BIDADARI

Marianne memijit-mijit jidatnya. Dia tak tahu kenapa adiknya menjadi sedikit aneh belakangan ini. Isabelle, menjadi begitu terobsesi dengan hal-hal yang berbau bidadari. Sebelumnya, Isabelle nyaris tak percaya adanya bidadari. Seperti kakaknya, bidadari untuknya tak lebih hanya ada di televisi dan dongeng anak-anak.

“ Bener, Kak. Tadi, aku melihat gadis cantik terbang. Di punggungnya ada sepasang sayap yang sangat indah, semacam bulu-bulu yang sangat lembut.” Cerita Isabelle. Awal dari beberapa kejadian yang menurut Marianne mulai tak masuk di akal.

Sementara itu, Isabelle mulai sibuk mencari informasi tentang bidadari. Apakah makhluk itu benar-benar ada atau hanya sekedar khayalan dan ilusi belaka. Di meja belajarnya, sudah ada bertumpuk-tumpuk buku mengenai hal itu. Begitu pula dengan berlembar-lembar print out bidadari yang didapatnya dari internet.

“ Kamu jangan gila, ya, Bel. Mereka nggak ada, jangan ngaco.” Komentar Marianne untuk yang kesekian kalinya.

“ Aduh…., Kak. Kalau mereka nggak ada, lantas apa dong yang aku lihat kemarin? Hantu? Setan? Apa, dong, Kak?”

Marianne hanya mengerutkan dahinya. Dasar adik keras kepala.

“ Lho bukannya bidadari itu termasuk golongan makhluk halus?” gumam Mar.

“ Bukan… mereka beda.”

“ Apanya yang beda? Toh, kalau beneran ada, mereka tak kasat mata, kan?” lanjut Mar.

Isabelle mendengus kesal. Entah berapa kali lagi dia harus menjelaskan pada kakaknya bahwa bidadari itu memang ada. Dia berani bersumpah telah melihat makhluk itu beberapa kali dalam berbagai kesempatan, entah itu di rumah, di sekolah, bahkan di halte bus.

***

Hujan rintik-rintik kali ini semakin menenggelamkan Marianne dalam angannya. Dia melamunkan banyak hal yang indah yang tak mungkin dia jumpai dalam kenyataan. Dari luar rumah, sosok Marianne terlihat jelas karena dia duduk di belakang meja belajarnya yang menghadap ke jendela. Mar tak sadar, sedari tadi ada sepasang mata bening yang memperhatikan segala polah tingkahnya.

Angan Mar masih berputar di awang-awang, ketika Isabelle tiba-tiba saja datang dan mengagetkannya. Bocah kecil itu berhasil membuyarkan lamunan-lamunan indah yang sedang dirangkai kakaknya.

“ Hayo…..Kakak melamun, ya? Ntar kesambet lho, Kak.” kata Isabelle.

“ Ah, nggak.” Ujar Mar sedikit tergagap, berusaha menutupi malu karena tertangkap basah sedang melamun.

“ Buat apa melamun, emang nggak ada kerjaan lain? Kakak, kan, lagi memandangi hujan.” Lanjut Mar sambil pura-pura sibuk memperhatikan jarum-jarum air yang sedang meluncur ke bumi itu.

“ Kak, siapa dia?” Isabelle melontarkan kata itu begitu saja ketika matanya saling beradu pandang dengan sesosok gadis yang berdiri di seberang jendela.

“ Yang mana?” Mar mencari-cari orang yang dimaksud oleh adik bungsunya itu.

“ Itu, dia pakai baju biru muda.” Telunjuk Isabelle diarahkan tepat ke sosok yang dimaksud. Sosok itu membalasnya dengan senyuman yang manis, “ Aih… dia cantik sekali, Kak.” Gumamnya.

“ Duh, Bel, kamu lihat apa? Di situ nggak ada apa-apa.”  Tegas Mar.

Isabelle dan Mar terlibat perdebatan yang seru. Mereka saling melontarkan pendapat masing-masing bahwa apa yang mereka lihat adalah benar. Isabelle melihat perempuan berbaju terusan sutra berwarna biru muda dan memakai tiara yang berkilauan, sementara Marianne tak melihat apapun juga kecuali pohon-pohon cemara yang berjajar.

Sampai akhirnya kakak beradik itu lelah berargumen. Lagipula, apa yang dilihat Isabelle sudah tak ada lagi di tempatnya. Rasa penasaran meliputi keduanya, tentang apa yang sebenarnya terjadi barusan.

