Tertawan di Pulau Kelor dan Pulau Onrust

Sudah lama saya ingin memposting perjalanan ini, tapi baru kesampaian sekarang. Ini adalah rangkaian tambahan, cara yang saya dan beberapa teman pilih untuk mengisi ‘kegiatan bebas’ dari outing kantor yang dilaksanakan sekitar Mei 2013 lalu. Acara pengakraban antarkaryawan di stasiun tivi tempat saya bekerja digelar di Pulau Bidadari, tapi kali ini saya akan menuliskan ‘escape’ kami ke pulau-pulau terdekat dengan pulau tersebut.

Pagi itu, sebenarnya, dengan menggunakan kapal kayu berkapasitas 20-an orang, si tukang kapal menawarkan kami berkunjung ke tiga sampai empat pulau dengan tarif sekitar 50 ribu rupiah per orang (minimal 6 orang). Tapi, saat itu akhirnya cukup dua pulau saja yang sanggup kami jelajahi. Maklum, kami hanya punya waktu kurang dari dua jam sebelum speedboat datang menjemput kami kembali ke Jakarta.

Pulau pertama, yang terdekat, yang kami sambangi adalah Pulau Kelor. Jangan hiraukan banyaknya sampah yang mengapung di lautan sepanjang perjalanan menuju pulau-pulau ini, sebab sejarah yang akan kita temui akan lebih membius ingatan.

Pulau Kelor yang merupakan salah satu pulau dalam gugusan Kepulauan Seribu ini dulunya dikenal dengan nama Pulau Kherkof. Jika diukur dari Pantai Ancol, jarak pulau tak berpenduduk ini kurang lebih 1,8 kilometer atau sekitar satu jam perjalanan dengan kapal motor. Pulau yang luasnya hanya sekitar 0,28 kilometer persegi ini memiliki Benteng Martello sebagai magnet para wisatawan. Dulunya, Benteng Martello dibangun oleh VOC untuk membendung serangan Portugis pada abad ke-17. Selain bisa menikmati sisa-sisa kekokohan benteng yang masih berdiri, di pulau kecil ini juga terdapat galangan kapal peninggalan Belanda, kuburan Kapal Tujuh atau Sevent Provincien, serta awak kapal berbangsa Indonesia yang memberontak dan akhirnya gugur di tangan Belanda. Jika malam tiba, pulau ini gelap gulita karena tidak teraliri listrik sama sekali. Namun, hal ini tidak menyurutkan niat beberapa wisatawan yang sengaja berkemah di pinggir pantai. Biasanya, jika angin pantai terlalu kencang berhembus, wisatawan yang camping tersebut akan beringsut ke dalam benteng. Sayangnya, meski memiliki pemandangan memesona dan peninggalan sejarah yang memorable, tumpukan sampah berserakan begitu saja di sepanjang pulau ini, termasuk bercampur dengan kulit-kulit kerang dan karang di hamparan pasir putih yang harusnya bisa membalut keeksotisan pulau ini.

Puas di Pulau Kelor, perahu kami mengarah ke Pulau Onrust yang hanya berjarak sekitar lima menit dari pulau tersebut. Onrust merupakan pulau yang katanya cukup spooky di malam hari karena di sini terdapat benteng, bekas rumah sakit haji, tempat penyiksaan tahanan di masa pendudukan Jepang, hingga makam orang-orang Belanda.

Nama pulau seluas 5 hektar ini diambil dari bahasa Belanda yang berarti ‘tidak pernah beristirahat’. Maklum saja, pada jaman kolonial, banyak kapal yang singgah di pulau ini sebelum berlabuh di Batavia atau meneruskan perjalanan ke tempat lain. Tak heran, di masa lalu, pulau ini juga sering disebut dengan nama Pulau Kapal. Di antara para pelaut yang sempat singgah di pulau ini, tersebut nama Abel Tasman (penemu Pulau Tasmania di Australia) dan James Cook.

Pulau Onrust pernah menjadi pelabuhan VOC sebelum pindah ke Tanjung Priok. Pulau ini juga merupakan markas tentara Belanda sebelum menguasai Batavia, sehingga kegiatan bongkar muat logistik perang kompeni pun turut dilakukan di tempat ini. Namun pada tahun 1930-an, Pulau Onrust berubah fungsi menjadi asrama haji. Pada masa itu, masyarakat memang masih menggunakan kapal sebagai alat transportasi menuju tanah suci. Sehingga di pulau ini, para calon haji tersebut ‘dikarantina’ dan diadaptasikan dengan udara laut sebelum akhirnya melakukan perjalanan laut selama beberapa bulan menuju Arab Saudi.

