BINTANG JATUH

Alam adalah suatu misteri. Dia menyimpan sejuta rahasia yang tak akan pernah habis untuk dipertanyakan. Seperti langit pada malam ini yang terlihat begitu menakjubkan.

Hamparan hitam nan indah menyapa Kasih tatkala ia mendongakkan kepalanya ke atas. Kabut tipis seperti awan yang berarak seolah malu-malu bermain dengan bintang-bintang yang bertaburan. Seandainya saja sang rembulan ikut serta mungkin malam ini akan menjadi sempurna.

“Cantik banget, ya.” ujar Adia memecahkan keheningan. Kasih mengangguk setuju dengannya.

“Hmfh…rasanya damai banget kalo liat bintang di malam hari.” Runa membuka suaranya, melengkapi perkataan Adia.

“Andaisaja kita bisa tiap hari bareng-bareng liat bintang.”gumam Adia.

“Iya, ya. Sayangnya kita telat.” Balas Kasih mengiyakan.

“Bentar lagi kita bakal pisah, coba kita sadarnya dari dulu pasti udah ratusan konfigurasi langit yang kita lihat bareng-bareng.” Imbuh Runa.

Kasih dan Adia memalingkan muka mereka ke arah Runa, “Konfigurasi langit?”

“Iya.” Runa mengangguk mantap. “Langit, kan, nggak pernah sama. Jangankan dari hari ke hari, ganti detik aja udah pada berubah. Yang warna langitnya lah, bentuk bulannya lah, awan-awannya lah, atau bintang-bintang yang menghiasinya. Dan itu, kan, nggak pernah berulang. Jadi bayangin kalau kita sering liat langit kayak sekarang ini, udah berapa ratus konfigurasi yang pernah kita lihat bareng, coba?!” tuturnya penuh semangat.

“Emang namanya konfigurasi, ya, Na?” komentar Adia yang sebenarnya tidak yakin dengan istilah yang dipakai Runa. Terlalu tinggi, mungkin.

“Um…nggak tahu, sih. Tapi, kurang lebih kayak gitu, deh.” ujar Runa sambil tersenyum. Raut mukanya sangat lucu, dia gadis yang lugu dengan pemikiran sederhana tapi kadang justru mengagetkan semua orang.

Mereka bukanlah sahabat biasa. Mereka saling mengenal sejak bertahun-tahun yang lalu, ketika mereka masih sama-sama anak ingusan dan hingga detik ini ketika mereka sedang bermetamorfosa menjadi gadis-gadis yang cantik.

Malam ini ketiga perempuan muda itu sengaja menghabiskan waktu bersama di lantai paling atas gedung tua itu. Untuk melihat bintang dan mengingat kembali segala yang pernah terjadi pada diri mereka. Sebelum saat itu tiba, masa di mana mereka harus rela membiarkan jarak merentang di antara raga mereka.

“Inget nggak, kita pernah pura-pura sakit waktu orientasi siswa baru?” ujar Kasih.

“Kamu, kali, yang pura-pura. Aku, sih, sakit bener.” Jawab Runa, menggigit gorengan yang tadi sempat dibelinya saat perjalanan ke tempat ini.

“Habis acaranya ngebosenin. Kalau nggak gitu, mungkin aku nggak bakal kenal kamu, kan?”

“Kamu, kan, emang udah niat kenalan sama aku.” canda Runa.

“Niat? Nggak pernah ada, tuh. Terpaksa aja kenalan ama kamu, itung-itung anak baru cari temen senasib he..he..” Kasih menjawab sekenanya, lantas tertawa kecil.

Adia hanya tersenyum melihat kedua temannya. Dia mencoba mengingat kembali memori mereka bertiga yang paling membekas.

“Kalau lihat langit malam ini, aku jadi ingat waktu kita kemah bareng-bareng.” Kata Adia singkat.

“Aku nggak bakal lupa, tuh. Masa orang  secantik aku disuruh mencium boneka yang bau menyan?! Udah gitu, disuruh kita sekelas harus merangkak di atas lumpur dan nyebur ke danau, lagi.” Ingat Runa.

“Yang bikin bete adalah hidup tanpa cemilan. Kamar mandinya jauh dan gelap. Trus, transportnya naik truk sapi. Alamak…!” tambah Kasih.

“Iya, kita jadi korban penindasan kakak kelas. Penggencetan terselubung. Penyiksaan, deh, pokoknya.” Sahut Adia.

Mereka tertawa, membagi kebahagiaan bersama lewat kenangan yang mungkin nyaris usang.

Detik merambat berlalu. Entah sekarang jam di dinding menunjukkan pukul berapa. Mungkin sudah larut karena hawa yang berhembus semakin terasa dingin.

Sebentar lagi… sebentar lagi… waktu itu akan tiba.

Runa meminum secangkir kopi hangat yang baru saja dia buat hingga tandas. Matanya menerawang ke atas, menjelajahi langit yang penuh dengan tarian bintang-bintang. Pun dengan Adia dan Kasih.

«««

Langit cerah di atas kepala mereka, tidak pernah menjadi sesuatu yang kelam di malam hari ini. Bayangan perpisahan dan bentangan jarak memang terus menguntit mereka. Tapi, perpisahan bukanlah momok yang sangat menakutkan dan harus dihindari. Toh, setiap ada pesta dan perjumpaan pasti akan ada akhirnya, entah itu nantinya menyisakan mimpi buruk atau justru sesuatu yang berharga dan sangat manis. Jodoh yang telah ditentukan Tuhan, seperti misalnya yang berwujud dalam kebersamaan, juga mempunyai batasnya.

