Balada Transportasi Publik di Ibukota

imagesHari ini saya bermimpi, tentang sistem transportasi yang ramah penumpang. Ramah. Cukup satu kata tapi punya beribu makna. Transportasi publik yang memanusiakan para penumpangnya rasanya memang masih sekedar angan di negeri ini, terutama di Jakarta. Di ibukota, tempat yang seharusnya lebih maju dan modern dibandingkan daerah-daerah lainnya di negara ini, transportasi publik tak ubahnya seperti neraka.

Jakarta dengan kesemrawutan lalu-lintasnya tak bisa dilepaskan dari para pengguna jalan yang sering ugal-ugalan demi mengejar waktu. Dari data Dinas Pelayanan Pajak DKI Jakarta tahun 2011 bahkan disebut 6.154.523 unit kendaraan yang menggunakan BBM premium berada di kota ini. Jutaan kendaraan inilah yang sering dituding sebagai pemicu kemacetan Jakarta.

Jakarta identik memang dengan macet. Jangankan di jalur biasa, di tol pun tak lepas dari fenomena ini. Salah satu solusi yang sering ditawarkan oleh para pakar adalah dengan mereduksi jumlah kendaraan dan menggantikannya dengan transportasi umum. Tapi, lihatlah kondisi transportasi publik di Jakarta, sudah layakkah menjadi andalan para warganya?

Metro mini dan Kopaja, dua bus kota yang sering jadi andalan warga ibukota kondisi armadanya seringkali tak memadai : reyot sana-sini, jok terkelupas, karatan, dan asap hitam mengepul kemana-mana. Angkot yang beroperasi di jalanan ibukota pun tak jauh beda. Belum lagi dengan maraknya aksi pemerkosaan dan kejahatan di transportasi umum akhir-akhir ini membuat para penumpang meningkatkan kewaspadaan dengan menghindari transportasi umum di malam hari.

Taksi pun harus benar-benar dipilih. Taksi sembarangan biasanya akan menetapkan tarif sembarangan pula, daripada memakai argo, taksi antah-berantah yang biasanya memiliki warna mobil hampir mirip dengan merek taksi tertentu ini umumnya akan langsung mematok tarif tertentu saat penumpang sudah di dalam mobil yang mulai berjalan. Sedangkan taksi yang sudah memiliki nama pun kadang tak kalah nakalnya, kalau lagi apes, bukannya akan cepat sampai tujuan, tapi kita justru diputar-putar di jalanan agar membayar lebih mahal.

Bagaimana dengan busway trans jakarta? 524 unit TJ yang melayani 11 koridor masih jauh dari kata solutif. Masih sering ditemui, para penumpang antre berjam-jam sebelum diangkut menuju tempat tujuan. Sudah antre, tak jarang mereka juga masih harus berdesak-desakkan di dalam bus. Pemberitahuan tempat berhenti bus pun nyaris tak terdengar dan kadang malah dalam kondisi mati.

Kondisi kereta api atau commuter line pun tak jauh beda, apalagi di kelas ekonomi. Belum lagi masalah keamanan seperti copet dan masih adanya beberapa orang tak bertanggung jawab yang memanfaatkan keadaan penuh sesak untuk melakukan aksi pelecehan seksual.

Panas, gerah, sesak. Tiga kata yang lazim ditemui untuk menggambarkan keadaan transportasi umum di Jakarta. Jangan bandingkan dengan sistem transportasi umum di negara lain, seperti Singapura misalnya. Ibarat langit dengan bumi. Tak sekedar masalah kenyamanan dan keamanan, tapi juga sistem dan keteraturan jadwalnya.

Sekali lagi, saya benar-benar bermimpi di negeri ini ada transportasi umum yang memanusiakan para penumpangnya. Bukannya justru menjebak para penumpang yang sudah cukup hectic dengan rutinitasnya ke dalam angkutan yang tak ubahnya seperti oven yang semakin membuat kepala berasap. Bukankah inti transportasi adalah memudahkan perpindahan orang dari satu tempat ke tempat yang lainnya, yang berarti pula kelancaran dan kenyamanan adalah hal yang mutlak ditekankan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s