Do what you love. Love what you do.

Ada pepatah : do what you love, love what you do.

Mengerjakan apa yang kita cintai dan mencintai apa yang kita kerjakan. Bahasa singkatnya, letakkan jiwa dan passion-mu ke dalamnya. Saya mulai tercenung dengan kalimat tersebut. Pertanyaan-pertanyaan kembali muncul di kepala, di hati, bahkan di dalam mimpi. Lalu, saya tersadar bahwa terkadang semuanya tidak semudah slogan yang kini banyak tertempel di kaos-kaos para ABG itu.

Tidak semua orang punya keberanian untuk memperjuangkan apa yang benar-benar mereka ingin lakukan. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya manusia menyerah pada mimpi mereka. Alasan ekonomi dan kestabilan hidup nanti, juga cibiran orang-orang sekitar, biasanya menjadi sebab utama pupusnya asa. Tapi, tidak juga selamanya demikian. Ada satu hal yang tidak boleh juga dilupakan, yaitu tentang kesempatan. Ya, mungkin saat ini saya sedang membicarakan diri sendiri, yang sedang marah karena hidup seolah tidak memberi saya kesempatan melakukan dan belajar lebih dalam tentang hal-hal yang saya suka. Mungkin, sebenarnya hidup telah memberi saya kesempatan itu, hanya saja saya yang kurang peka menangkapnya. Atau juga, hidup sedang memperingatkan saya : hei, kesempatanmu terbuka lebar, tapi tidak di tempatmu sekarang. Jadi, cari dan kejar lah di luar sana.

do-what-you-love-love-what-you-do.american-apparel-unisex-tank.white.w760h760

Saya jadi ingat tentang hakikat kebahagiaan. Menurut saya, bahagia bisa datang ketika kita bisa melakukan apa yang kita inginkan, bebas berekspresi dan berkarya mengenai hal yang kita suka, dan apa yang kita kerjakan itu bisa bermanfaat bagi orang lain. Seandainya, saat ini bisa semudah itu. Saya sedang tidak bahagia dengan apa yang saya lakukan saat ini? Mungkin. Saya sedang jenuh? Mungkin. Terus kenapa saya tidak pergi saja? Karena saya tidak bisa. Duuhhh Gusti, saat ini saya merasa jadi orang yang paling berdosa. Saya seperti orang sedang pakai topeng, yang memaksakan cinta tapi sebenarnya tidak punya rasa. Tidak beda jauh dengan zombie, robot, atau apapun namanya. Miris. Saya seperti sedang mengkhianati diri sendiri dan mimpi-mimpi saya.

Melakukan sesuatu yang tidak kita sukai, atau sesuatu yang dulu pernah kita suka tapi sekarang tidak lagi membuat kita senang melakukannya, itu seperti minum pil pahit setiap harinya. Hasilnya pun, saya yakin tidak maksimal. Sebaik apapun usaha yang kita lakukan, tetap saja tidak akan menyamai kalau kita melakukannya dengan sepenuh jiwa. Memang, harusnya ada hati di sana. Tapi, passion tidak bisa dipaksa, bukan? Ketika kita sadar bahwa yang kita lakukan bukan yang kita inginkan, atau paling tidak kita yakin bahwa bukan itu tujuan kita, maka segala sesuatunya seperti sia-sia. Ibaratnya, sudah naik bis yang salah jurusan, tapi nggak bisa turun di tengah jalan dan berganti tumpangan. Seorang teman pernah bilang, kalau tahu salah kendaraan, ya sudah nikmati saja perjalanannya, siapa tahu justru dapat banyak hal indah yang jauh lebih menyenangkan daripada kalau kita tetap di tujuan awal. Aaaaakkkk… saya berharap punya kekuatan seperti itu lagi. Lagi. Ya, lagi karena ini bukan yang pertama kalinya saya mengalami keadaan ini.

Oohh my dear soul, please be patient. I promise to heal you. If this place doesn’t give us a chance to do what we love, I’ll take you to another place. We’ll find our happiness and we’re going to have a wonderful journey. Be strong. We’ll fight for it.

Sincerely, me.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s