Memori 13 Mei

GambarSore itu tanggal 13 Mei 1998, saya bersiap mengikuti les di salah satu tempat pendidikan bahasa di pusat kota Solo. Diantar oleh ibu dengan menggunakan sepeda motor, tak seperti biasanya jalanan sedikit lengang. Tapi anehnya, beberapa ruas jalan tampak berantakan. Semakin ke pusat kota, semakin banyak warga yang berkumpul di pinggir jalan, banyak gedung yang kacanya pecah, ada bebatuan yang berserakan di jalan, dan beberapa asap mengepul dari ban-ban yang sengaja dibakar. Otak saya masih tidak tahu apa yang terjadi, dan saat itu tidak pernah mengira apa yang saya saksikan hari itu akan menjadi salah satu sejarah penting bagi bangsa ini.

Saat saya tiba di tempat les yang berlokasi di Jalan Slamet Riyadi, banyak orang berseru “Sudah sampai Pasar Nongko,” “setelah ini menuju Gladak,” dan lain-lain. Masih belum mengerti juga apa maksudnya, hingga saya sadar bangunan tempat saya belajar sudah nyaris tak punya kaca lagi. Pecah dan berserakan. Orang-orang di sana bilang, barusan dilempari batu oleh orang-orang tak dikenal.

Urung les, ibu langsung mengajak saya pulang. Kemudian saya tahu, di kota tempat saya dibesarkan itu sedang terjadi kerusuhan. Detik demi detik yang berlalu semakin mencekam. Kabar simpang siur terdengar, yang paling sering adalah bangunan-bangunan dan pusat pertokoan yang dibakar. Kawasan Coyudan, Mall Singosaren, pusat perbelanjaan Super Ekonomi, Matahari Beteng, dll satu per satu mulai dijarah massa dan hangus terbakar. Yang mengerikan, terdengar kabar beberapa orang diperkosa dan ada pula yang terpanggang hidup-hidup di dalam bangunan yang dibakar itu. Jam malam pun diberlakukan. images

Keesokan harinya tak jauh beda. Pagi-pagi saat berangkat sekolah, jalanan lebih berantakan dari biasanya. Rasanya senyap, miris, dan mencekam. Tak seperti pagi-pagi sebelumnya. Tak cukup ban yang terbakar, dengan masih menyisakan asap yang mengepul dan sedikit api. Tapi, saya melihat mobil, rumah, dan beberapa toko bernasib sama. Solo pagi itu begitu sepi dan dingin. Muram.

Siangnya, ada demonstrasi para mahasiswa di kampus UNS. Saya sempat melihat ratusan dan mungkin ribuan mahasiswa duduk di jalan raya di depan kampus, membawa spanduk dan poster-poster berisi protes dan hujatan, sambil mendengarkan orasi rekannya. Berpuluh-puluh aparat keamanan mengelilingi mereka, berjaga dengan senjata dan gas air mata. Di otak anak SD saya waktu itu, saya belum menyadari apa yang saya lihat hari itu adalah salah satu potret yang akan mengubah wajah demokrasi negeri ini.

Kampus sibuk dengan protes kaum intelektual, menuntut reformasi dan mundurnya Soeharto. Sementara, di jalanan rakyat makin tak terkendali. Kerusuhan menyebar hingga pinggiran dan daerah-daerah di sekitar Solo. Sebagai salah satu contohnya, saya melihat sendiri bagaimana orang yang entah dari mana itu tiba-tiba datang dengan teriak-teriak meracau, membawa semacam alat pemukul dan tongkat, kemudian menggedor-gedor pintu tetangga saya yang kebetulan beretnis Tionghoa. Kami yang tetangganya saja tidak pernah bermasalah dengan si pemilik toko, tapi massa yang tidak dibukakan pintu langsung saja memanjat tembok rumah, mendobrak pintu toko, kemudian keluar dari sana dengan menari-nari membawa barang-barang jarahan. Hal yang sama juga terjadi di salah satu supermarket di dekat rumah. Massa yang berjalan dari arah supermarket itu pasti membawa tentengan barang jarahan, dari baju, sembako, hingga alat-alat elektronik.

Satu hal yang pasti masih membekas hingga kini : rasa nyeri ! Ngeri melihat massa yang brutal waktu itu. Saya seperti tak lagi melihat orang-orang Solo yang terkenal ramah. Tiba-tiba mereka berubah menjadi bengis dan tak beradab. Memang tidak semua orang Solo dan sekitarnya menjadi demikian, tapi tetap saja aksi massa itu sukses membentuk sebuah trauma tersendiri bagi warga. Yang membuat miris, katanya para pelaku itu sebenarnya tak paham benar alasan mereka berbuat demikian alias hanya terpancing emosi dan provokasi. Parahnya lagi, sebagian besar dari mereka konon justru bukan warga asli Solo sendiri. Alamak!

imagesaaaSedih rasanya kota damai tempat tinggal kita menunjukkan wajah lainnya. Kata orang, Solo bersumbu pendek. Kelihatannya saja santai dan tenang, orang-orangnya halus dan berprinsip alon-alon waton kelakon. Tapi, begitu meledak, Solo akan jadi barometer bagi beberapa sektor di negeri ini, khususnya di bidang politik. Begitu Solo membara, tinggal tunggu waktu saja hal yang sama akan terjadi di kota-kota lainnya, termasuk di ibukota Jakarta. Itulah yang terjadi saat itu yang kemudian berdampak nasional dan terkenal dengan rangkaian peristiwa Mei 1998.

Kini, 15 tahun berlalu dan kehidupan masyarakat Solo kembali normal. Ekonomi sudah tumbuh, kota semakin maju, dan pembangunan di mana-mana. Secara fisik, bisa dikatakan Solo sudah pulih. Tapi, bagaimana dengan psikologinya? Apakah masyarakat Solo semakin solid atau justru masih rentan dan berpotensi meledak lagi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s