Sederhana

Pernahkah mendengar slogan “Less is More” ? Terlalu banyak itu tidak baik, terkadang kita butuh sesuatu yang sederhana untuk menyadari betapa banyak hal yang kita miliki.

Pemikiran kita, logika, atau apapun yang berasal dari kontrol otak kita, membuat kita sering tidak sadar menganalisa segala sesuatu. Menjadi kritis itu perlu, sebab tidak ada hal yang terjadi di dunia ini tanpa alasan. Tapi, kadang manusia memang hobi memperumit diri. Otak kita terus mempertanyakan banyak hal, menyambungkan sekeping demi keping lain dari sebuah kejadian, merekonstruksi keadaan. Belum lagi, soal perasaan dan emosi. Jika keduanya sudah turun tangan, makin rumitlah hidup seseorang. Memang, logika dan perasaan adalah dua sisi yang berkebalikan. Ambisi versus empati. And sometimes reality bites. Then, we hurt. Suffering.

simpleDi suatu malam, tiba-tiba saya tersadar, pikiran random saya di tengah kamar yang gelap menyimpulkan kalimat pendek. Saya hanya ingin kesederhanaan. Mungkin, ini akibat lelah, rutinitas yang lama-kelamaan menjebak kita dalam situasi yang menjemukan dan terkadang memuakkan, lalu psikologi dan fisik yang seolah telah mencapai batasnya. Atau mungkin juga, memang ini yang sebenarnya saya inginkan, namun sempat terlupa.

Saya kira, pada akhirnya setiap orang pun begitu. Sejauh apapun mereka melangkah, seberapa besar pencapaian mereka, mereka pasti berharap sebuah kisah yang sederhana. Satu, dua, atau tiga kisah, atau bahkan lebih. Yang penting sederhana. Entah dalam keseharian mereka, gaya hidup, pekerjaan, pertemanan, bahkan kisah cinta. Sesederhana memiliki keinginan untuk minum teh bersama ibu sembari bercerita, sesederhana ketika menemani adik mengerjakan tugas kuliahnya, sesederhana pergi ke mall sendirian dan belanja gila-gilaan, atau sesederhana melalukan late night conversation dengan sang kekasih.

Tapi, lagi-lagi manusia, hobinya memperumit diri sendiri. Dengan landasan bahwa kita harus bertahan, bersaing dengan manusia-manusia lainnya agar bisa terus hidup,  mengejar impian, akhirnya yang sederhana terkadang memang harus menjadi nomor kesekian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s