Cerita Kiluan dan Tarian Lumba-Lumba

Lumba-lumba. Awalnya, hanya satu kata itu yang terlintas di pikiran saat mendengar kata Kiluan, Lampung.

Perjuangan Menuju Markas Si Hitam Abu-Abu

Teluk Kiluan mulai terkenal namanya beberapa tahun terakhir karena pesona perairannya yang menjadi markas ribuan lumba-lumba. Terletak di Desa Kiluan Negeri, Kelumbayan, Tanggamus Lampung, Kiluan kini menjadi alternatif tujuan obyek wisata yang menjual atraksi lumba-lumba di laut lepas selain di Lovina, Bali.

Dari Jakarta, perjalanan saya ke Kiluan dimulai dari halte Slipi dengan menumpang bus tujuan Merak. Membutuhkan sekitar 4 jam perjalanan sebelum tiba di pelabuhan di ujung Pulau Jawa ini. Harga tiket yang harus dibayarkan Rp 28 ribu, harganya bisa berubah tergantung bus apa yang Anda tumpangi.

Hampir jam 12 malam ketika tiba di Pelabuhan Merak. Perjalanan akan dilanjutkan dengan menumpang kapal feri. Harga tiketnya Rp 18 ribu. Lama perjalanan di atas kapal ini sekitar 3-4 jam. Di atas kapal yang saya tumpangi, tiket seharga Rp 18 ribu berarti Anda akan duduk di pinggiran kapal atau dek menghadap langsung laut lepas. Cukup dingin mengingat angin akan berhembus kencang di malam hari. Jika tidak ingin masuk angin atau benar-benar ingin beristirahat, Anda bisa meng-upgrade tiket dengan membayar biaya tambahan di atas kapal. Ada kelas bisnis, lesehan, atau VIP. Kelas bisnis dengan kursi duduk ala kereta api jarak jauh kelas ekonomi dipungut biaya tambahan sekitar Rp 10-15 ribu, begitu pula dengan kelas lesehan yang harus menambah biaya Rp 12 ribu dari harga awal tiket kapal. Pilihan yang aneh menurut saya, kenapa tidak dari awal saja ada pembagian kelas dan biaya.

Pilihan saya jatuh ke kelas lesehan. Sama seperti namanya “lesehan” Anda akan benar-benar lesehan di sana. Di ruangan ber-AC, ada dek kayu cukup luas, tempat Anda bisa merebahkan diri di sana. Tidur. Menurut saya, ini adalah pilihan terbaik, daripada duduk di kursi ala kereta kelas ekonomi. Maklum, sesampainya di Pelabuhan Bakauheni, Anda akan kembali duduk di mobil selama berjam-jam menuju Kiluan. Jika dek kayu terasa keras, Anda bisa menyewa matras seharga Rp 5 ribu, begitu pula dengan bantal kecil yang bisa Anda pakai sebagai alas juga disewakan dengan harga Rp 5 ribu.

Perjuangan belum berakhir sesampainya Anda di Pelabuhan Bakauheni. Menuju Kiluan bisa dibilang cukup PR. Jalanan menuju Teluk Kiluan tidak terlalu bagus, di beberapa titik, medannya seperti mau off road. Apalagi, saat hujan datang, jalanan bisa terendam air dan terancam putus akibat tanah longsor. Jalanan juga cukup licin dan curam, sehingga dibutuhkan keahlian dan kehati-hatian dari para pengemudi. Dari pelabuhan menuju Kiluan diperlukan waktu sekitar 8 jam perjalanan. Meski infrastruktur kurang mulus, tapi pemandangan di kiri dan kanan jalan akan cukup memanjakan penglihatan. Hijaunya sawah, birunya gunung, hamparan pantai, hutan, pasar, hingga jurang bisa ditemui dengan mudahnya.

Bagi mereka yang pergi sendirian (solo traveller) atau bagi mereka yang mau praktis nggak mau ribet ngurus akomodasi, transportasi, atau ribet buka GPS, Anda bisa memilih ikut open trip atau mengambil paket wisata. Kalau dari Jakarta, harganya berkisar Rp 600-an ribu. Ini mencakup perjalanan 3 hari 2 malam, dimulai dari penyeberangan Merak-Bakauheni, sewa mobil dari Bakauheni-Kiluan pp, tiket kapal, tiket masuk obyek wisata, makan, dan penginapan. Cukup terjangkau.

Sementara, bagi rombongan di atas 5 orang atau perjalanan keluarga, bisa dengan kendaraan sendiri, atau sewa mobil menuju Kiluan. Sewa mobil ini gampang sekali ditemukan ketika Anda menjejakkan kaki di Pelabuhan Bakauheni. Mobil yang biasa dipakai ke lokasi berjenis APV dengan patokan harga Rp 1,2 juta untuk satu mobil berkapasitas 7 penumpang. Harga ini adalah sewa mobil Bakauheni-Kiluan-Bakauheni, BBM, dan sopir. Nantinya sopir ikut menginap di Kiluan.

