Romansa di Kaki Bromo

Memanjakan mata dengan keindahan matahari terbenam, itu sudah biasa. Tapi mensyukuri anugerah Sang Pencipta dalam bentuk sunrise, bagi seorang morning sleeper seperti saya ini, bisa dibilang jarang-jarang terjadi.

Penat dengan rutinitas yang jika terus diikuti bisa-bisa bikin badan ambruk, akhirnya saya memutuskan ‘menghilang sejenak’ ke Bromo, Jawa Timur. Sudah lama saya mengincar Bromo sebagai salah satu destinasi wisata wajib kunjung di Indonesia. Selain karena legenda-nya yang sudah akrab di telinga sewaktu saya duduk di sekolah dasar, tentu saja karena pesona sunrise-nya yang konon kesohor hingga mancanegara.

Bromo : Romansa Roro Anteng dan Joko Seger

Alkisah di jaman dulu, di sebuah desa di dekat Bromo, hidup seorang perempuan cantik bernama Roro Anteng. Nama ini diambil karena konon dia tidak menangis saat dilahirkan (dalam bahasa Jawa, anteng berarti diam). Banyak pria tertarik padanya, tak terkecuali seorang raksasa yang bersikeras melamar Roro Anteng. Si raksasa mengancam, jika perempuan itu menolak, maka dia akan membuat bencana di desa Roro Anteng.

Dengan terpaksa, Roro Anteng mengajukan syarat agar si raksasa membuatkan danau dalam waktu semalam. Syarat itulangsung  disanggupi sang raksasa. Dengan memakai batok kelapa, ia bersemangat mengeruk tanah untuk dijadikan danau. Melihat upaya si raksasa, tak pelak kekhawatiran menghampiri Roro Anteng. Perempuan itu kemudian memukul-mukul alu untuk mengesankan hari sudah pagi dan ayam pun berkokok.

Si raksasa kesal karena pekerjaannya belum selesai dan pagi mulai terjelang. Ia pun membanting batok yang digunakannya itu dan beranjak pergi. Batok itu kemudian berubah menjadi gunung yang sekarang disebut sebagai Gunung Batok, sedangkan bekas galiannya menjadi Segara Wedi atau hamparan pasir luas di sekitarnya.

Lepas dari ancaman raksasa, Roro Anteng pun menikah dengan pemuda tampan bernama Joko Seger. Sayangnya, meski telah sekian tahun bersama, mereka tak kunjung dikaruniai anak. Nazar pun diucapkan. Mereka akan mengorbankan salah satu anaknya jika nanti memiliki keturunan. Singkat cerita, permintaan itu dikabulkan para dewa, dan mereka harus memenuhi janjinya. Janji pada Pencipta segera dilaksanakan, keluarga Joko Seger menuju kawah Bromo dengan membawa serta berbagai macam sesajen hasil bumi. Salah satu anak mereka pun lantas terjun ke kawah.

Setelah itu, Joko Seger dan keluarganya hidup berbahagia di sekitar Bromo. Keturunan mereka sekarang kita kenal dengan nama Suku Tengger, penggabungan dari nama Roro Anteng dan Joko Seger. Setiap tahun, di tanggal 14 atau 15 bulan Kasada dalam penanggalan Jawa, mereka masih melaksanakan upacara adat dan menggelar ritual membuang sesajen ke kawah Bromo.

