meresapi makna perjuangan di monjali

Monumen Yogya Kembali, atau yang lebih dikenal masyarakat sekitar sebagai Monjali, merupakan monumen sejarah perjuangan kemerdekaan yang berada di daerah ring road utara Yogyakarta. Menuju Monjali, kita bisa naik bis transjogja dan turun di shelter tepat di depan lokasi monumen, naik bis kota jalur 5, atau naik kendaraan pribadi dan diparkir di sisi barat monumen.

Pintu masuk ke Monjali berada di sebelah barat, dimana di sisi itu pula terdapat tempat parkir, dan tempat pembelian tiket. Harga tiket masuk adalah Rp 5.000,00 untuk wisatawan lokal dan Rp 10.000,00 untuk wisatawan asing. Karena tempat ini sarat edukasi mengenai perjuangan kemerdekaan, tak heran Monjali lebih sering dijadikan tujuan study-tour rombongan siswa dari berbagai daerah.

Rana pertama yang menyambut kedatangan kita adalah tembok yang bertuliskan nama para pahlawan yang gugur selama clash kedua dalam wilayah Wehrkreise III pada tanggal 19 Desember 1948 sampai 29 Juni 1949. Sejajar di tembok itu pula, terdapat puisi Chairil Anwar yang berjudul Karawang-Bekasi yang dipersembahkan untuk para pejuang yang gugur, meskipun mereka tidak dikenal.

Bangunan Monjali berbentuk kerucut dengan dinding keramik berwarna putih. Di sekitar monumen yang bentuknya mengingatkan saya pada tumpeng acara syukuran tersebut dikelilingi kolam, airnya agak keruh dan bahkan ketika saya berkunjung ada tiga anak kecil yang sedang mandi disana. Di kolam tersebut sebenarnya ada kendaraan mainan yang berupa bebek kayuh, sayangnya mainan tersebut dirantai, tidak ada penjaga (padahal ada boks tiketnya), dan kondisinya membuat tanda tanya karena di tempat duduk dan tempat mengayuh dalam bebek tersebut tergenang air kolam.

Perjalanan ke dalam munomen ini dapat dimulai dari lantai satu, yang pintu masuknya terletak di sebelah barat. Di sini, terdapat empat ruangan museum yang berisi koleksi benda-benda yang sarat sejarah, seperti : bambu runcing, senapan, meriam, panji-panji pejuang, dokar, seragam, hingga tandu. Terdapat pula salinan teks proklamasi, bagan keanggotaan tentara Indonesia di masa perjuangan, patung dan lukisan para pahlawan, salinan surat perintah, dan koleksi foto-foto jaman perang di negara kita.

Penjelajahan di lantai satu akan berakhir di sisi timur monumen. Setelah itu kita harus keluar dari bangunan monumen untuk menaiki tangga menuju lantai dua. Tangga ini terdapat di sisi selatan, atau tepat berhadapan dengan tembok besar yang berisi nama-nama pahlawan yang menyambut kedatangan kita tadi.

Sebelum memasuki lantai dua, yang berisi diorama perjuangan, lebih baik kita berjalan mengelilingi serambinya terlebih dahulu karena di pagar serambi ini terdapat relief mengenai masa perjuangan. Pintu ruang diorama terletak di sebelah kiri pintu masuk. Melihat diorama di lorong gelap tersebut hampir seperti melihat deretan manekin yang dipajang di toko. Tetapi, tentu saja diorama lebih menakjubkan dan tampak hidup karena dilengkapi dengan ilustrasi, lukisan, informasi kejadian, bahkan efek suara berkaitan dengan masing-masing peristiwa.

Melihat diorama dengan seksama akan membuat kita tidak terasa telah mengelilingi bangunan monumen di lantai dua. Ini sama artinya dengan kita harus segera menaiki tangga menuju lantai tiga. Tidak banyak yang bisa kita lihat di lantai paling atas dari monumen ini, hanya ada dua lukisan simbol perjuangan dalam ukuran besar pada dinding atapnya, sebuah prasasti mengenai persatuan antara rakyat dan tentara yang terletak di sisi utara, dan tiang bendera dengan sang saka merah putih di tengah ruangan. Hal tersebut bukan tanpa alasan, karena ruang ini diperuntukkan bagi kita yang ingin mengenang perjuangan pendahulu kita dalam meraih kemerdekaan dan memanjatkan doa bagi para pejuang yang telah gugur selama masa itu.

Akhirnya di ujung perjalanan saya di Monjali, saya mengamini salah satu kalimat yang saya temui di salah satu ruang museum di monumen tersebut…

β€œPercaya dan yakinlah bahwa kemerdekaan suatu negara, yang didirikan diatas reruntuhan ribuan jiwa, harta benda dari rakyat dan bangsanya, tidak dapat dihapuskan oleh manusia siapapun juga.” (Jendral Soedirman)

2 responses to “meresapi makna perjuangan di monjali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s