Anak Berpanas Ria, Orang Tua Leha-Leha

Siang yang terik. Pengukur suhu di ponsel saya bahkan menunjuk angka 34 derajat Celcius dengan hawa yang setara dengan 41 derajat. Kaki saya melangkah di sekitar pertigaan Jalan Dewi Sartika, Jakarta Timur. Jam menunjukkan sekitar pukul 13.00 WIB dan saya kembali melihat suasana yang membuat miris.

Saya berhenti di warung kecil yang berada di salah satu sudut pertigaan. Di depan saya, tiga anak berusia 6-8 tahun sedang asik wira-wiri di tengah jalan. Tangan mereka membawa kain lap, ada yang membawa kecrekan, dan tak lupa kantong plastik atau gelas bekas air mineral. Mereka mendekati setiap kendaraan yang berhenti di lampu merah, berdendang kecil dengan nada seadanya atau mengelap-ngelap body kendaraan. Lalu, tangan-tangan kecil itu menengadah, meminta recehan atau selembar uang dari para pengendara. Tak jarang, yang mereka dapatkan hanya kibasan tangan, tanda pengendara kendaraan atau penumpangnya menolak memberi uang.

Salah satu sisi kehidupan jalanan yang memperlihatkan bagaimana anak kecil sudah harus membanting tulang. Peluh menetes di antara wajah dan tubuh bocah-bocah belia itu. Sesekali mereka bercanda dengan sesamanya, di bawah traffic light sembari menunggu lampu merah kembali menyala.

Cukup lama saya mengamati mereka, melihat gerak-gerik bocah-bocah itu. Apa yang mereka lakukan di jalanan? Kenapa mereka tidak sekolah? Siapa yang menyuruh? Enjoy-kah mereka? Sederet pertanyaan itu muncul di kepala. Tidak seharusnya anak-anak sebelia itu turun ke jalan berpanas-panas ria, mengumpulkan rupiah dari orang yang menaruh iba pada nasib mereka.

Saya benar-benar menunggu waktu berbincang dengan anak-anak kecil itu. Kesempatan yang segera tiba ketika sesaat kemudian anak-anak itu menyeberang jalan menuju tempat saya duduk mengamati mereka. Tepat di warung sebelah saya, seorang pria berusia 35-an tahun keluar menghampiri mereka. Tak ada yang salah dengan perawakan pria itu. Dia tampak sehat dan bertubuh normal.

Pria berambut cepak itu menyodorkan minuman ke anak-anak. Mereka bercakap-cakap akrab. Satu anak diberi selembar uang dan ia langsung bergegas membeli jajanan di gerobak buah, di sebelah tempat saya menunggu. Sementara dua anak lainnya, masih menikmati jajanan kecil yang diberikan si pria. Satu anak di antaranya, yang laki-laki, lantas merogoh sakunya dan memberikan sesuatu ke si pria. Beberapa lembar uang, tentu saja.

Saya menyusul anak perempuan yang sedang memilih buah itu. Dia terlihat takut saat saya mengajak ngobrol. Hanya menjawab sepatah-sepatah, lalu segera kembali ke pria yang memberinya uang tadi. Karena penasaran, akhirnya saya menghampiri mereka. Di bawah pohon, di pinggir jalan, saya mulai bertanya pelan-pelan pada mereka. Tentang siapa mereka dan untuk apa mereka di sini.

Tak butuh waktu lama mengorek cerita dari mulut mereka. Anak-anak tadi yang semula malu-malu, kini lebih sering nyeletuk di tiap obrolan. Pria itu memperkenalkan diri sebagai ayah dari dua anak. Dia sengaja datang ke tempat itu untuk mengawasi anak-anaknya yang sedang bekerja. “Buat jagain kalau-kalau ada kantib,” katanya.

Kita sering mendengar, sebuas-buasnya harimau, tak mungkin memangsa anaknya. Tapi, apa yang saya lihat di depan saya siang ini? Seorang ayah yang harusnya bertanggung jawab atas ekonomi keluarga, justru duduk santai di bawah pohon sambil menunggu setoran dari anak-anaknya yang berpanas-panasan di jalanan. Pria itu berdalih, fisiknya sehat, tapi sebenarnya dia tidak mampu bekerja. Selain itu, lapangan kerja sekarang sulit didapatkan. Alasan yang sungguh mengada-ada. Apalagi, dia sempat menyebut, gara-gara di jalanan, sang anak pernah diculik dan dipaksa melihat teman-teman sepermainannya diperkosa.

“Bapak tega, ya, anaknya masih disuruh ke jalan. Sementara, bapak ngadem di sini,” komentar saya. Dia hanya meringis.

Kisah yang hampir sama juga saya temui saat berkunjung ke Panti Sosial Kedoya. Di sana, saya bertemu Iman (bukan nama sebenarnya). Bocah 8 tahun itu baru saja terjaring razia saat mengamen di kawasan Senen, Jakarta Pusat. “Saya takut. Kapok,” akunya.

Ketiga anak yang saya temui di perempatan Dewi Sartika dan Iman adalah sebagian dari potret buram anak-anak Indonesia. Iman bercerita, dia telah hidup di jalanan sejak usia 2 tahun. Saat itu, dia sengaja dipinjamkan pada teman-teman ibunya untuk diajak mengemis. Setiap hari, dia mendapat bagian Rp 5.000. Ketika dia tumbuh besar, Iman mulai dilepas sendiri ke jalanan. Setiap hari sepulang sekolah hingga malam, anak berkulit hitam itu akan menghabiskan waktunya di jalan. “Disuruh emak. Kalau nggak gitu, nanti diusir. Dipukul.” tambahnya dengan nada polos khas anak-anak.

Saat ditangkap petugas Satpol PP, hari itu Iman baru sekitar 3 jam di jalanan. Saat itu, dia sudah mengantongi uang Rp 15.000. Bayangkan, berapa banyak yang bisa dihasilkan Iman setiap harinya? Tak jarang, bocah yang mengaku jarang mandi itu bisa memberi uang ke ibunya sebesar Rp 50.000 dalam sehari, sementara dia hanya akan diberi makan dan uang jajan Rp 5.000. Orang tua Iman sepertinya memang mengandalkan bocah itu sebagai penopang perekonomian keluarga. Awalnya, Iman bercerita kedua orang tuanya berprofesi sebagai pemulung. Tapi, itu kadang-kadang saja. Selebihnya? Si ayah menunggui Iman dari minimarket di seberang tempat bocah itu mencari uang !

2 responses to “Anak Berpanas Ria, Orang Tua Leha-Leha

    • Banget !!! Heran sm orang tua macam begitu, waktu wawancara sm si bapaknya rasanya antara pgn ngelempar sendal ke muka si bapak, tp hrs nahan sabar demi tugas yg blm kelar heuheuu.. Bikin anak pada doyan, giliran tanggung jawabnya apa kabar?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s