A Trip to Bromo : Perjalanan dan Penginapan

Dari Solo, kami sengaja memilih naik mobil hingga ke Bromo. Tentu saja keputusan ini dipilih dengan alasan lebih hemat daripada saya dan rombongan yang berjumlah 8 orang harus naik transportasi umum lainnya, seperti kereta ekonomi yang dilanjutkan dengan bison.
Setelah sekitar 10 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di penginapan saat waktu hampir menunjukkan pukul 12 malam. Dengan jumlah orang yang tidak sedikit, lagi-lagi dengan alasan penghematan, kami memutuskan menginap di vila milik warga Ngadisari. Vila yang bisa dihuni 7-10 orang tersebut tak jauh beda dengan rumah warga umumnya, dilengkapi dengan 3 kamar tidur dan 2 ekstra bed, 2 kamar mandi yang memiliki fasilitas air hangat, serta dapur dan free air di galon, kami mendapatkannya dengan harga 650 ribu rupiah per malam. Cukup murah bagi rombongan, mengingat harga kamar kelas ekonomi (fasilitas shared bathroom air dingin, kamar untuk 2 orang) di hotel backpacker pun sekitar 190 ribu per malam. Letaknya pun cukup strategis, di belakang Hotel Yoschi yang sudah melegenda di kalangan para backpacker atau sekitar 3 kilometer dari pintu masuk Taman Nasional Bromo Semeru.

 

Mengagumi Pesona Bromo

Petualangan di Bromo dimulai jam 3 pagi saat kami dijemput oleh jeep sewaan. Berkeliling Bromo tak bisa dilakukan dengan mobil sembarangan, maklum medannya lumayan curam dan berliku. Persewaan jeep ini diwadahi oleh kelompok yang dikelola oleh masyarakat setempat, jadi soal harga memang sudah disepakati bersama. Untuk mengunjungi 2 obyek wisata, yaitu melihat sunrise di Pananjakan dan ke kawah Gunung Bromo, persewaan jeep mematok harga 350 ribu. Sedangkan, jika ditambah ke bukit teletubbies (savana) dan padang pasir watu singo (pasir berbisik), satu jeep berkapasitas hingga 6 penumpang ini bisa disewa seharga 500-550 ribu rupiah. Ini belum termasuk tiket masuk kawasan Taman Nasional Bromo Semeru yang sekarang dipatok seharga Rp 12 ribu / wisatawan domestic dan Rp 68 ribu / wisatawan asing.

20130704-192357.jpg

Setiap hari, ratusan hingga orang real berdesakan di Puncak Pnanjakan demi menyambut matahari dan langit pagi di balik gunung ini.

  • Sunrise Pananjakan

Matahari terbit adalah primadona wisata Bromo yang konon keindahannya sudah mendunia. Meski telah berangkat sejak pukul 3 dini hari, ternyata ribuan orang telah memadati Puncak Pananjakan untuk misi yang sama : menyambut datangnya sang mentari di hari yang baru. Sayangnya, kami datang di saat kurang tepat, saat kabut terlalu tebal dan cuaca pagi agak mendung. Alhasil, hanya semburat kemerahan yang kami dapatkan, dan matahari yang malu-malu meninggi dari balik awan.

Sayang sungguh sayang, padahal kami berekpektasi lebih dari itu. Matahari yang muncul dengan anggunnya, lalu menerangi dunia secara perlahan, membuat kami terpesona dengan keindahan alam Bromo , Gunung Batok, dan Gunung Semeru, rupanya masih menjadi angan yang belum kesampaian.

Memulai perjalanan pada dini hari, di gunung, tentu hawanya dingin luar biasa. Jangan lupa siapkan jaket tebal, jika perlu ditambah syal, sarung tangan, dan penutup kepala. Jika terlupa, sekitar pukul 2 pagi di sekitar vila biasanya ada pedagang yang menjajakan barang-barang tersebut. Harganya masih masuk akal, sekitar 5 ribu untuk sepasang sarung tangan atau 20 ribu untuk satu paket berisi sarung tangan, syal, dan topi. Masih terasa dingin? Tenang saja, di parkiran jeep menuju Pananjakan, akan ada orang-orang yang menyewakan jaket seharga 10 ribu per biji.