***

Isabelle berlari-lari di bukit yang luas. Bukit yang indah mengingat aliran sungai yang jernih membelah di antara tanah-tanahnya. Jembatan-jembatan kecil dari kayu oak menjadi penghubung yang kokoh berdiri di atas sungai itu. Danau yang berada di sebelah timur bukit itu memantulkan warna keemasan sinar matahari yang mengintip dari balik dua gunung yang berjajar di seberang bukit.

Seperti taman yang sangat menawan, hamparan rumput hijau di bukit itu seperti permadani yang tak berujung. Bunga-bunga yang berwarna-warni juga tersebar di berbagai tempat menambah keharuman yang tak terlukiskan. Di beberapa tempat, ilalang tumbuh subur tanpa mengganggu keindahan pemandangan di sekitarnya. Isabelle merasakan kedamaian luar biasa, dia merasakan ketenangan dan kegembiraan.

“ Cantik, kau suka di sini?” sapa seseorang di balik punggung Isabelle.

Isabelle mengenali orang yang menyapanya. Dia gadis itu, sosok yang dilihatnya kala rintik hujan tempo hari. Kali ini gadis itu memakai terusan sutra berwarna pink, tiaranya masih berkilauan.

“ Maaf, nona siapa?” balas Isabelle.

Nona yang dimaksud Isabelle tersenyum tipis. Dia menjetikkan jemarinya dan beberapa burung merpati pun terbang ke angkasa dengan bebasnya.

“ Aku Maura, seorang bidadari. Aku yang selama ini kau lihat, Cantik.” Tuturnya ramah, “ Sekarang kau ada di negeriku. Kau sangat ingin berkunjung ke tempat ini kan?”

Isabelle terkejut dan masih terbengong. Antara percaya dan tidak, dia mengucek matanya berulang kali.

“ Percayalah, Cantik. Kau berada di negeri bidadari.” Maura berkata dengan lembutnya, “ Kau pasti ingin berjalan-jalan, kan? Missy dan Tiana akan menemanimu berkeliling negeri kami.”

Dari balik gadis itu muncul dua sosok bocah seumuran Isabelle. Seperti Maura, mereka memakai terusan sutra dan bertiara. Missy yang berbaju kuning tersenyum malu-malu sambil menyerahkan balon-balon di tangan kanannya pada Isabelle, sementara Tiana langsung menggadeng tangan Isabelle dan mengajaknya berlarian.

“ Bermainlah. Aku akan kembali sebelum langit memerah.” Tiba-tiba saja sepasang sayap muncul dari pungung Maura. Sayap-sayap yang mulai terkepak itu pernah dilihat Isabelle sebelumnya. Maura melambaikan tangan pada mereka bertiga dan terbang. Isabelle takjub melihatnya.

“ Kami juga punya sayap, tapi Ratu Bidadari belum memperbolehkan kami menggunakannya.” Ucap Tiana dengan menunjuk punggungnya. Ada sepasang sayap kecil yang terkepak pelan di sana.

“ Karena kami masih anak-anak, sayap-sayap kami masih lemah.” Bisik Missy.

Di bukit itu mereka bermain sepuasnya, berlari, bercanda, tertawa.

***

“ Isabelle, bangun !” Marianne menggoyang-goyangkan tubuh adik kecilnya itu. Hari sudah beranjak siang dan jam di dinding sudah menunjukkan pukul sembilan tepat.

“ Kak, Kak, aku bertemu bidadari lagi.” Teriak Isabelle begitu terbangun dari tidurnya.

“ Bel, itu cuma mimpi. Sekedar mimpi.” Tegas Mar.

“ Bener, Kak. Kenapa Kakak nggak percaya sama Abel? Aku baru saja dari negeri mereka. Aku bermain dengan mereka.” Yakin Isabelle.

“ Jangan asal, deh, Bel. Kamu belum beranjak dari tempat tidur, jadi nggak mungkin sampai ke negeri orang tanpa keluar dari kamar ini.”

“ Kak…”

“ Udahlah, Bel. Kamu, tuh, makin ngawur saja. Di pikiranmu cuma ada bidadari, bidadari, dan bidadari mulu. Nggak sehat, loh, soalnya kamu nggak bisa mikir yang lain. Ok?! Sekarang bangun, bantuin Mama di dapur.”

***

Malam ini Isabelle merasa sangat sedih. Tak seorang pun mempercayainya, padahal seratus persen dia yakin bahwa dia telah melihat bidadari. Maura, Missy, dan Tiana bukan khayalannya semata.