Kesegaran Laguna, Berenang Mewah Alamiah Murah

Dengan akses yang agak sulit menuju Kiluan, tak heran obyek wisata di tempat ini masih relatif sepi. Bagi saya, ini menyenangkan !! Bisa berpuas diri menikmati alam tanpa harus berdesakan dengan banyak orang, bukankah itu yang kita cari dari sebuah liburan?!

Pantai Laguna bersiap memanjakan mata di awal perjalanan Anda di Kiluan.

Pantai Laguna bersiap memanjakan mata di awal perjalanan Anda di Kiluan.

Sesampainya di desa Kiluan, Anda bisa menuju homestay terlebih dahulu untuk sekedar meluruskan tulang belakang. Banyak sekali penginapan yang menyambut Anda ketika memasuki gerbang desa. Satu kamar di homestay ini rata-rata dihargai Rp 150-200 ribu, dengan fasilitas kipas angin dan kasur busa. Satu kamar cukup bisa dipakai 4-6 orang, dengan kamar mandi sharing yang terletak di bagian belakang rumah.

Meski ada warung-warung kelontong yang menjual snack atau minuman ringan, nyaris tidak ada tempat makan yang menjual makanan berat di sini. Jika mau, Anda bisa memesan pada pemilik homestay yang Anda tempati. Minta tolong untuk sekalian dimasakin makanan, harganya sekitar Rp 15-20 ribu untuk sekali makan. Karena keterbatasan lokasi yang jauh dari pusat kota, mungkin Anda tidak bisa request makanan favorit Anda. Tapi percayalah, ikan bakar, sambal, dan sayur asam di homestay jauh lebih nikmat dan nendang banget rasanya !

the lagoon

Siang hari sekitar pukul 12, Anda bisa mulai mengekplorasi Kiluan dengan mendatangi Pantai Laguna. Harga tiket masuknya Rp 5 ribu. Perlu treking sekitar 20 menit untuk naik turun bukit sebelum menemukan pantai berpasir putih keabu-abuan ini. Dan senangnya, pantai ini masih sepi !! Hollaa!!!

Puas bermain pasir, Anda bisa mulai bergeser menuju Laguna. Lagi-lagi perlu treking menaiki gugusan karang dan bebatuan yang terkadang curam. Anda harus hati-hati jangan sampai terpeleset atau malah terperosok di lubang-lubang yang ada di antara karang di sini.

Perjuangan Anda akan membuahkan hasil saat bertemu dengan laguna. Airnya bening, berwarna biru kehijauan. Karang yang membatasi laguna dan lautan membuat tempat ini bagaikan kolam renang yang priceless. Mewahnya jauh lebih mewah dibandingkan kolam renang tepi pantai ala hotel-hotel bintang lima. Anda bisa bermain air dan berenang sepuasnya di tempat ini.

Senja Terindah dan Rayuan Pulau Kelapa

Puas bermain di kawasan Laguna, saatnya beralih ke Pulau Kelapa. Letaknya sekitar 10-15 menit perjalanan naik perahu dari pantai di desa Kiluan. Anda bisa menyewa jukung penduduk dengan harga Rp 20 ribu / orang untuk pp ke Pulau Kelapa. Diantar dan dijemput sesuai jam yang diinginkan. Satu jukung bisa muat 6-8 orang, tergantung besar kecilnya perahu.

Di Pulau Kelapa, Anda akan kembali disambut hamparan pasir putih yang lebih lembut dari gula. Pasir ini terletak di sisi timur pulau, tempat perahu Anda bersandar. Di sini, Anda bisa kembali bermain pasir sesuka hati, atau snorkeling di tepi pantai, di antara air bening berwarna biru kehijauan.

Sisi timur Pulau Kelapa, tempat jukung bersandar. Pasirnya putih dengan tekstur lembut dengan berbagai kerang dan pecahan karang berserakan.

Sisi timur Pulau Kelapa, tempat jukung bersandar. Pasirnya putih dengan tekstur lembut dengan berbagai kerang dan pecahan karang berserakan.

Pasir putih yang lembut dengan berbagai macam karang dan kerang berserakan di pantainya. Ahh.. Anda yang hobi mengumpulkan kerang bisa bak menemukan surga di sini. Terkadang, Anda juga bisa menemukan bintang laut berwarna kebiruan, atau pecahan karang warna-warni dari pink, coklat, putih tulang, hijau, hingga biru berserakan di tempat ini.

Gugusan karang ini bisa ditemui di sisi utara Pulau Kelapa. Duduklah di sana dan menghadaplah ke barat saat senja tiba, lalu nikmatilah pergantian waktu yg tidak akan terlupa.

Gugusan karang ini bisa ditemui di sisi utara Pulau Kelapa. Duduklah di sana dan menghadaplah ke barat saat senja tiba, lalu nikmatilah pergantian waktu yg tidak akan terlupa.

