Mereview Grand Hotel Surabaya

Apa yang diharap seseorang ketika menginap di hotel? Kenyamanan, kebersihan, dan fasilitas? Jelas. Pelayanan yang bagus? Tentu. Letak strategis? Pasti. Harga terjangkau? Apalagi yang ini!
Beberapa waktu ini saya sedang tugas di Surabaya dan menjatuhkan pilihan soal istirahat ini ke Hotel Grand Surabaya. Ini bukan pertama kalinya saya menginap di sini, terhitung sudah ketiga kalinya saya menginap di hotel yang terletak 5 menit jalan kali dari Plasa Surabaya ini.
Sewaktu pertama dulu, saya cukup amazed dengan hotel ini. Pelayanannya cukup memuaskan, begitu juga dengan kamarnya. Luas, fasilitas baik, dan harga terjangkau. Namun, setelah beberapa kali menginap di sini, saya merasa ada perubahan yang sayangnya justru tidak semakin baik.
Terakhir saya menginap di sini adalah pertengahan Juli ini. Hasilnya, saya bisa menyimpulkan dalam beberapa poin yang layak dijadikan pertimbangan di kemudian hari.
1. Tidak ada wifi di semua tempat, terutama kamar. Bagi seseorang yang sedang dalam tugas seperti saya, adanya akses wifi yang gampang tentu akan sangat membantu. Apalagi jika tiba-tiba modem sedang tidak bersahabat. Di hotel ini, wifi hanya tersedia di area lobi. Dengan menggunakan password, Anda bisa menikmati free wifi di sini. Sayangnya, meski sinyal wifi penuh, kecepatannya tak seperti yang diharapkan dan terkadang ngadat di tengah jalan.
2. Nyamuk !!!
Mendadak hilang konsentrasi rasanya saat Anda sedang ribet berseluncur di dunia maya, tapi di sisi lain harus bertahan dengan kaki gatal-gatal karena gigitan nyamuk. Inilah faktanya saat saya sedang memakai fasilitas wifi di lobi hotel. Banyak nyamuk yang tiba-tiba nguing-nguing di telinga saya dan mulai menggigiti kulit. Bentol-bentol? Tentu ! Dan ini sangat mengganggu. Sebenarnya penataannya sudah cukup bagus dan terlihat bersih, tapi entah darimana datangnya nyamuk-nyamuk nakal itu. Jangan bilang saya belum mandi, oh no ! Saya sudah mandi sebelumnya ! Yang kemudian menjadi catatan tambahan adalah serangan nyamuk tak hanya terjadi di lobi, tapi juga di kamar meski hanya satu-dua nyamuk dan tak sebanyak pasukannya di lobi.
3. Kunci.
Inilah kesalahan fatal dari pelayanan sebuah hotel. Suatu ketika saat saya baru pulang liputan dengan keadaan capek, harapan utamanya tentu saja segera merebahkan diri di kasur dan segera istirahat. Tapi yang saya temui sangat mengagetkan, yaitu saat mau membuka kamar pintu saya tidak tertutup rapat !!! Syok sekaligus curiga, jangan-jangan ada maling masuk ke kamar saya. Tapi saat saya langsung memeriksa kamar dan tidak mendapati barang yang hilang, dugaan saya adalah room service yang lalai menutup pintu lagi dengan rapat. Sederhana, tapi ini adalah sebuah kecerobohan fatal !! Bagaimana jika ada barang-barang saya yang hilang? Bukankah dengan pintu berkunci magnetik ini harusnya persoalan membuka dan menutup pintu jadi lebih gampang dan keamanannya lebih terjamin?
4. No debet?
Beberapa bulan lalu, saya bisa menggunakan kartu debet bank X untuk membayar sewa kamar plus depositnya. Tapi tak berselang lama, fasilitas yang harusnya mempermudah konsumen itu justru tak ada lagi. Saya sempat berargumen sembari bercanda dengan resepsionis yang mengatakan saat ini kartu debet bank X tidak bisa diproses, yang bisa hanya kartu dari bank Y. Ini sungguh konyol karena jelas-jelas saya pernah membayar tagihan lewat debet X. Tapi faktanya, memang setelah dicoba beberapa kali tetap tidak bisa. Bukankah ini sebuah kemunduran?
5. Makanan.

Rrasanya sih lumayan, tapi hotel ini sepertinya harus merombak lagi daftar, tulisan, dan rasa masakan di menunya.

Untuk sarapan, makanan dan minuman yang disediakan lumayanlah. Standar. Tapi untuk makanan yang dipesan melalui room service, ehhmmm… saya perlu berpikir ulang. Saya pernah memesan nasi goreng rawon. Dalam daftar menu, nasgor ini dikategorikan best seller dan rekomendasi nomer satu dari chef. Enak? Harusnya. Karena rasanya tak selezat yang saya bayangkan sebelumnya ! Kemudian, saya juga memesan sup kepiting asparagus. Ya, di menu jelas tertulis demikian, tapi ketika saya pesan, yang kemudian dikonfirmasi petugas dapur ternyata itu hanyalah sup asparagus ! Oalah..
Tak melulu soal keluhan hotel, bicara kelebihannya tentu saja ada. Letaknya cukup strategis alias mudah kemana-mana. Hotel ini berada di pusat kota, dekat dengan kantor pemerintahan dan pusat perbelanjaan. Pelayanannya ramah, pegawai-pegawainya cukup enak diajak ngobrol dan tidak pelit ditanyai. Soal rate kamar, termasuk terjangkau. Per 1 Juni 2012 kamar superior yang menjadi kamar termurahnya dibanderol dengan harga Rp 360.000 per malam.
Anda ingin mencobanya?

3 responses to “Mereview Grand Hotel Surabaya

  1. Hai Aprillia..
    Saya berencana mau menginap di hotel grand surabaya juga, tapi untuk lokasinya saya masih bingung. kira2 d dekat apa ya? ancer2nya dmn? sama WTC kira2 dimananya?
    makasihπŸ™‚

    • Hai sisi, lokasinya deket bgt krna ada di belakang WTC. Posisi hotel ini sejajar jalan utama dg Plaza Surabaya, di jalan satu arah itu ada di sebelah kanan kamu sebelum nyampe perempatan.

  2. oooh dsitu bukannya daerah gedung2 perkantoran ya?di daerah situ yaa? hehe, gak pernah lihat soalnya. dari delta plaza tinggal lurus aja ya? bukan belok ke arah WTC?
    maaf banyak tanya yaa, makasih sebelumnya klo bingung..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s