Mengingat banyaknya orang yang tertarik melihat matahari terbit di Bromo, jika kita terlambat sedikit saja, parkiran jeep bisa sangat jauh dari spot Pananjakan. Tak heran, beberapa tukang ojek sudah siap sedia menawarkan jasanya begitu kita turun dari jeep. Biayanya bervariasi antara Rp 10-20 ribu sekali jalan, beberapa di antaranya bahkan menawarkan jasa penjemputan juga. Di pinggir jalan mendekati spot Pananjakan, bertebaran lah warung-warung kecil yang menjual cinderamata, syal, kaos, makanan ringan, kopi, mie instan, hingga jagung bakar.

20130702-220829.jpg

Pemandangan seperti ini akan menyambut pagi Anda dalam perjalanan dari Pananjakan ke Gunung Bromo.

  • Kawah Bromo

Sekitar pukul 7 pagi, perjalanan pun dilanjutkan menuju Kawah Bromo. Dari Pananjakan, jeep membawa kami “turun gunung” dengan melewati jalanan berliku yang cukup curam dan padang pasir luas. Seiring datangnya pagi, pemandangan di kiri-kanan jalan kini terlihat jelas dan sangat memanjakan mata. Sinar matahari berpadu kabut menelusup di sela-sela pepohonan, sementara di kejauhan, Gunung Bromo-Batok-Semeru pun seolah sudah siap menyambut para wisatawan.

Sesampai di kawasan Gunung Bromo, kita bisa menjumpai sejumlah warga yang menuntun atau menaiki kuda. Di parkiran jeep, mereka tak segan menawarkan jasa mengantarkan kita ke lereng Bromo dengan kuda. Maklum, untuk mereka yang tidak terbiasa jalan kaki, jarak dari parkiran jeep menuju kawah Bromo bisa dibilang cukup melelahkan. Biasanya, para tukang kuda ini menawarkan tarif sekitar 120 ribu rupiah per kuda, tergantung besar-kecilnya si kuda. Namun, harga ini bisa ditawar hingga kita cukup membayar 80 ribu rupiah saja untuk perjalanan bolak-balik dari parkiran hingga ke kawah.

Sebenarnya, kuda tidak mengantar kita sampai benar-benar di bibir kawah. Kita hanya akan diantar hingga lereng, di dekat 250 anak tangga yang harus kita daki untuk mencapai puncak dan melihat kawah. Tukang kuda akan member secarik kertas bertuliskan namanya dan ia akan menunggu kita di tempat yang telah disepakati.

Lumayan ngos-ngosan juga mendaki anak-anak tangga yang dicat kuning tersebut, makanya sangat disarankan membawa air mineral dan pintar-pintar lah mengatur napas. Di sepanjang anak tangga menuju kawah, ada dua titik tempat pemberhentian untuk kita menepi dan mengatur napas. Tapi percayalah, meski napas sedikit tersengal, pemandangan yang tersaji di sekitarnya yang berupa hamparan pasir, kabut, dan gunung, bisa menjadi obat lelah paling mujarab. Belum lagi ketika sampai di tepi kawah, segala rasa capek seakan luruh. Bau belerang mungkin akan sedikit menyengat, tapi tak apa, cepat-cepatlah berfoto ria karena bibir kawah cukup

sempit membuat kita tak boleh serakah berlama-lama di sana, sementara ribuan pengunjung yang lain juga ingin melakukan hal yang sama. Ingat, berhati-hati lah karena bibir kawah cukup curam. Meski ada pagar pembatas, tapi sangat tidak disarankan untuk menyandarkan tubuh di sana.

Ketika turun dari kawah, melewati anak tangga yang sama, beberapa orang tampak menjajakan bunga edelweiss yang telah dirangkai sedemikian rupa. Selain itu, ada juga yang menyediakan minuman dan makanan ringan, yang membuka “warungnya” dengan menata beberapa bangku. Cukup menyenangkan jika kita ingin beristirahat sejenak, sembari minum dan mengobrol dengan kawan.

