinikmati oleh mereka yang menghamili.

Dalam Saman, sikap feminis sangat terlihat pada diri Tala, yang diceritakan sebagai perempuan yang kuat, yang tidak mau hidup di bawah bayang-bayang laki-laki. Sikap dan pikiran Tala pula yang sedikit banyak mengkritik keadaan sosial yang tidak memihak perempuan.

“ Nama saya Shakuntala. Orang Jawa tidak mempunyai nama keluarga.”

“… Kenapa orang harus memakai nama ayah?”

Lalu aku tidak jadi memohon visa. Kenapa ayahku harus tetap memiliki sebagian dari diriku? Tapi, hari-hari ini semakin banyak orang Jawa tiru-tiru Belanda. Suami istri memberi nama si bapak pada bayi mereka sambil menduga anaknya bahagia atau beruntung karena dilahirkan. Alangkah melesetnya. Alangkah naif.

(dalam Saman, hlm.137)

Novel ini tak menyajikan seksualitas saja, seperti yang sering dikritikkan orang. Novel ini adalah media membukakan mata publik bahwa sebenarnya hal seperti itu ada di masyarakat. Sepertinya orang-orang diajak untuk melihat lagi norma-norma sosial yang selama ini mereka agungkan. Bahkan ketidakadilan pada perempuan adalah hal lumrah dalam masyarakat Indonesia dan ketika perempuan bicara di luar tatanan nilai kesopanan yang ada maka dia adalah abnormal.

PERLAWANAN LEWAT SASTRA

Fungsi dari suatu seni, termasuk sastra, tak terbatas pada satu hal saja. Seni tidak sekedar dimaknai sebagai proses kreatif yang bertumpu pada estetika semata, seni bisa juga dipakai sebagai media bagi beberapa pihak dalam mengekpresikan diri, yang akhirnya akan membawa seni sebagai media untuk melakukan dominasi atau malah resistensi.

Beberapa karya sastra perempuan penulis, termasuk Saman ini, merupakan contoh dari pemaknaan seni sebagai media resistensi terhadap kultur yang cenderung membungkam perempuan. Hal ini bertolak belakang dengan fungsi-fungsi seni sebelumnya yang biasa dipakai sebagai arena dominasi negara dan pengukuhan superioritas laki-laki di berbagai bidang. Lewat karya sastra, perlawanan terhadap keadaan sosial yang meminggirkan kaum perempuan bisa diretas, sehingga pesan bahwa perempuan mempunyai sikap dan pemikiran pun dapat tersampaikan.

Para perempuan penulis sekarang ini tak segan melawan tabu yang selama ini menjadi magma terpendam pada masyarakat yang sarat konvensi-konvensi budaya.[3] Pemberontakan melalui deretan kata perempuan penulis ini juga secara ekplisit menjelaskan bagaimana selama ini perempuan begitu dekat dengan kekerasan yang tersamar, yang bersifat batiniah. Perempuan dalam banyak hal, lebih ditampilkan sebagai sosok yang nrimo dan harus lebih banyak berkorban. Dalam karya sastra penulis perempuan, hal tersebut mulai diusir dengan cara menampilkan perempuan yang kuat dan mandiri, seperti yang sudah sering dijumpai pada masa sekarang.

Kekuasaan tidak sekedar berada di ranah formal atau kenegaraan saja, tetapi juga bisa timbul dalam konteks sosial-budaya di masyarakat. Begitu pula resistensi terhadap kekuasaan tersebut, yang juga bisa terjadi dalam ranah apapun. Jika kultur masyarakat kita masih menganggap seks tidak layak diperbincangan secara terbuka oleh perempuan, maka dalam Saman sepertinya hal tersebut sepertinya menjadi perkecualian. Dalam novel ini justru diceritakan eksistensi perempuan dalam dalam hal yang dianggap tabu sebagai bentuk perlawanan terhadap hegemoni budaya tersebut. Tabrakan nilai budaya Timur dan Barat, juga nilai-nilai tradisional dan modern dicoba ditebas agar pengaktualisasian perempuan sebagai makhluk yang otonom dapat ditegaskan.

