Menapaki Toleransi di Ratu Boko

 

Pesona Yogyakarta dan sekitarnya tidak hanya mampu membius para pecinta wisata budaya dan belanja, tetapi juga sejarah. Hal ini tidak lepas dari banyaknya candi dan situs sejarah yang bertebaran di lokasi tersebut, yang menjadi saksi bisu kejayaan jaman kerajaan di masa lalu.

Jika selama ini kita hanya mengenal Candi Borobudur dan Candi Prambanan, maka kali ini saya akan mengajak Anda mengunjungi Kraton Ratu Boko.

Ratu Boko : Antara Keraton, Wihara, dan Tempat Tinggal.

Kraton Ratu Boko pertama kali ditemukan kembali oleh HJ De Graaf, seorang arkeolog Belanda pada abad ke-17.Situs ini merupakan kompleks candi seluas 25 hektar, yang berlokasi sekitar 18 kilometer di sebelah timur kota Yogyakarta atau sekitar 3 kilometer di selatan Candi Prambanan.

Ratu Boko dulunya merupakan kompleks bangunan yang di bangun pada masa Rakai Panangkaran, seorang keturunan wangsa Syailendra. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya prasasti yang dikenal dengan nama Prasasti Abhyagiri Wihara yang berangka tahun 792 M di sekitar kawasan tersebut. Dalam bahasa Sansekerta, Abhaya berarti tidak ada bahaya, sedangkan Giri berarti bukit atau gunung, Wihara yang dimaksud dapat merujuk pada asrama Bhiksu Buddha. Jadi, Abhayagiriwihara dapat diartikan sebagai asrama para Bhiksu Buddha yang terletak di atas bukit yang damai dan tentram tanpa adanya bahaya.

Meski diyakini sebagai tempat menyepi dan beribadah, reruntuhan bangunan di lokasi ini juga menguatkan dugaan sebagai kompleks keraton di masa lampau. Apa fungsi sebenarnya dari kompleks Ratu Boko hingga kini masih menjadi misteri. Sebab struktur bangunan dan arsitekturnya pun turut menyiratkan tempat ini juga pernah difungsikan sebagai tempat tinggal.

Kraton Ratu Boko terdiri dari banyak bangunan dan reruntuhan bangunan. Di antaranya :

1.       Gerbang : terdiri dari beberapa gerbang paduraksa (gerbang dengan atap)

2.       Candi Batukapur : terbuat dari batu kapur dan apabila terkena sinar matahari warnanya menjadi putih menyilaukan dengan rerumputan hijau tumbuh diatas candi ini.

3.       Candi Pembakaran : mempunyai sumur ditengah dan konon dijadikan sebagai tempat pembakaran mayat. Di tenggara candi ini terdapat sumur tua yang dipercayai sebagai air suci dan sering digunakan dalam ritual keagamaan.

4.       Paseban : Paseban merupakan kata dalam bahasa Jawa yang berarti tempat untuk menghadap raja (seba = menghadap).

5.       Pendopo

6.       Tempat Pemujaan

7.       Keputren : Tempat tinggal para putri raja.

8.       Gua : terdiri dari dua gua buatan yang disebut gua lanang dan gua wadon.

Bagaimana menuju Ratu Boko?

Cara termudah mencapai Ratu Boko adalah dengan membeli paket tur di loket masuk Candi Prambanan. Paket tur ini dijual seharga Rp 45.000 dengan fasilitas tiket masuk Candi Prambanan dan Candi Ratu Boko. Dengan membeli paket ini pula, kita tidak perlu bingung memikirkan transportasi karena sudah termasuk free shuttle bus yang akan mengantar-jemput kita dari lokasi Prambanan ke kawasan Ratu Boko. Selain itu, saat memasuki area Candi Ratu Boko, kita juga akan dipinjami kain batik (untuk dililitkan di pinggang) dan diberikan sebotol air mineral secara cuma-cuma.

Jika Anda memulai perjalanan dari Yogyakarta dengan menggunakan transportasi umum, maka cara lain yang bisa dipakai adalah naik Trans Jogja jurusan Prambanan (tiket seharga Rp 3.000 sekali jalan). Turunlah di terminal Prambanan, lalu berganti naik ojek dengan tarif sekitar Rp 25.000 sekali jalan, tergantung kepandaian Anda melakukan tawar-menawar. Lebih baik, mintalah tukang ojek menunggu karena di kawasan Ratu Boko tidak ada pangkalan ojek atau transportasi umum lainnya. Untuk pengunjung on the spot ini, tiket masuk yang dikenakan sebesar Rp 25.000 per orang.

A Message from Ratu Boko

Situs  arkeologi ini  telah diusulkan menjadi salah satu Warisan Budaya UNESCO sejak tahun 1995. Meskipun, Kraton Ratu Boko dibangun oleh penganut Buddha dan dipakai sebagai kompleks wihara, nuansa Hindu pun ikut menghiasi tempat ini. Sentuhan Hindu ini dapat dilihat dengan ditemukannya Arca Durga, Ganesha dan Lingga-Yoni di kawasan ini, serta lempengan emas yang bertuliskan “Om Rudra ya namah swaha” sebagai bentuk pemujaan terhadap Dewa Rudra yang merupakan nama lain Dewa Siwa. Fakta-fakta tersebut tentu saja mengagumkan dan menyadarkan kita akan satu hal : bahwa toleransi antarumat beragama di negeri ini ternyata sudah dibangun sejak dulu kala.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s