Ketika Kerak Telor Tergeser Burger

Apa yang pertama kali terbersit di pikiran kita ketika mendengar Kemang?

Ya, Kemang. Sebuah kawasan di daerah Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Pinggir jalan Kemang penuh dengan bangunan besar dan megah yang kebanyakan difungsikan sebagai pusat ekonomi dan perdagangan. Tak heran, ketika memasuki wilayah tersebut, deretan toko, butik, galeri, hingga bar and lounge akan menyambut seolah mengatakan selamat datang di Kemang.

Kemang menjelma menjadi salah satu kawasan elit di Jakarta. Disanalah tempat bermukim banyak ekspatriat. Kehadiran pertokoan dan tempat makan hampir di sepanjang jalan di kawasan itu pun lantas menjadikan Kemang sebagai tempat gaul yang identik dengan gaya hidup kelas atas.

Mengingat Kemang seperti mengingat sisi gemerlap masyarakat urban. Terutama di malam hari dan di akhir pekan, denyut kehidupan di Kemang seperti efek orang yang kebanyakan minum kopi. Cepat dan bergairah.

Wajah Kemang terlihat kontras dengan masa lalu. Di tahun 1950-an, kawasan Kemang masih berupa perkebunan. “Pada waktu itu, pekerjaan utama orang-orang di sini berkebun, memelihara sapi, juga pabrik tahu,” ujar H. Toing Marunda, salah satu pelestari budaya Betawi.

Kondisi lingkungan yang strategis menjadikan Kemang sebagai salah satu tempat yang diincar oleh para pekerja asing. Kaum ekspatriat mulai masuk sekitar tahun 1970-an. Sekitar satu dekade berikutnya, kawasan ini mulai berkembang sebagai pusat perekonomian dengan mulai bermunculannya kafe, hotel, restoran, dsb.

Di masa lalu, kawasan Kemang menjadi salah satu tempat bermukimnya masyarakat Betawi. Seiring berkembangnya jaman, masyarakat Betawi mulai mulai bergeser ke pinggiran, seperti Ciganjur, Srengseng, dan Setu Babakan. Kalaupun masih ada yang bertahan di Kemang, kita harus masuk gang di sekitar jalan tersebut untuk bertemu dengan mereka.

“Dibandingkan dulu, sekarang hanya sekitar 30% hingga 40% masyarakat asli Betawi yang masih bertahan di sini,” kata H. Edy Mulyadi Murtadho, seorang penggiat kesenian Betawi.

Bertahan Lewat Kesenian

Gempuran budaya asing yang masuk ke Kemang tak pelak menimbulkan kegamangan sendiri bagi masyarakat Betawi yang tinggal di kawasan itu. Bagaimana mungkin melestarikan budaya sendiri jika kaum mudanya lebih tertarik dengan budaya asing yang bertebaran di sekitarnya?

Jakarta bukanlah masyarakat yang terbagi atas kasta, terutama masyarakat Betawi yang terbuka. Namun sayangnya, pesona ekonomi di Jakarta yang menarik ribuan pendatang ke kota tersebut tak dapat dipungkiri ikut berpengaruh pada ikatan masyarakatnya.

Sikap yang terbuka tersebut, menurut Edy, sayangnya tidak diikuti dengan kemampuan untuk mempertahankan apa yang telah dimiliki masyarakat Betawi sendiri. Akibatnya, masyarakat Betawi mulai menyingkir ke pinggiran Jakarta.

Edy maupun Toing menambahkan kebanyakan orang Betawi di Kemang menjual tanahnya dengan alasan ekonomi. Warisan yang dibagikan kepada anak-anaknya. Tanah di Kemang dinilai mempunyai harga jual tinggi, sehingga hasil penjualan itu dapat dipakai untuk membeli tanah di tempat lainnya.

Dulu, masyarakat Betawi di Kemang beradaptasi dengan tidak meninggalkan budayanya. Masih ada upacara adat yang komplet, mengarak hajatan dengan ketimpring, palang pintu, kue buaya, dll. Masyarakat Betawi cukup bersahaja dan terbuka.

“Tidak ada istilah memisah antara budaya yang satu dengan yang lainnya. Tetapi, masyarakat Kemang sangat mempertahankan kultur budayanya,” kata Edy. Dia menambahkan, ketika perkembangan jaman, mulailah terkikis masyarakat Kemang tersebut karena banyak warga aslinya yang pindah. Hanya ada sebagian masyarakat yang bertahan. Masyarakat yang bertahan inilah yang umumnya mempunyai tingkat pendidikan yang lebih baik daripada masyarakat Betawi lainnya yang hidup di pinggiran kota.

Edy menjelaskan, sekarang ini ada beberapa budaya yang tidak sesuai dengan budaya Jakarta. Karena itulah, perlu ada tindakan agar masyarakat tidak perpengaruhi atau malah terjerumus dengan budaya luar yang tidak baik, seperti mabuk-mabukan, geng motor, dan melawan orang tua.

Budaya kontras yang mulai melingkupi Kemang, akhirnya mendorong sejumlah warga Betawi asli di daerah tersebut untuk bersikap. Kesenian dipilih menjadi jalur yang paling tepat untuk kembali memantapkan identitas ke-Betawi-an di lingkungan tersebut.