Menjelang pergantian waktu, Anda bisa mulai bergeser ke sisi barat pulau. Cobalah menaiki karang dan duduk manis di sana untuk mulai menikmati senja. Jika cuaca bagus dan cerah, Anda dapat menyaksikan senja sempurna dengan matahari bulat yang perlahan tenggelam di cakrawala. Dengan deburan ombak yang memecah karang, serta pemandangan lautan lepas di depan Anda, pemandangan seperti apa lagi yang akan Anda nafikan?

Saat cuaca cerah, Pulau Kelapa adalah spot pilihan untuk mendapatkan senja dan sunset yang sempurna.

Saat cuaca cerah, Pulau Kelapa adalah spot pilihan untuk mendapatkan senja dan sunset yang sempurna.

Kiluan dan tarian lumba-lumba

Waktu terbaik untuk menyaksikan lumba-lumba di Kiluan adalah bulan April sampai September. Tapi jangan khawatir, kalaupun tidak datang di bulan itu, Anda tetap bisa menikmati atraksi kawanan si hitam abu-abu, asalkan bukan saat musim hujan sedang lebat-lebatnya. Beberapa nelayan yang saya temui bahkan bilang, lumba-lumba menyukai cuaca saat pergantian musim yang tidak ekstrim. Saat musim hujan beranjak ke musim kemarau, saat cuaca agak dingin, atau selepas rintik hujan sebelum matahari bersinar cerah. Katanya, itu adalah saat di mana lumba-lumba akan lebih banyak menampakkan dirinya bermain di lautan.

Bersiaplah berangkat di pagi hari, dengan menggunakan jukung milik nelayan setempat. Sekarang melihat atraksi lumba-lumba di Teluk Kiluan sudah dibanderol tiket. Harganya Rp 48 ribu, naik dari sebelumnya yang hanya Rp 28 ribu. Jukung nelayan dapat disewa seharga Rp 250 – 350 ribu, dengan kapasitas 4 orang (3 penumpang dan 1 nelayan) akan membawa ke Teluk Kiluan, sekitar satu jam perjalanan dari pantai. Di teluk itu nanti kita akan berputar-putar menemukan lokasi kawanan lumba-lumba. Kalau bukan morning person, kegiatan ini bisa dilakukan sore hari. Menikmati sunset di laut lepas sembari ditemani lumba-lumba tentu akan jadi pilihan lain yang sulit ditolak.

Bersiaplah menari bersama kawanan si hitam abu-abu.

Bersiaplah menari bersama kawanan si hitam abu-abu.

Satu per satu lumba-lumba akan muncul, seperti anak-anak kecil yang meloncat riang bersama kelompoknya. Melihat hal ini, kita yang berada di atas jukung juga tak kalah senangnya. Reaksi pertama tentu teriak gembira, kemudian langsung mengambil kamera atau ponsel untuk mengabadikan atraksi kawanan lumba-lumba. Dalam beberapa kesempatan, si lumba-lumba bahkan berenang begitu dekatnya dengan perahu kita, sekedar mengintari jukung, atau malah menyertai gerak perahu. Lupakan atraksi lumba-lumba di sirkus yang menggemaskan, karena melihat lumba-lumba menari di lautan lepas seperti ini akan jauh membuat Anda bersorak riang. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain melihat kawanan lumba-lumba bersahabat ini bermain dengan ceria di rumahnya sendiri.

Yang Tersisa dari Kiluan : Catatan Akhir Perjalanan

Perjalanan kembali ke Jakarta lebih baik dimulai setelah makan siang. Ingat perjalanan membutuhkan waktu sekitar 6-8 jam menuju Pelabuhan Bakauheni. Beruntungnya, saya mendapatkan tiket Kapal Dhama Rucitra 2. Harga tiketnya Rp 18 ribu, tapi fasilitasnya jauh berbeda dengan kapal yang saya tumpangi saat menyeberang dari Merak menuju Bakauheni beberapa hari sebelumnya. Di kapal ini tidak ada pembagian kelas, tapi tempat duduk, tempat tidur susun, atau fasilitas lainnya jauh lebih baik dan sangat manusiawi.

It's done !!!

It’s done !!!

Waktu menunjukkan sekitar pukul 11 malam saat saya tiba di Pelabuhan Merak, saatnya kembali ke rutinitas dan penatnya ibukota. Tinggal jalan menuju parkiran di depan pelabuhan, kita bisa memilih bus menuju Jakarta. Ngetemnya memang agak lama, tarifnya Rp 40 ribu, lebih mahal dibandingkan harga dari Jakarta menuju Merak. Alternatif lainnya diantar mobil dari pelabuhan menuju kawasan Slipi, mirip carter jika kita pergi rombongan, dengan dikenai biaya Rp 40-50 ribu per orang.

Liburan singkat ke Teluk Kiluan mungkin sudah selesai, tapi cerita tentang tarian lumba-lumba tentu tidak akan pudar begitu saja. Indonesia indah dengan segala kekayaan alamnya. Lalu, kemana lagi perjalananan kita berikutnya??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s