DISKON

Salah satu pusat perbelanjaan.

Tak begitu ramai seperti biasanya.

“Ada diskon, sampai tujuh puluh lima persen.” Katamu

Iya, aku melihat tulisannya di poster, sebelum kita masuk tempat ini.

“Wah…. ada yang didobel diskonnya. Nambah dua puluh persen.” Katamu.

Iya, lumayan tuh.

“Kalau diskon terus seperti ini, bisa beli banyak barang dengan isi dompet yang sama.” Katamu. Lantas terkekeh manis.

Iya, tapi apa kau tidak mengerti bahwa harga barang-barang itu selalu dinaikkan terlebih dahulu sebelum akhirnya diberi label diskon?

“Cantik sekali gaun ini. Pas buat ke kawinannya temenku minggu depan.” Katamu.

Iya, memang cantik. Bahannya halus hampir menyerupai sutera, tentu saja tidak akan membuatmu merasa kegerahan di tengah pesta. Warnanya hijau tua, warna favoritmu. Ada pula taburan bebatuan warna-wani yang berkilau menghiasi beberapa bagian gaun itu. Dan yang pasti, kau akan semakin mempesona bila mengenakannya di malam hari.

“Satu juta delapan ratus empat puluh sembilan. Cuma diskon sepuluh persen.” Katamu.

Iya.

“Ehm… wangi parfumnya lembut ya. Aku suka.” Katamu.

Iya, aromanya dari bunga-bungaan tropis. Mengesankan sisi kelembutan perempuan mandiri. Kau bisa menyemprotkannya di tubuhmu, biar terus wangi sepanjang hari.

“Empat ratus lima puluh. Diskon dua puluh lima persen. Harga promo.” Katamu.

Iya.

“Eh, sepatunya keren. Modelnya vintage banget. Oke nih buat gaya kemana aja.” Katamu.

Iya, sentuhan gaya 70-an emang membuat alas kaki yang kau lirik itu jadi keren banget. Hak-nya cuma tujuh senti, pas. Nggak akan bikin kakimu pegel, karena kau sudah terbiasa memakai sepatu yang hak-nya lebih dari itu dan biasa-biasa aja, kan.

“Sembilan ratus delapan puluh enam. Diskon empat puluh persen.” Katamu.

Iya.

“Atau kacamata ini aja ya? Keren deh.” Katamu.

Iya, pas sama bentuk mukamu. Mengingat sekarang sudah mau musim panas lagi, sunglasses sepertinya wajib ada di daftar barang bawaanmu ke mana pun. Jangan pilih yang berbingkai putih, coba yang memakai frame warna hitam, kau akan terlihat sangat elegan.

“Enam ratus enam puluh. Wow… diskon lima puluh persen.” Katamu.

Iya.

“Tas ini bagus, ya?” Katamu.

Iya, modelnya mirip seperti Birkin Bag yang selalu kau impikan itu. Tak perlu banyak pertimbangan lagi, kau harus memilikinya. Apalagi tas yang sekarang sedang kau pegang itu diberi embel-embel limited edition.

“Satu juta tujuh ratus dua puluh lima. Diskon tiga puluh persen. Kalo member di konter ini bisa nambah diskon sepuluh persen lagi.” Katamu.

Iya.

“Kaos aja deh, kayaknya lucu-lucu gitu. Yang ini lagi ngetren ya, apa yang itu aja seru banget.” Katamu.

Iya, meskipun aku tau kau sudah punya satu lemari penuh kaos-kaos yang kau bilang lucu. Jangan warna merah muda, kau tak begitu cocok dengan warna itu. Lebih baik kau memilih kaos yang bertuliskan ‘Take It Easy’ daripada kaos yang memasang tulisan ‘My Life is a Party’ karena mulai detik ini kau harus belajar untuk tidak terlalu pusing memikirkan masalah-masalah yang sedang kau hadapi. Apa? Kau mau beli kaos Rollingstones yang sekarang sedang in? Apa kau tau siapa vokalis band itu? Atau kau mau jadi kembaran ribuan orang yang bersliweran di mall ini?

“Seratus ribu. Diskon dua puluh persen. Tambahan diskon lagi sepuluh persen.”

“Kalau yang ini enam puluh, diskonnya tiga puluh persen. Nggak ditambah.”

“Atau yang itu aja, dua kaos harganya seratus dua puluh lima.” Katamu.

Iya.

Bed cover atau tea-set? Bingung… buat kado meritnya si Dania sama Randi. Kamu dapat undangannya juga, kan? Minggu depan.” katamu.

Iya, kau suka sekali memberi kado pada teman-temanmu. Jangankan untuk kawinan, kau pun sering memberi hadiah tanpa perlu suatu alasan atau perayaan.

Bed covernya tebel, kainnya bagus. Harganya dua juta setengah, diskon dua puluh persen. Dania pernah bilang pengen punya bed cover kayak gini.”

“Apa tea-set aja? Mereka kan pecinta teh sejati. Yang ini tea-set model Jepang, impor langsung dari sana. Satu setengah juta, diskon tiga puluh persen.”

Iya, semuanya bagus. Kau pasti bingung memilih kado untuk sahabatmu itu. Tapi ngomong-ngomong, adakah alternatif lain untuk kado kawinan selain bed cover dan tea-set?

“Bonekanya lucu banget, empuk lagi.” Katamu.

Iya, kau kan suka sekali boneka beruang. Bulu-bulunya yang ini lebih lembut, lebih bagus jika kau memilih yang berwarna coklat muda, yang pakai pita krem itu. Nanti, bisa kau letakkan di samping bantalmu.

“Dua ratus tujuh puluh lima. Diskon dua puluh lima persen. Member bisa dapet harga khusus, jadi cuma seratus lima puluh aja.” Katamu.

Iya.

“Kenapa kau tidak membeli semuanya?” Tanyaku.

“Tidak.” Jawabmu.

“Tapi, kau menginginkan semua itu kan?” Tanyaku.

“Tidak.” Jawabmu.

“Lalu untuk apa kau bilang ini-itu tentang barang-barang itu dari tadi?” Tanyaku.

“Tidak untuk apa-apa.” Jawabmu.

“Kau ingin aku membelikannya untukmu?” Tanyaku.

“Tidak.” Jawabmu.

“Kau akan membelinya sendiri?” Tanyaku.

“Tidak.” Jawabmu.

“Kenapa?” Tanyaku.

“Karena aku tidak ingin.” Jawabmu.

Dan kau pun berlalu dari tempat itu.

(mei 2008)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s