“ Mungkin itu khayalan Isabelle bersama mainan-mainannya, kali, Ma. Anak itu, kan, suka sekali main boneka.” Suara Papa yang tak sengaja didengar Isabelle itu berhasil menghempaskan asanya bahwa bidadari itu memang ada.

“ Bel, percaya sama Kakak. Bidadari itu hanya fantasi, nggak nyata. Jangan sampai kamu terkontaminasi sama yang nggak-nggak seperti itu, jangan terobsesi sama yang nggak bener.” Ucap Mar melihat adiknya murung di tepi kolam ikan.

Entah bagaimana lagi yang harus Marianne lakukan agar si kecil Isabelle bisa kembali seperti dulu, jauh sebelum dia mengenal segala hal berbau bidadari. Mar merasa pikiran-pikiran Isabelle tentang bidadari kini semakin keterlaluan. Sejak bercerita bahwa dia baru saja diajak berkeliling negeri bidadari, Isabelle yang jago melukis itu tema karyanya  tak pernah beranjak dari bidadari. Padahal, tanpa diketahui Mar, itulah cara terakhir Isabelle untuk meyakinkan orang-orang bahwa bidadari itu ada. Apa yang dilukis Isabelle adalah penerjemahan dari apa yang dilihatnya tentang bidadari selama ini. Isabelle telah melukis taman bidadari, jembatan oak di bukit bidadari, bahkan rupa Maura, Missy, dan Tiana mirip seperti aslinya. Isabelle hanya ingin mengatakan bahwa dia tidak berbohong, dia masih waras. Tapi, tak ada seorang pun yang peduli.

Langit yang dihiasi ribuan bintang yang berpendar malam ini terlihat begitu kontras dengan apa yang dialami kedua kakak beradik itu. Keduanya hanya saling membisu karena prinsip yang berbeda. Mereka tak lagi ingin berdebat siapa yang benar ataupun yang salah, sebab mereka sudah lelah. Marianne cuma ingin menemani adik tersayangnya agar tak sendirian di malam ini, dia tak ingin menghibur karena tetap saja akan sia-sia. Isabelle tahu kakaknya sedih melihatnya, tapi dia yakin suatu saat nanti Marianne akan percaya padanya.

“ Tuhan, bantu aku meyakinkan Kakak.” doa Isabelle dalam hati.

Dia teringat cerita Missy dan Tiana tempo hari bahwa tiap manusia mempunyai satu bidadari yang menjaganya. Bidadari itu bisa saja terlihat, bisa juga tidak. Setiap ada manusia yang tidak percaya pada keberadaan para bidadari, maka bidadari penjaga yang diutus untuk melindungi orang tersebut akan melemah dan mati. Dan  Isabelle tidak ingin hal itu terjadi pada kakaknya.

“ Maura, aku butuh bantuanmu.” Bisiknya kemudian.

Entah sudah berapa jam Isabelle dan Marianne terpaku di tepian kolam ikan milik keluarganya itu. Mereka masih tetap saling diam, meski sesekali saling melirik. Udara malam yang dingin tak membuat kedua gadis itu beranjak dari tempatnya. Mereka masih berkutat dengan pikiran masing-masing, antara percaya dan tidak percaya atas adanya bidadari.

“ Selamat malam, Marianne.” Seseorang berbisik di salah satu telinga remaja itu. Mar terkejut dan langsung menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya gadis cantik seumurannya duduk di sampingnya. Gadis itu memakai terusan ungu muda dan tiara yang berkilauan. Sayapnya sudah terkatup.

“ Kau… kau.. siapa?” tanya Mar tergagap.

Gadis itu menatap wajah Mar dan mereka saling beradu pandang. Perasaan aneh menyelimuti Mar, antara takut dan damai. Kemudian gadis itu menyunggingkan seulas senyum yang menyejukkan bagi jiwa-jiwa yang resah.

“ Isabelle benar, dia anak manis yang tak pernah berbohong atas apa yang pernah dikatakannya padamu. Percayalah.” Dari bibir tipis gadis itu meluncur kata-kata yang lembut berbalut tutur bahasa yang indah.

Marianne tak mengerti apa yang terjadi. Dia bingung dengan apa yang dilihatnya, terutama gadis itu. Apalagi ketika Mar melihat ada sepasang sayap dengan bulu-bulu seperti kapas  yang tiba-tiba muncul dan terkepak dari punggung gadis asing itu. Mar merasa kepalanya berputar dan melayang.

Dia tak ingat lagi apa yang terjadi kemudian.

***

NOTES : cerpen ini dimuat di majalah kaWanku no.42-2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s