A curiosity is not a sin.

“My curiosity can kills a lion” (Dee Lestari)

index

U think, U live

Suatu hari, teman saya yang jengah dengan semua kekompleksan yang terjadi di diri dan sekelilingnya akhirnya bergumam menyerah. “Mungkin ini karena saya bodoh. Keingintahuan saya adalah kebodohan saya,” kurang lebih begitu ucapannya yang bisa saya tangkap. Ingin saya langsung menyahut waktu itu, tapi ternyata yang saya lakukan hanya diam. Membiarkannya terus mengomel.

Saat itu sebenarnya saya ingin memeluknya, atau paling tidak menggenggam tangannya dan berkata, “Saya tahu sesuatu telah terjadi. Saya tidak mau mendesak kamu bercerita. Saya percaya kamu bisa menghadapi dan menyelesaikan semuanya. Apapun yang sedang terjadi sekarang, yang mungkin tidak ingin kamu ceritakan pada saya. Tapi satu hal yang perlu kamu tahu, saya ada di sini kapan pun kamu butuhkan. Mungkin saya diam, tapi saya di sini untukmu. Saya yakin, kamu akan baik-baik saja.” Entahlah, harusnya saat itu saya berkata demikian padanya, berharap bisa menenangkan dan sedikit meredakan amarahnya. Tapi, saya justru sengaja membiarkannya seperti itu. Galau dan uring-uringan sendiri. Yang saya pikirkan waktu itu, hanya ingin membiarkan dia menumpahkan seluruh kekesalannya, memaki atau apalah itu hingga dia lega, dan saya hanya akan mendengarkannya. Tak ada gunanya saya menimpali, karena orang emosi seperti itu tak seharusnya diajak berdebat dan dinasehati.

Kembali ke persoalan rasa ingin tahu dan kebodohan. Saya pikir, teman saya harusnya bangga dia memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Keingintahuan membuat seseorang tetap lapar, dan rasa lapar itu yang menurut saya mampu membuat seseorang berkarya dan survive. Rasa ingin tahu membuat seseorang mencari jawaban atas sesuatu. Pencarian itu yang akan membawa orang yang bersangkutan pada petualangan mencari jawab, entah lewat buku atau bertemu dan berdiskusi dengan orang-orang yang lebih ahli, atau justru orang-orang baru. Rasa ingin tahu membuat pikiran seseorang terus bekerja, menuntut orang tersebut untuk terus memasukkan informasi dan pengetahuan bagi otak maupun jiwanya. Itulah yang membuat seseorang pintar, bukan bodoh.

Dalam beberapa hal, terlalu ingin tahu memang menyebalkan. Kadang, seseorang yang rasa ingin tahunya terlalu tinggi pun bisa kewalahan dengan rasa ingin tahunya itu sendiri. Itu yang saya kira sedang dihadapi teman saya. Tak bermaksud sok tahu atau menganalisa, tapi memang seseorang harus memiliki kontrol atas dirinya sendiri, sambil tentu saja memahami batas-batas kemampuannya. Ketika kewalahan dengan rasa ingin tahunya sendiri, yang ada hanyalah lelah. Tak hanya lelah di pikiran, tapi juga perasaan. Rasa ingin tahu menjadi sebuah kebodohan ketika kita membiarkan diri kita terbelenggu dengan rasa ingin tahu itu sendiri.

Ada hal yang mungkin terlupa di sini, yaitu persoalan waktu dan kesempatan. Rasa ingin tahu lebih baik dipelihara dan dipupuk, asalkan bukan rasa ingin tahu berlebihan yang menyebabkan seseorang jadi mencampuri urusan dan hidup orang lain. Rasa ingin tahu beda dengan kepo. Dia akan menemukan jawabnya jika kita berusaha mencarinya, tapi dia akan berbalik menyetir kita dan membuat frustrasi saat rasa ingin tahu itu belum menemukan tempat dan kesempatannya untuk berkembang.

Ingin tahu itu bukanlah dosa dan bukan pula kebodohan. Dia anugerah. Stay hunger !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s