Catatan sejarah Pulau Onrust yang ‘mengerikan’ mulai berlangsung selepas menjadi asrama haji. Pada tahun 1933 sampai 1940, pulau ini dijadikan tempat tawanan bagi para pemberontak yang terlibat dalam “Peristiwa Kapal Tujuh” (Zeven Provincien). Para pemberontak yang akhirnya mati ini kemudian dikuburkan di Pulau Kelor yang letaknya tak jauh dari pulau ini. Setelah itu, pada tahun 1940, Pulau Onrust dijadikan sebagai tempat tawanan orang-orang Jerman yang dituduh dalam gerakan NAZI pro Hitler yang ada di Indonesia. Label sebagai tempat tawanan pun semakin melekat pada pulau ini, karena pada tahun 1942, setelah Jepang menguasai Batavia, pulau ini dijadikan penjara bagi tahanan kelas berat dan tahanan politik, yang di antaranya adalah D.N. Aidit (tokoh PKI).

Setelah Indonesi merdeka hingga awal 1960-an, Pulau Onrust kembali berubah fungsi. Kali ini, dijadikan pemerintah sebagai Rumah Sakit Karantina, terutama bagi para penderita penyakit menular, seperti lepra, dll. Dari tahun 1960-1965, pulau ini juga dijadikan tempat penampungan bagi para gelandangan dan pengemis, juga untuk latihan militer.

Selain reruntuhan bekas rumah sakit dan benteng, masih ada beberapa bangunan tua yang masih tegak berdiri yang kebanyakan sekarang berubah fungsi menjadi museum. Ada pula dua makam berbendera merah putih di tempat itu. Banyak yang bilang, salah satu makam itu adalah makam pemimpin DI/TII Kartosoewiryo. Namun ternyata salah, sebab Kartosoewiryo dimakamkan di Pulau Ubi yang letaknya tak jauh dari Pulau Onrust. Pulau Ubi sendiri saat ini telah tenggelam, sementara makam di Onrust tersebut masih tetap misteri karena tanpa nama.

Sebagai penutup, obyek wajib dikunjungi (sekaligus didoakan) di Pulau Onrust lainnya adalah makam Belanda. Salah satu legenda yang paling terkenal di sini adalah makam Maria van de Velde. Meski meninggal karena penyakit pes, Maria menjadi begitu diingat karena menggambarkan kisah romantis kasih tak sampai. Menurut cerita, Maria yang hanya hidup hingga usia 28 tahun itu meninggal dengan mengenakan baju pengantinnya. Ia mati saat menunggu sang kekasih datang dari Belanda. Penantian yang tidak akan pernah menjadi nyata, sebab saat Maria menunggu kala itu, ternyata sang pujaan hati telah meninggal terlebih dahulu.

Jika ada kesempatan menjelajahi Kepulauan Seribu lagi, maka saya akan kembali memasukkan dua pulau tersebut sebagai tujuan wisata wajib, selain pulau-pulau lainnya. Catatan sejarah dan bangunan yang menjadi saksi bisu masa lalu, yang masih berdiri di sana, terlalu sayang dilewatkan begitu saja. Bagi yang belum pernah ke tempat ini, segeralah berkemas dan kunjungi tempat ini ! Pulau-pulau bersejarah ini luasnya tak seberapa dan semakin menyusut setiap waktu. Jadi, jangan sampai menyesal jika hanya tahu ceritanya saja tanpa pernah menyaksikan sendiri pesona Pulau Onrust dan Pulau Kelor yang kini makin terancam tenggelam oleh lautan Teluk Jakarta.

2 responses to “Tertawan di Pulau Kelor dan Pulau Onrust

  1. Hello April

    Kutemukan tulisanmuu
    menggelitik nih karena beberapa bulan sebelumnya saya mendapat cerita tentang “asrama haji” di sebuah kepulauan di Barat Indonesia yang menjadi pos untuk berangkat dan kembalinya calon jamaah haji dan para wisudawan haji. Akhirnya menemukan cerita lain dari “asrama haji”. Nice post yahh… akhirnya bisa tau dimana asrama haji itu.. hehehe🙂

    • Ciittt.. yuupp, ternyata deket bgt dr Jakarta kan.. Foto-fotonya nyusul ya krna kmrn blm sempet upload🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s