Perpisahan sebenarnya menyedihkan untuk ketiga gadis itu saat ini, ujian terberat bagi sesuatu yang mereka namakan persahabatan. Karena tiap orang tidak akan pernah bisa menebak apa yang akan terjadi setelah perpisahan datang. Mungkin perpisahan akan mendewasakan manusia-manusia yang mengalaminya. Tapi, mungkin juga perpisahan akan membuat perubahan di antara mereka. Kehangatan yang pernah dirasakan kadang bisa berubah menjadi suatu keterasingan bagi persahabatan, meski hal itu telah terjalin lama. Suatu hari kelak, semua mungkin tidak akan pernah menjadi sama lagi. Meski sebenarnya suatu persahabatan yang tulus adalah persahabatan yang tidak mengenal akhir, apapun yang terjadi dalam perjalanannya.

«««

“Hei..pernah lihat bintang jatuh, belum?” tanya Adia sembari mengancingkan jaketnya hingga menutupi leher. Angin malam tak boleh dibiarkan menusuk kulit terlalu lama.

Runa dan Kasih menggeleng pelan.

“Eh..pernah, kali, waktu lihat sinetron-sinetron di tivi itu. Kayaknya pernah, deh.” Celetuk Runa.

“Runa sayang, bukan yang kayak gitu.” Protes Adia dengan muka ditekuk.

“Jadi yang gimana?” sahut Kasih dan Runa berbarengan. Kompak.

“Yang langsung. Maksudnya, kamu langsung lihat dengan mata kepala kamu sendiri.”

“Um…”

“Kalau gitu, kita harus mendongak ke langit terus, dong, Di? Biar bisa lihat bintang jatuh?”

“Nggak capek, tuh, Di, soalnya kita nggak tahu kapan bintang-bintang di langit itu akan jatuh, kan?”

Adia memelototkan  matanya yang bening. Dia tak bisa menebak apakah kedua sahabatnya itu pura-pura bodoh atau memang polos dalam hal ini.

“Eh, kamu tahu nggak, kalau kita lihat bintang jatuh dan kita make a wish, tuh permintaan bakal jadi nyata.”

“Ala…cuma mitos, tuh ! Takhayul ! Syirik !!! Nggak boleh sama agama !”

“Ye..dibilangin ! Itu juga, kan, katanya, kalau nggak percaya, ya, udah.”

“Tapi, ada juga yang ngomong kalau bintang-bintang itu adalah penjelmaan orang-orang yang kita sayangi yang sudah ada di surga. Ibaratnya, mereka muncul sebagai bintang karena pengen menengok kita.”

“Masa, sih?”

“Mungkin.”

“Yang aku denger malah kalau ada bintang jatuh berarti bakal ada sesuatu yang terjadi di bumi ini. Semacam pertanda, gitu. Biasanya sesuatu itu adalah sesuatu yang buruk.”

“Hush… hati-hati kalau ngomong.”

“Eh, bener, lho.”

“Sepertinya bintang jatuh itu cuma peristiwa alam biasa, deh. Soalnya anytime dan anywhere. Lagian terjadinya juga tiap hari.”

“Itu, tuh, asteroid yang melewati bumi.”

“Bukannya meteor?”

“Yaelah, gimana, sih, namanya bintang jatuh ya.. bintang yang jatuh.”

“Gitu, ya?”

“He.. he.. nggak tahu juga, sih.”

“Huuu… nggak yakin, kok, digembar-gemborin.”

“Eh, ngomong-ngomong bintang jatuh bisa dibikin ramalan bintang, nggak, ya?”

“Kalau ramalan cuaca?”

Runa, Adia, dan Kasih menjadi ribut. Mereka saling beradu argumen tentang bintang jatuh, melemparkan pertanyaan dan pendapat atas bintang-bintang itu serta bercanda tentangnya.

Bintang jatuh, ya.. hanya bintang jatuh.

Fenomena yang begitu indah bila dilihat nyata, apalagi bila bersama orang-orang terdekat atau yang kita sayangi, orang-orang yang memberi arti pada hidup kita.

Ketiga sahabat itu, atau penghuni bumi yang lainnya berhak mengemukakan pendapatnya tentang sang bintang dengan pikiran mereka masing-masing. Sebab satu bintang terlalu luas untuk dijabarkan dalam kata-kata. Karena setiap orang mempunyai bintang mereka sendiri-sendiri, yang akan selalu menemani dan menjaga mereka meskipun mereka tak pernah mengetahuinya.

«««

Persahabatan adalah takdir yang indah. Meskipun tidak selamanya menyenangkan, persahabatan akan selalu manis untuk untuk dikenang. Berterimakasihlah pada sahabat-sahabat kita. Karena mereka, kita sadari atau tidak, telah menghiasi lembaran kenangan kita dan membantu kita mengoleskan warna pada tiap bagian hidup kita. Mereka membantu kita menjadi diri kita yang sekarang.

“Tuhan, semoga persahabatan kami abadi. Apapun yang akan terjadi.” Bisik Runa dalam hati.

Dalam detik itu pun bintang jatuh menghiasi sang raja malam.

………………………………………….

NOTES : cerpen ini pernah dimuat di kaWanku no.39-2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s