No one can break your dream

Go and catch your dream, hey you dreamcathers !

Go and catch your dream, hey you dreamcathers !

Impian terbentuk tak hanya karena keinginan semata, tapi juga representasi harapan, pengukuran terhadap kemampuan diri, hingga mungkin ekspresi dari kekecewaan terhadap realita yang ada. Harapan yang akan terwujud dalam karya, begitulah kira-kira.

Saya yakin, impian setiap orang tidak datang tiba-tiba.  Pastilah ada proses yang melatarbelakangi kenapa seseorang tersebut memutuskan suatu hal sebagai impiannya. Tentu saja, proses yang akhirnya membuat orang tersebut menemukan banyak alasan yang menguatkan.

Impian tak hanya memerlukan usaha dan doa kita saja dalam mewujudkannya. Sebagai pejuang, terkadang kita butuh dukung dari orang-orang sekitar, mereka yang berada di lingkaran kita dan terutama orang-orang terdekat. Apalagi, tak selamanya kita bisa berdiri tegak dan kokoh berlari dalam mengejar impian. Ada kalanya kita lelah dan nyaris terkapar. Lantas, bagaimana jika mereka yang kita anggap bisa memberikan support terbesar justru memandang sebelah mata impian kita? Sakit. Itulah yang pernah saya rasakan. Pertentangan terbesar kadang justru datang dari orang-orang terdekat kita, bukan?

“Saya ingin jadi jurnalis dan bisa berkarya agar blab la bla ….” ujar saya di suatu ketika pada seorang yang waktu itu saya anggap dekat. Bukannya mendapat dukungan, tapi respon yang kemudian muncul adalah pertanyaan-pertanyaan yang akhirnya saya simpulkan sebagai kalimat “Kalau pengen jadi jurnalis, kenapa nggak dari dulu aja kuliah jurnalistik. Dengan ilmu kamu yang sekarang, nggak akan bisa. Kamu nggak mampu.” Syok pasti, sebab saya pikir orang itu telah mengenal saya. Tapi justru karena itu, semangat untuk mewujudkan impian semakin berkobar. Seperti ada semangat balas dendam untuk menunjukkan pada orang tersebut saya mampu meraih apa yang saya cita-citakan. Perlu waktu sekitar dua tahun kemudian saya baru bisa mewujudkan impian itu dengan bekerja sebagai jurnalis. Meski anggapan kawan lama saya itu sudah tak penting lagi sekarang, rasanya puas sekali ketika kita bisa mencapai keinginan kita di tengah cibiran orang lain. Maybe, it’s like a sweet revenge.

Perkataan maupun perbuatan orang lain yang berusaha menjatuhkan kita sebelumnya membuat kita menghargai apa yang kita capai sekarang, sekaligus menjadi pelecut semangat berkarya lebih baik lagi. Memang benar, what doesn’t kill you makes you stronger. Ketika kita lelah dan hampir menyerah, ketika kita seenaknya sendiri dengan apa yang kita punya sekarang, berbagai pengalaman di masa lalu itu seolah mengingatkan kita bahwa apa yang ada sekarang bukanlah hal yang mudah. Bahasa lebaynya, ada darah dan air mata, bukanlah suatu keajaiban yang datang tiba-tiba secara gratisan.

Cibiran atau apapun itu yang seolah merendahkan apa yang kita kerjakan memang akan selalu ada. Ibaratnya, semakin tinggi pohon maka akan semakin kencang pula angin yang menerpanya. Jika kita terus memikirkan ‘racun-racun’ dan penilaian orang lain, yang ada kita tidak akan berkembang. Banyak hal yang telah terjadi, banyak politik dan tangan-tangan tak terlihat yang sangat mungkin tak ingin kita berhasil. Tapi, selama kita berpegang pada kejujuran, tidak pernah berhenti berusaha, dan niat baik dalam berkarya, saya yakin suatu saat nanti mereka yang nyinyir itu akan terbungkam dengan sendirinya.

Berlian pun harus ditempa sedemikian rupa sebelum akhirnya bisa menjadi indah dan berharga mahal, bukan? Tetap semangat !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s