Persoalan lain yang tak kalah seru yang disampaikan dalam naskah novel ini adalah tentang bagaimana gender dimaknai. Semangat persamaan antara laki-laki dan perempuan, dalam berbagai bidang juga turut diusung untuk menegaskan hal tersebut. Keempat tokoh perempuan yang dipakai dalam Saman, yaitu Laila, Yasmin, Cok, dan Tala, digambarkan sebagai perempuan pekerja yang mempunyai karir bagus. Laila sebagai fotografer, Yasmin yang berkarir di bidang hukum, Cok sebagai pengusaha, dan Tala yang berprofesi sebagai penari adalah gambaran perempuan-perempuan masa kini yang tak cukup bergerak hanya di rumah saja. Keempatnya masih bisa eksis berkarir, meski ada di antara mereka yang sudah berumahtangga. Hal ini membuktikan bahwa ikatan perkawinan pun tidak seharusnya menjadi belenggu bagi perempuan untuk berprestasi. Bahkan, para perempuan tadi adalah representasi perempuan-perempuan tangguh, yang dengan jaringan luas yang mereka miliki justru menjadi kekuatan penolong bagi yang lain.

Perlawanan dalam perspektif James C. Scott bisa timbul karena adanya dominasi di bidang ekonomi, ideologi, dan status. Masing-masing dominasi ini mempunyai karakter sendiri-sendiri yang tentu saja akan menimbulkan resistensi yang sangat mungkin berbeda satu sama lain. Dari ketiga dominasi tersebut, karya sastra penulis perempuan dengan judul Saman ini, dapat dikategorikan sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi status. Dominasi status sendiri biasanya ditandai dengan adanya stereotyping dan penghilangan eksistensi kelompok lain. Bentuk-bentuk dari dominasi status adalah kepatuhan, adanya ketidakhormatan, dan penyerangan terhadap harga diri,[4] yang dalam konteks tulisan dalam makalah ini, dominasi dimaknai sebagai penempatan perempuan dalam posisi yang lebih lemah dibanding laki-laki, sebagaimana yang masih sering kita jumpai pada kehidupan sehari-hari.

Dengan masih memakai kacamata Scott, karya sastra perempuan penulis ini dapat disimpulkan sebagai perlawanan terhadap status dominan di masyarakat, yaitu patriarki. Setidaknya hal ini dikarenakan para perempuan penulis tersebut mencoba menembus strereotyping bahwa perempuan adalah makhluk lemah yang patut dikasihani, bahwa perempuan berada pada merupakan kaum subordinat yang ada di muka bumi hanya untuk menjadi pelayan laki-laki, dan bahwa perempuan hanya bisa nurut dan tidak bebas mengemukaan pendapat mereka sendiri.

Karya sastra merupakan salah satu informality yang dipakai perempuan dalam menyikapi patriarki. Perempuan-perempuan penulis, seperti halnya dilihat melalui penceritaan Ayu Utami dalam Saman, mencoba menegaskan perlunya pembentukan ruang-ruang sosial yang otonom bagi perempuan guna menegaskan keberadaan mereka. Meskipun demikian, perlawanan terhadap dominasi status tak hanya dilakukan oleh perempuan penulis saja, tetapi juga oleh tokoh-tokoh yang hidup dalam batas karya sastra. Perlawanan para perempuan dalam sastra Indonesia setidaknnya dapat dikategorikan dalam dua tipe yang berbeda.[5] Pertama, perlawanan yang cenderung tertutup, sunyi, diam, dan cenderung batiniah. Kelompok ini diwakili oleh penggambaran atas perlawanan yang dilakukan tokoh Anelies di Bumi Manusia, tokoh Gadis Pantai, tokoh Srinthil dalam Ronggeng Dukuh Paruk, yang biasanya justru akan “menghancurkan” diri sendiri dan pasif. Sedangkan bertolak belakang dari itu, bentuk perlawanan yang kedua bertipe lebih terbuka, reaksioner, dan gegap-gempita. Tokoh-tokoh perempuan dengan bentuk perlawanan ini lebih memiliki rasionalitas, kesadaran, mandiri, dan mempunyai pikiran yang kritis, seperti yang digambarkan pada tokoh Tuti di Layar Terkembang dan empat sekawan (Cok, Laila, Tala, dan Yasmin) dalam Saman.[6]

Hadirnya karya sastra ini tak cukup dimaknai sebagai pemberontakan terhadap dominasi status laki-laki atas perempuan dalam suatu sistem patriarki saja, tetapi juga merupakan bentuk pernyataan yang tegas akan pengakuan terhadap harga diri perempuan. Karena bagaimanapun juga, dalam dominasi status yang terjadi, perempuan cenderung diabaikan, termasuk dalam kerangka berpikir mereka sendiri yang kadang tak bisa keluar dengan bebas karena dibatasi nilai-nilai sosial yang berperan layaknya hakim dalam menentukan patut dan tidaknya hal tersebut dilakukan oleh perempuan.