“Ketika kita melihat di Kemang ini sudah ada perubahan yang sangat dahsyat dengan kebudayaannya, dengan peradabannya. Ketika masuknya kafe-kafe, warung-warung yang sifatnya seni dan bar ini membuat pergeseran di masyarakat, akhirnya ada masyarakat kecil di Kemang yang masih peduli terhadap masyarakatnya. Mereka mencoba membangun peradaban,” tukas Edy.

Tak mudah mengawali hal yang tidak terlalu populer sebelumnya, seperti menggalakkan kesenian Betawi. Dimulai dari keluarga, kemudian menular ke masyarakat sekitar, perlahan tapi pasti kegiatan ini mulai diterima masyarakat.

Ketika didirikan enam tahun yang lalu, Sanggar Manggar Kelape pimpinan Edy hanya mengajarkan silat. Kemudian, berkembang dengan mengajarkan seni tari. Setelah tari, sanggar ini pun mengajarkan seni musik yang pada waktu itu dimulai dengan jenis musik marawis. Seiring waktu, yang diajarkan di sanggar ini berkembang hingga seni hadroh dan seni rupa.

Untuk anak-anak, sanggar tersebut menekankan pada pengajaran tari dan seni drama. Kaum remaja akan diajak untuk mengapresiasi sisi realigi melalui marawis, dsb. Sedangkan ibu-ibu akan diajak untuk lebih mengenal kuliner dan prakarya khas Betawi. “Bapak-bapak lebih ke support, karena kesehariannya mereka sibuk bekerja,” ujar Edy.

“Senang karena dapat banyak ilmu,” kata Nanda (10), bocah yang sudah lima tahun bergabung di sanggar tersebut. Hilman (23) dan Aji (16) yang mewakili kaum remaja pun berpendapat sama. Menurut mereka, apa yang dilakukan sanggar tersebut sangat membantu mereka untuk lebih mengenal budayanya sendiri. “Lebih banyak positifnya,” tambah mereka.

Selain seni lenong, musik, silat, dan tarian seperti yang diajarkan di sanggar tersebut secara gratis, perjuangan untuk melestarikan budaya Betawi juga dilakukan melalui media lain, seperti radio. H.Ahmadi Umar, misalnya, membangun Radio Citra Kemang dan membentuk grup samrah.

Melalui radio tersebut, ujar Toing yang menjadi kepala bagian siaran, ada banyak segmen yang menyiarkan dan memperkenalkan budaya asli Betawi. “Setiap hari pukul 06.30 sampai 7 pagi, kami memutar musik samrah,” ujarnya. Selain itu, menurut Toing, dengan menyesuaikan musik tradisional dengan musik anak muda, terbukti lebih mudah untuk menarik perhatian generasi muda untuk mempelajari budaya Betawi, “Jauh lebih baik.”

Eksistensi Budaya Betawi di Rumah Sendiri

Salah satu acara yang paling terkenal dari kawasan Kemang adalah Festival Palang Pintu. Festival ini merupakan bentuk aktualisasi kesenian masyarakat Betawi di kawasan tersebut. Acara yang tahun ini memasuki tahun keenam penyelenggaraannya itu menyajikan segala bentuk kebudayaan Betawi. “Ada tarian, silat, lenong, hingga kuliner,” kata Edy.

“Kita mengharapkan sanggar maupun acara ini mampu menjadi karang bagi peradaban di masa datang,” tambahnya. Menurut Edy, dengan adanya sanggar serupa yang mengajarkan kebudayaan lokal pada masyarakat, setidaknya ada lima hingga sepuluh orang terselamatkan. “Karena mereka peduli dengan kebudayaan,” imbuhnya. Tidak masalah apapun jenis budayanya dan dimana pun lokasi sanggar tersebut.

Kegigihan masyarakat Betawi dalam menjaga identitasnya, sayangnya, kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Pemerintah dianggap kurang pro aktif dalam mendukung upaya pelestarian budaya Betawi. Hanya datang ketika telah ada prestasi atau akan ada acara, namun hilang ketika harus melakukan pembinaan. Pemberian ijin penyelenggaraan pun masih memerlukan waktu yang lama. “Baru selesai tiga hari sebelum acara,” ucap Edy. Dengan kondisi seperti itu, langkah untuk semakin mengembangkan acara maupun menarik sponsor menjadi sedikit terhambat.

Toing, bahkan ingin suatu saat nanti Jakarta mempunyai gedung kesenian yang menampung segala bentuk kebudayaan Betawi. Dengan adanya fasilitas tersebut diharapkan mampu mewadahi kreativitas para penggiat kesenian Betawi. Dia juga berharap, kesenian Betawi lebih sering ditampilkan. Dalam penyambutan tamu, misalnya, tidak sekedar Abang-None saja yang dihadirkan sebagai simbol Jakarta.

Edy, Toing, dan seluruh warga Betawi sepertinya harus sepakat bahwa pelestarian budaya Betawi adalah hal yang sangat penting. Kesinambungannya harus terus dijaga. Karena itulah, sinergi masyarakat, pihak swasta, maupun pemerintah dibutuhkan untuk menjaga kelestarian budaya tersebut.

Jangan sampai orang Betawi justru menjadi penghias di rumahnya sendiri. Di Jakarta.

————————————————————————————————

*Notes : tulisan ini pernah dipublikasikan dalam Fokus Megapolitan – Media Indonesia, Juli 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s