  • Pura Luhur Poten

Menyewa kuda bisa menjadi alternatif menghemat tenaga, tapi jika kita memiliki banyak waktu dan menggemari fotografi, alangkah baiknya perjalanan ke kawah Bromo dilalui dengan jalan kaki. Banyak obyek menarik yang bisa diabadikan, seperti para tukang kuda, penjaja edelweiss, alam Bromo, hingga aksi para wisatawan itu sendiri.

Dalam perjalanan kembali menuju parkiran jeep, mampirlah sebentar ke Pura Luhur Poten. Pura yang terletak di tengah lautan pasir ini didirikan pada tahun 2000 dan menjadi tempat pemujaan Dewa Brohmo (Dewa Brahma). Nama Bromo memang diambil dari nama Brohmo, dan pura tersebut, oleh masyarakat Hindu Tengger, dianggap sebagai manifestasi tempat pemujaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Sang Pencipta.

Di hari-hari biasa kita memang tidak bisa memasuki areal pura. Tapi tak apa, cukup menengok sebentar untuk sedikit mengetahui budaya masyarakat setempat yang masih memegang teguh nilai-nilai leluhurnya.

20130704-192546.jpg

Savana atau Bukit Teletubbies, nikmati pemandangan hijau kekuningan di tengah gurun pasir Bromo.

  • Savana

Perjalanan kemudian kami lanjutkan ke savanna di kawasan Bromo. Padang rumput ini lebih dikenal dengan nama Bukit Teletubbies karena bukit-bukit di sekitarnya nampak seperti kampung halaman kuartet Dipsy, Laa-Laa, Po, dan Tinky Winky. Kita harus melewati

padang pasir terlebih dahulu sebelum menjejakkan kaki di savanna. Bersiaplah menemukan sensasi layaknya off road di sepanjang jalan, apalagi jika kita dibawa oleh driver yang sudah berpengalaman dan paham betul adrenalin anak muda.

Savanna ini menjadi tempat yang tak kalah keren untuk mereka yang hobi difoto. Sebenarnya, tak melulu hamparan rumput menghijau, namun ilalang kekuningan dan langit biru yang luas berhasil membuat komposisi tepat yang memanjakan visual.

  • Watu Singo

Tujuan terakhir dari petualangan di Bromo adalah Watu Singo. Nama Watu Singo diambil karena di tengah gurun pasir tersebut ada batu yang bentuknya menyerupai seekor singa sedang duduk bersantai. Kawasan Watu Singo juga sering disebut sebagai daerah Pasir Berbisik, karena konon jika didengarkan seksama, pasir-pasir yang berhembus di sana seolah sedang membisikkan sesuatu. Tips terbaik adalah jangan terlalu siang mengunjungi tempat ini, sebab kabut yang meninggi akan membatasi penglihatan kita dan angin pun akan bertiup lebih kencang menerbangkan butiran-butiran pasir seiiring dengan beranjaknya sang waktu ke pertengahan hari.

Berhitung Biaya di Bromo

20130704-192605.jpg

me and my kere-hore-mate at pananjakan

Sekarang saatnya berhitung pengeluaran saya selama menjalani trip di Bromo. Dengan memegang teguh prinsip kere hore, saya kira pengeluaran per orang ini cukup masuk akal dan tak membuat kantong kempes.

Sewa vila : Rp 650.000 / 9 orang —->; @Rp 72.200

Sewa jeep untuk 4 tujuan : Rp 550.000 / 4 orang —–>; @Rp 137.500

Tiket masuk Taman Nasional Bromo Semeru —->; @Rp 12.000

Naik kuda —–>; @Rp 80.000

Total pengeluaran (belum termasuk makan dan biaya perjalanan dari Solo ke Bromo dan sebaliknya) +/- Rp 301.200

2 responses to “Romansa di Kaki Bromo

  1. Sekali2 ke timur lah, rin… Ternate – Tidore – Halmahera. Pasti bakal jatuh cinta jugak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s