PENUTUP

Seni, apapun bentuknya, bisa jadi merupakan sarana berekspresi bagi banyak orang. Dalam seni, tidak ada benar atau salah karena ia adalah potret dari suatu kenyataan yang dipandang melalui kacamata penciptanya dan bisa dinikmati melalui banyak sisi.

Kehidupan perempuan yang dituangkan dalam Saman merupakan salah satu realita yang terjadi di masyarakat kita, yang biasanya tidak terlalu dihiraukan. Saman dengan kisah perempuan-perempuan, dengan penulisnya yang juga perempuan, mencoba mendobrak tataran yang ada, dimana kultur lebih menempatkan laki-laki sebagai subyek dalam banyak cerita. Di novel ini, pemberontakan atau kritik Ayu Utami terhadap patriarki tak hanya disampaikan lewat pergulatan batin dan pemikiran tokoh-tokohnya, tetapi juga lewat keberanian mereka dalam bertindak dan memberontak secara fisik dan sistemik.

Memang, bagi banyak orang, Saman atau juga beberapa karya milik perempuan penulis yang lain mengangkat tema seksualitas sebagai latar pemberontakannya. Tetapi lebih dari itu, sebenarnya novel ini juga merupakan penggambaran atas kenyataan yang sering kita jumpai –namun juga sering kita elakkan- yaitu kekerasan terselubung terhadap diri perempuan. Sehingga, akhirnya dari tulisan ini dapat disimpulkan bahwa karya sastra adalah karya yang tak sekedar imajinasi, tetapi juga potret dari realitas dan bentuk ekspresi terhadap realitas tersebut.

(nb : tulisan ini merupakan tugas saya saat mengikuti mata kuliah Politik Ekstra Parlementer, tahun 2007).

DAFTAR PUSTAKA

Utami, Ayu. 1998. Saman. Jakarta : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Scott, James C. 1990. Domination and the Arts of Resistance. New Haven and London : Yale University Press.

Haryanto, Ignatius. 2005. Perempuan-Perempuan Pemberontak. Basis No.03-04 Tahun 54, 49-55.

SUMBER INTERNET

Cahyono, Imam. 2003. Quo Vadis Seksualitas Fiksi Perempuan. Dalam www.republika.co.id (4 juni 2007).

Sugiarti, R. 2002. Tren Perjuangan Perempuan dalam Sastra : Merangkul Tabu, Meretas Kekerasan Tersamar. Dalam www.sinarharapan.co.id. (4 juni 2007)

____. Wanita dalam Sastra. 2006. Dalam www.suarakarya-online.com (4 juni 2007)


[1] Cahyono, Imam. (2003) Quo Vadis Seksualitas Fiksi Pemerpuan. Dalam www.republika.co.id (4 juni 2007)

[2] Utami, Ayu. 2998. Saman. Jakarta : KPG. h,124.

[3] Sugiarti, R. 2002. Tren Perjuangan Perempuan dalam Sastra : Merangkul Tabu, Meretas Kekerasan Tersamar. Dalam www.sinarharapan.co.id. (4 juni 2007)

[4] Scott, James C. 1990. Domination and the Arts of Resistance : Hidden Transcripts. New Haven and London : Yale University Press. h,198.

[5] Wanita dalam Sastra. 2006. dalam www.suarakarya-online.com (4 juni 2007)

[6] ibid.

4 responses to “Pemberontakan terhadap dominasi status melalui novel Saman

    • klo orangnya sy blm pnh nyari mb..🙂
      tp klo novelnya dulu smpt susah2 gampang dicarinya.
      tp untungnya skrg udh banyak di toko buku..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s